Jangan Percaya Pada Cermin!
~Cermin hanyalah cermin, yang merefleksikan apa yang kau mau[*]~

Jika Ibu Tiri Jahat Hati tidak ambil pusing terhadap omongan Cermin Terhebat di Dunia, ia tidak akan kehilangan kekuasaannya secara memalukan. Putri Salju hanya akan jadi seorang putri biasa yang kebetulan cantik luar biasa.
Apa masalahnya jika tidak menjadi cantik nomor satu di dunia (yang sangat absurd karena parameternya tak jelas sedang katanya cantik itu relatif)? Toh si Cermin tak bilang Putri Salju cantik nomor satu sekaligus pintar. Kalau si Putri pintar, tentu ia tidak akan semudah itu diperdaya sampai dua kali ; dibuang ke tengah hutan dan sembarangan menerima makanan dari orang asing padahal kan mama sudah bilang jangan terima apapun dari orang tak dikenal
Ah, jaman dulu memang sifat baik hati yang murni masih ada dan kepercayaan terhadap orang lain pun masih tinggi. Andai si Putri Salju rajin menonton sinetron dan Buser, mungkin kepolosannya akan sedikit tercemari
Andai si Ibu Tiri tidak mempercayai bualan (kedua) si Cermin, mungkin ia tetap jadi Ratu Hebat dan si Putri Salju hanyalah gadis hutan yang hidup rukun (?) dengan 7 kurcaci. Andai pun sang Pangeran bertemu dengan si Putri, dalam keadaan hidup tentu saja, mungkin ia tetap jatuh hati pada si Putri, mungkin juga tidak karena efek dramatis kematian tidak ada. Ia cukup meminangnya sambil berlutut and she absolutely will say yes. Tidak terlalu menantang kan?
Tidak ada naga yang perlu dibasmi, menara yang harus dipanjat, saudara tiri yang sirik, atau orang tua si gadis yang tidak setuju. Ketujuh kurcaci dengan senang hati akan melepas si Putri dan diam-diam merasa terlepas dari beban (ya iyalah, kerja dia gak bisa eh..malahan seenaknya mengambil jatah tempat tidur. Pemborosan ruang!).
Jika sejak awal Ibu Tiri tidak mempercayai si cermin bodoh, dongeng klasik di atas tidak akan menarik untuk dinikmati oleh saya versi dulu (dan mungkin beberapa dari Anda). Apa menariknya cerita biasa-biasa tentang putri biasa (walau cantik, toh saya tidak terlalu tertarik pada cewek cantik. Kalau cogan sih iya. Banget
) yang hidup damai sentausa serba pas-pasan di tengah hutan. Cerita yang itu tidak terlalu berbeda dengan kehidupan saya kok (minus di tengah hutan tapi..).
Sebaliknya, dengan alur cerita versi “normal” tsb saya sekarang bisa menarik pelajaran bahwa cermin hanyalah cermin. Benda mati yang bisa merefleksikan semuanya secara gamblang, tapi yang bisa dilihat bergantung pada apa yang ingin saya lihat dan tingkat kepercayaan pada si cermin.
Cermin bisa buram karena jarang dibersihkan sehingga jerawat dan bopeng pada wajah tidak terlihat jelas. Maka saya bisa percaya bahwa saya cantik.
Cermin ada yang berlensa cekung sehingga bayangan yang timbul lebih slim daripada aslinya. Maka saya akan percaya bahwa saya sudah sedikit lebih kurus.
Posisi cermin pun bisa diatur sedemikian rupa sehingga saya yang pendek terlihat pantas memakai celana model X.
Cermin yang bersih dan bening bisa membuat saya gusar karena mementahkan tiga bayangan di atas. Ia memang apa adanya tapi saya belum siap menelan kenyataan yang dijorokkan secara paksa untuk saya telan bulat-bulat. Bisa-bisa saya tersedak lalu mati. Suatu akhir yang menyedihkan untuk dongeng hidup saya
Oleh karena itu, bagi saya cermin hanyalah cermin[**]. Ia (mungkin) memaparkan kenyataan walau (mungkin) bukan apa yang ingin saya lihat, then.. so what? Terserah saya dong mau percaya atau tidak. Terlepas benar atau salah, nyata atau semu, yang terpenting adalah kebahagiaan saya.
Egois? Betul. Setidaknya saya jujur untuk yang satu ini
Cermin yang bening, maaf karena engkau telah ku pecahkan. Meski begitu, ketika nanti aku ingin melihat apa yang tadinya tak ingin ku lihat, aku akan kembali padamu. Walau telah pecah, serpihanmu pun masih sanggup menampilkan bayangan seperti saat kau masih utuh, hanya saja dalam versi beberapa bagian terpisah. Mungkin itu lebih baik, karena aku nantinya hanya akan melihat sebagian “kesalahan” dariku. Bisa gila kalau semua salah ditimpakan padaku dalam satu waktu!
Jangan-jangan aku memang sudah gila karena berbicara pada benda mati…
[*] = pernyataan aneh yang mungkin bisa dipahami di bagian akhir tulisan.
[**] = cermin dalam artian harfiah dan kiasan.

percaya ga percaya, cermin fungsinya buat jadi refleksi diri..
jadi, biar bisa jadi alat bagi kita biar nyadar..
It is, Billy.
)
Tapi kalo orangnya menolak utk sadar? Maka buruk muka cermin dibelah. Kasihan cerminnya… (Lg2 cermin secara harfiah dan kiasan
Yg mana sih cogan yg lagi diincer mbak desti???
|
|
V
Di tulisan ini yg penting yg ini…
Serius dikit…
Ketika kita “bercermin”, bila kebetulan yg terlihat ialah bayangan yang anggun rupawan dari objek, maka pasti kita akan senantiasa terus bercermin.
Tapi, masih berani kah kita bila bayangan yg muncul ialah sesuatu makhluk buruk rupa yg menatap tajam si objek??
Sok ngerti ah. Huhu..
Can’t put it better.
Cermin hanya melihat kita sekarang dan dulu. bukan potensi diri kita.
Kalimat terakhir, aku pernyataan itu terlalu naif.
*berlalu*
ralat aku kira pernyataan itu terlalu naif.
ya, karena bukankah setiap kita merupa cermin bagi yang lain?
jadi bersihkan diri agar kita dapat menjadi cermin yang jernih bagi mereka yang memandang ke dalamnya
love this post!
mirror mirror on the wall?
who is the prettiest girl in the world?
me?
*tertawa sinting*
bercermin pun harus jujur pada diri sendiri Des, IMHO
ah cermin tetap lah cermin… saya hanya menggunakannya untuk berdandan.. selebihnya, saya lebih suka membiarkan cermin itu sendirian
berlama-lama menatap cermin memang membawa dampak buruk
@adit-nya niez
pasti deh nanya ke arah situ terus
seperti di film-film horor itu? Makanya jangan sering-sering bercermin
Dua kemungkinan : kaca dipecahkan atau tidak berkaca seumur hidup karena trauma. Kemungkinan kedua pun bercabang dua; memoles diri agar bayangan membaikt atau cuek dan antipati pada cermin
@dnial
oh, selain egois, naif juga ya? Benar-benar kasihan
Soal potensi, cerminnya arti harfiah dan kiasan lho
@hanny
ya, itu memang usaha terbaik yang bisa dilakukan untuk orang lain, menjadi cermin yang bening
Tengkyu sudah mampir
@itikkecil
kadang saya ogah jujur mbak, menipu sendiri memang
@Chic
narsis akut mah kalo ngaca terus
Cermin….
cuma orang -orang narsis berlebih yang suka bahkan ketagihan buat terus bercermin.
Dirimu dan diriku narsis nga ya? Wakakaka….
A ‘lil bit I guess na
saya jarang bercermin !!
*entah terlalu pede atau terlampau bosan memandang wajah yang aneh dalam cermin itu*
postingannya menarik…
cermin….bagaimana kalo bercermin dengan mengenakan topeng ? ironic.. ??
*meracau…kabur ah…* hehehehe
salam kenal yah…
http://frozenmenye2.wordpress.com
sepertinya peribahasa yang lebih tepat adalah ‘Buruk muka cermin dipecah/dibanting’. Terlalu merepotkan membelah sebuah cermin kecuali cermin itu terbuat dari kayu tapi jika cermin itu terbuat dari kayu maka tidak akan dapat digunakan untuk bercermin sebab permukaan kayu … *ribet, dilempar cermin*
kalo saya sih, gak pecaya sama cermin….
saya pecaya-nya sama Allah…
*kabuuuurrrrrrrrrr……….
*
@warm
seaneh apa sih om? hehehe
@frozenmenye2
yah.. bayangan dari topeng lah yang terlihat
salam kenal jg
@TamaGO
mari tanyakan pada tukang kayu…
@yoan
oh, kalo itu memang harus
aq + in yah jangan pernah bercermin pada kegagalan percayalah semua pasti udah ditentukan ,bercerminlah pada kemenangan karna itu adalah sebuah kenyataaan