Takodok!

Archive for December, 2008

Bumi Aku

In Uncategorized on December 31, 2008 at 8:52 pm

Ibarat bumi yang berhenti berotasi,
satu sisi selalu dipeluk gelap, sisi lain senantiasa dibakar matahari.
Dingin… sekaligus gersang.

Itu aku. Hatiku.
Yang terlalu terpaku pada satu bidang semu.
Diam. Terbebat lilitan sulur imajinasi, yang sayangnya… semu.
Bahagia semu.
Sedih semu, tapi perihnya benar ada.

Itu aku.
Hatiku.
Separuh dingin menantikan hangat cahaya.
Separuh gersang merindukan damai gelap.

Itu aku.
Hatiku.
Menanti, merindu.
Terbebat jadi satu, dingin.. dan gersang.

-4 Muharram 1430 H-

Tag Bergambar

In D Private on December 22, 2008 at 2:30 pm

Peringatan dan perhatian : Banyak gambar! Pakir benwit waspadalah! :mrgreen:

Lagi-lagi tentang tag-mentag. Seperti biasa, liatnya di tempat pepito. Iya ih cin, asik dan lucu :) Mari kita mulai saja ;) Yuk mari yuk

Superb Dankyu!

In D Healthy, D Private on December 20, 2008 at 10:23 pm

~Peringatan dan perhatian : Postingan panjaaaaannnggggg, berbumbu narsis, dan serius-tidak serius~

Beberapa bulan belakangan ini saya punya kebiasaan menyebalkan, tidur tak nyenyak. Tiap berapa jam pasti terbangun. Kadang bisa tidur lagi, kadang tidak. Dibilang insomnia, ndak juga sih. Toh kalo dipaksakan saya masih bisa tidur kok, walau pikiran tetap “terjaga”. Lalu?

Terprovokasi Bicara Cinta

In D Plus, D Private on December 17, 2008 at 11:26 am

Betul, akhirnya saya terprovokasi oleh sabda mas ini dan tante itu. Terprovokasi untuk melontarkan topik yang serupa tapi tak sama. Topik apakah itu?

Hey, You! Obrigado!

In D Private on December 15, 2008 at 3:26 pm

inspiration1

-Inspiration-*

Pernahkah kamu merasa tertohok kecil, tak berarti, dan tak ada apa-apanya ketika membaca tulisan orang lain?
Saya pernah. Beberapa kali. Mungkin sering.

Setelah perasaan “kecil” tadi berlalu, apa yang kamu rasakan? Putus asa? Tak pede menulis lagi? Atau malah terpacu?
Saya seringnya sih merasa sedikit terinspirasi. Besoknya lupa :mrgreen: Memang manusia bebal saya ini..

Nah, kali ini saya tetap saja tak mau berharap muluk-muluk pada diri sendiri. Terlalu sering gagal. Lebih baik berjalan apa adanya.

Lantas, kenapa saya tuliskan disini? Katanya tak mau berekspektasi lagi?
Begini, walau tidak yakin pada diri sendiri, tapi perasaan “tercerahkan” itu tetap membekas. Sebenarnya apa yang saya baca tidak sangat luar biasa, tapi timing-nya (mungkin) tepat. Itulah sebabnya tulisan ini sampai tercipta, sebagai bentuk apresiasi terhadap “pencerah” saya itu.

Saya sedang membicarakan apa? Siapa?
Beberapa tulisan, di blog tentunya. Penulisnya? Ah, tak usah tau lah ya, biar tetap mengendap di hati dan otak saya, lalu yang terlihat tindakan nyatanya saja ;)

Tuh kan.. berharap lagi :|

Tapi rasanya wajar saja saya kembali berharap karena ini menyangkut mimpi dan cita-cita. Sudahlah. Sampai jumpa lagi saja. Selamat tengah hari! :)

*Gambar hasil gugling dengan keyword 'inspiration'.

Berbuat Baik Itu.. Sulit Ya?

In D Commento on December 11, 2008 at 3:27 pm

Percaya tidak, berbagi kasih, cinta dan kebaikan itu membuat kita bahagia? Tak heran banyak pihak yang berlomba-lomba berbuat “kebaikan” ;)

random-acts-of-kindness

Sudah lama saya ingin mengomentari hal-hal semacam ini. Sewaktu pemberitaan tragedi zakat di Pasuruan, masyarakat yang antre di depan rumah pejabat saat Idul Fitri karena berhembus kabar si pejabat akan bagi-bagi “THR”, sampai yang baru-baru ini terjadi, antri pembagian daging kurban, yang kisruh maupun yang berjalan lancar.

Inti permasalahannya menurut saya sama : lemahnya Budaya Antri dan kuatnya Budaya Gratisan. Dimana ada kabar ada pembagian sembako gratis lah, thr lah, kaos lah, apapun yang gratis, pasti akan ada saja yang berbondong-bondong datang, walau kebenaran beritanya masih belum jelas (seperti antrian di rumah wapres saat Idul Fitri lalu).

