Ibarat bumi yang berhenti berotasi,
satu sisi selalu dipeluk gelap, sisi lain senantiasa dibakar matahari.
Dingin… sekaligus gersang.
Itu aku. Hatiku.
Yang terlalu terpaku pada satu bidang semu.
Diam. Terbebat lilitan sulur imajinasi, yang sayangnya… semu.
Bahagia semu.
Sedih semu, tapi perihnya benar ada.
Itu aku.
Hatiku.
Separuh dingin menantikan hangat cahaya.
Separuh gersang merindukan damai gelap.
Itu aku.
Hatiku.
Menanti, merindu.
Terbebat jadi satu, dingin.. dan gersang.
-4 Muharram 1430 H-
