Makin bertambah umur, makin akrab dengan makna kehilangan. Bisa jadi karena orang dewasa lebih mengerti “kerugian” yang timbul akibat kehilangan daripada anak kecil. Kalau ditanya siapa orang yang paling tidak ingin kau lepaskan? Tentu jawaban pertama adalah keluarga; ayah, ibu, adik-adik. Kemudian ada teman dan pasangan yang senantiasa “merecoki” kehidupan sehari-hari kita. Ketika ditanya lebih jauh, siapa yang paliiiingggg tidak ingin kau lepaskan? Maka kebingungan mulai melanda. Apalagi ditambah embel-embel “tapi ternyata mereka pergi juga”.
Teman datang dan pergi. Kadang bukan karena mereka suka, tetapi karena jalan sudah tak bersisian lagi. Setamat sekolah yang satu melancong ke sana, yang lain melenting ke sana kemari. Hubungan tetap baik meski tidak seintensif sebelumnya. Tak apa. Yang penting tidak backstabbing berantem.
Pasangan, bila sudah tercapai masa kadaluarsanya, maka ia kemungkinan akan jadi lebih asing, sampai masa tertentu. Lalu kita akan mencapai titik pemahaman untuk tidak saling mengganggu teritori masing-masing. (lo kata gangster?!)
Maka hubungan yang tidak bisa ditiadakan adalah hubungan darah. Sejauh apapun hatimu dari keluarga, akan tetap ada “kewajiban-kewajiban” yang mengharuskanmu kembali pada mereka. Hanya takdir yang bisa memisahkan kalian.
Kedua nenek saya pergi ketika saya masih belum bisa jadi apa-apa. Sampai saat ini itulah salah dua penyesalan terbesar. Waktu bertindak kejam karena saya sering mengabaikannya. Nampaknya usaha terbesar manusia adalah berdamai dengan penyesalan-penyesalan yang ditimbulkan kebodohannya sendiri…
Waktu terus mengalir, orang datang dan pergi, tapi kenangan bertahan abadi. Tinggalkan sejarah dalam hidup kita, semangat mbak!
soal itu, ada banyak penyesalan juga di diri saya. tapi saya tak mungkin bisa memutar waktu kembali…..
perjalanan indah yang jadi kenangan, suka dan duka sebagai penghias, hingga dengan usaha untuk mncapai tujuan

semoga kita bisa mempergunakan waktu kita bersama mereka yang kita sayangi dan mereka yang menyayangi kita dengan sebaik-baiknya
semoga kita bisa membahagiakan keluarga kita
Waktu terus melaju supaya kita dapat menghargainya.
berada di masa akan mengalami perpisahan lagi. tapi nggak apa apa, karena toh orang datang dan pergi di kehidupan kita
kejarlah waktu, karena setiap saat waktu akan mengejarmu..
hidup itu kaya siklus hidupnya bakteri… *nyeruput teh di beranda*
hai Desti!
Kok suka ya sama postingan ini. Seren, Kis!
Blogwalking.. blog elegan dengan kesan putih, rapi dan teratur.. Salam..
….waktu jadi semakin berharga untuk dimanfaatkan.
Dan perpisahan yang terpahit adalah perpisahan dengan orang yang kita sayangi di dunia(keluarga)
hal yang sama saya rasakan karena kakek kesayangan saya berpulang waktu umur saya 18 tahun. kalau sekarang masih ada, mau saya ajakin makan bubur deket pasar..
waktu… buat saya penuh dengan misteri
Time goes by, but the consecutive post stops at nine :p
ah… kangen desti..
*lama sekali tidak ngeblog dan blogwalking*
Lama ga berkunjung dan melihat perabotan rumahnay desti,….. ada sedikit perubahan (faktor usia)….. hihihihihi…………
Pemaknaan waktu dan ornamen yang dilalui waktu,…. akan selalu membedakan persepsi…….