Uang/barang/daging yang dibagikan tak seberapa, tapi kok ya mau-maunya ngotot berebut seperti itu..

Ya, komentar semacam itu pernah terbersit di benak saya. Tapi suara lain di otak saya bilang, “Des, kamu kan ndak tau perasaan orang yang belum pernah makan daging karna ndak mampu beli, belum pernah megang uang lebih dari 30 ribu sehari, pakaian baru saat Hari Raya cuma mimpi, atau lebih memilih ngelem ketimbang makan karna sudah sangat ketagihan.. Kamu ndak tau kan? Berempati kamu bisa, tapi yang seberapa kuat motivasi untuk berbuat ‘hal (yang menurutmu) konyol’ kamu ndak tau. Jangan keburu menghakimi!”

Degradasi moral kah? Sebegitu parahnya kah dampak kemiskinan? Atau.. ah tak tau lah saya. Sampai saat ini, saya cuma bisa miris :(

Di sisi yang berbeda, ada para pemberi/donatur/si kaya (terserah istilahnya). Untuk pihak ini, saya sempat berpikiran negatif ;

Kalo mau berbuat baik/sedekah/zakat jangan riya’ dong! Apa salahnya sih kalo zakatnya/sedekahnya diantarkan saja ke rumah masing-masing fakir miskin. Perkara sulitnya sarana, ya ampun.. ente kan kaya! Jumlah yang disedekahkan berkurang  gpp asal jangan jadi kisruh dan malah menimbulkan korban! Bayar orang kek untuk meng-organize, kalo perlu sewa EO! :P

Itu murni komentar spontan, yang rasanya juga kurang tepat, main emosi sih :mrgreen: Nyatanya, memang tak segampang itu. Tidak semua orang yang mau berbuat tahu bagaimana menyalurkan kebaikannya dengan baik dan benar. Tidak semua orang juga perduli bagaimana menyalurkan “kebaikan”nya dengan sungguh baik dan benar. Bahkan, ada yang sudah berusaha dengan cara benar, tapi hasilnya kurang baik (di mata orang lain).

Tuh.. berbuat baik itu.. sulit ya? Karena niat saja, belum tentu cukup. Untuk berbuat baik pun kadang perlu “ilmu”. OKI, saya menyarankan bila ada yang akan menyelenggarakan kegiatan amal, tolong diatur sedemikian rupa. Bila belum mampu, bisa serahkan saja pada pihak yang lebih berkompeten. Saya belum tau pasti, tapi kan ada tuh Rumah Zakat yang menyalurkan daging kurban yang telah diolah. Pun memang ingin menyelenggarakan sendiri, sekali lagi ya pelaksanaannya bisa lebih tertib. Sewa aparat banyak-banyak kalo perlu :mrgreen:

Selayang

In Uncategorized on December 10, 2008 at 5:54 pm

Bila menyatakan cinta sesulit meng-update blog, wajar saja blogmu seberantakan kisah cintamu!

ps. Postingan coba-coba menggunakan fitur QuickPress. Daripada ndak ada je! :P

Ocehan Si Mbot : Gilanya Orang Kantoran

In D Commento, D Reviews on December 3, 2008 at 4:37 pm
ocehan si mbot7

Ocehan Si Mbot : Gilanya Orang Kantoran

 

Satu lagi buku yang dibuat dari blog, blog yang di-buku-kan, apa pun istilahnya deh :mrgreen: Yang diceritakan adalah keseharian penulis sendiri, juga pikiran dan tindakan-tindakan “ajaib” yang bersangkutan dari rumah, “nguping by accident” di tangga darurat, acara kantor, sampai pengokot! :lol: Jadi, Tidak banyak yang bisa saya ceritakan disini, mending baca sendiri aja deh :)

Saya pribadi sangat terhibur, kadang mesem-mesem “tertohok” sewaktu membacanya. Yah.. dapet semacam pencerahan lah tentang bagaimana prilaku sebenarnya orang kantoran itu. Lumayan, bekal mengarungi masa depan nanti :lol:

Ingin tahu lebih lanjut tentang penulis? (Yang sumpah, saya baru tau blognya setelah baca buku ini :mrgreen: ) Klik ke mbot.multiply.com saja. Recommended deh, salah satu buku-blog yang saya suka selain Drunken Monster-Molen-nya Pidi Baiq.

Oyah, saya beli buku ini juga by accident ketika iseng mencigok2  deretan New Arrival di Gramedia. Tertarik dengan cover dan gambar kartunnya sebenernya.. jadi, sapa bilang Don’t Judge A Book By It’s Cover, eh?! Justru cover itu krusial, seperti yang saya tangkap ketika membaca Blink-nya Malcolm Gladwell.

Eh, ngelantur ya? Ok. Itu topik berikutnya. Blink. Kalo inget :mrgreen: