Percaya tidak, berbagi kasih, cinta dan kebaikan itu membuat kita bahagia? Tak heran banyak pihak yang berlomba-lomba berbuat “kebaikan”
Sudah lama saya ingin mengomentari hal-hal semacam ini. Sewaktu pemberitaan tragedi zakat di Pasuruan, masyarakat yang antre di depan rumah pejabat saat Idul Fitri karena berhembus kabar si pejabat akan bagi-bagi “THR”, sampai yang baru-baru ini terjadi, antri pembagian daging kurban, yang kisruh maupun yang berjalan lancar.
Inti permasalahannya menurut saya sama :lemahnyaBudaya Antridan kuatnya Budaya Gratisan. Dimana ada kabar ada pembagian sembako gratis lah, thr lah, kaos lah, apapun yang gratis, pasti akan ada saja yang berbondong-bondong datang, walau kebenaran beritanya masih belum jelas (seperti antrian di rumah wapres saat Idul Fitri lalu).
Uang/barang/daging yang dibagikan tak seberapa, tapi kok ya mau-maunya ngotot berebut seperti itu..
Ya, komentar semacam itu pernah terbersit di benak saya. Tapi suara lain di otak saya bilang, “Des, kamu kan ndak tau perasaan orang yang belum pernah makan daging karna ndak mampu beli, belum pernah megang uang lebih dari 30 ribu sehari, pakaian baru saat Hari Raya cuma mimpi, atau lebih memilih ngelem ketimbang makan karna sudah sangat ketagihan.. Kamu ndak tau kan? Berempati kamu bisa, tapi yang seberapa kuat motivasi untuk berbuat ‘hal (yang menurutmu) konyol’ kamu ndak tau. Jangan keburu menghakimi!”
Degradasi moral kah? Sebegitu parahnya kah dampak kemiskinan? Atau.. ah tak tau lah saya. Sampai saat ini, saya cuma bisa miris
Di sisi yang berbeda, ada para pemberi/donatur/si kaya (terserah istilahnya). Untuk pihak ini, saya sempat berpikiran negatif ;
Kalo mau berbuat baik/sedekah/zakat jangan riya’ dong! Apa salahnya sih kalo zakatnya/sedekahnya diantarkan saja ke rumah masing-masing fakir miskin. Perkara sulitnya sarana, ya ampun.. ente kan kaya! Jumlah yang disedekahkan berkurang gpp asal jangan jadi kisruh dan malah menimbulkan korban! Bayar orang kek untuk meng-organize, kalo perlu sewa EO!
Itu murni komentar spontan, yang rasanya juga kurang tepat, main emosi sih Nyatanya, memang tak segampang itu. Tidak semua orang yang mau berbuat tahu bagaimana menyalurkan kebaikannya dengan baik dan benar. Tidak semua orang juga perduli bagaimana menyalurkan “kebaikan”nya dengan sungguh baik dan benar. Bahkan, ada yang sudah berusaha dengan cara benar, tapi hasilnya kurang baik (di mata orang lain).
Tuh.. berbuat baik itu.. sulit ya? Karena niat saja, belum tentu cukup. Untuk berbuat baik pun kadang perlu “ilmu”. OKI, saya menyarankan bila ada yang akan menyelenggarakan kegiatan amal, tolong diatur sedemikian rupa. Bila belum mampu, bisa serahkan saja pada pihak yang lebih berkompeten. Saya belum tau pasti, tapi kan ada tuh Rumah Zakat yang menyalurkan daging kurban yang telah diolah. Pun memang ingin menyelenggarakan sendiri, sekali lagi ya pelaksanaannya bisa lebih tertib. Sewa aparat banyak-banyak kalo perlu
What will you find here?
Daily. Mood. Books. Trip. Sometimes about drugs or healthy (but rarely i guess :P )
Thanks for coming here, and i hope you'll enjoy it ;)
semi-serius, idul adha, zakat, berbuat baik
Berbuat Baik Itu.. Sulit Ya?
In D Commento on December 11, 2008 at 3:27 pmPercaya tidak, berbagi kasih, cinta dan kebaikan itu membuat kita bahagia? Tak heran banyak pihak yang berlomba-lomba berbuat “kebaikan”
Sudah lama saya ingin mengomentari hal-hal semacam ini. Sewaktu pemberitaan tragedi zakat di Pasuruan, masyarakat yang antre di depan rumah pejabat saat Idul Fitri karena berhembus kabar si pejabat akan bagi-bagi “THR”, sampai yang baru-baru ini terjadi, antri pembagian daging kurban, yang kisruh maupun yang berjalan lancar.
Inti permasalahannya menurut saya sama : lemahnya Budaya Antri dan kuatnya Budaya Gratisan. Dimana ada kabar ada pembagian sembako gratis lah, thr lah, kaos lah, apapun yang gratis, pasti akan ada saja yang berbondong-bondong datang, walau kebenaran beritanya masih belum jelas (seperti antrian di rumah wapres saat Idul Fitri lalu).
Ya, komentar semacam itu pernah terbersit di benak saya. Tapi suara lain di otak saya bilang, “Des, kamu kan ndak tau perasaan orang yang belum pernah makan daging karna ndak mampu beli, belum pernah megang uang lebih dari 30 ribu sehari, pakaian baru saat Hari Raya cuma mimpi, atau lebih memilih ngelem ketimbang makan karna sudah sangat ketagihan.. Kamu ndak tau kan? Berempati kamu bisa, tapi yang seberapa kuat motivasi untuk berbuat ‘hal (yang menurutmu) konyol’ kamu ndak tau. Jangan keburu menghakimi!”
Degradasi moral kah? Sebegitu parahnya kah dampak kemiskinan? Atau.. ah tak tau lah saya. Sampai saat ini, saya cuma bisa miris
Di sisi yang berbeda, ada para pemberi/donatur/si kaya (terserah istilahnya). Untuk pihak ini, saya sempat berpikiran negatif ;
Itu murni komentar spontan, yang rasanya juga kurang tepat, main emosi sih
Nyatanya, memang tak segampang itu. Tidak semua orang yang mau berbuat tahu bagaimana menyalurkan kebaikannya dengan baik dan benar. Tidak semua orang juga perduli bagaimana menyalurkan “kebaikan”nya dengan sungguh baik dan benar. Bahkan, ada yang sudah berusaha dengan cara benar, tapi hasilnya kurang baik (di mata orang lain).
Tuh.. berbuat baik itu.. sulit ya? Karena niat saja, belum tentu cukup. Untuk berbuat baik pun kadang perlu “ilmu”. OKI, saya menyarankan bila ada yang akan menyelenggarakan kegiatan amal, tolong diatur sedemikian rupa. Bila belum mampu, bisa serahkan saja pada pihak yang lebih berkompeten. Saya belum tau pasti, tapi kan ada tuh Rumah Zakat yang menyalurkan daging kurban yang telah diolah. Pun memang ingin menyelenggarakan sendiri, sekali lagi ya pelaksanaannya bisa lebih tertib. Sewa aparat banyak-banyak kalo perlu
…