Tags

,

Makin bertambah umur, makin akrab dengan makna kehilangan. Bisa jadi karena orang dewasa lebih mengerti “kerugian” yang timbul akibat kehilangan daripada anak kecil. Kalau ditanya siapa orang yang paling tidak ingin kau lepaskan? Tentu jawaban pertama adalah keluarga; ayah, ibu, adik-adik. Kemudian ada teman dan pasangan yang senantiasa “merecoki” kehidupan sehari-hari kita. Ketika ditanya lebih jauh, siapa yang paliiiingggg tidak ingin kau lepaskan? Maka kebingungan mulai melanda. Apalagi ditambah embel-embel “tapi ternyata mereka pergi juga”.

Teman datang dan pergi. Kadang bukan karena mereka suka, tetapi karena jalan sudah tak bersisian lagi. Setamat sekolah yang satu melancong ke sana, yang lain melenting ke sana kemari. Hubungan tetap baik meski tidak seintensif sebelumnya. Tak apa. Yang penting tidak backstabbing berantem.

Pasangan, bila sudah tercapai masa kadaluarsanya, maka ia kemungkinan akan jadi lebih asing, sampai masa tertentu. Lalu kita akan mencapai titik pemahaman untuk tidak saling mengganggu teritori masing-masing. (lo kata gangster?!) :mrgreen:

Maka hubungan yang tidak bisa ditiadakan adalah hubungan darah. Sejauh apapun hatimu dari keluarga, akan tetap ada “kewajiban-kewajiban” yang mengharuskanmu kembali pada mereka. Hanya takdir yang bisa memisahkan kalian.

Kedua nenek saya pergi ketika saya masih belum bisa jadi apa-apa. Sampai saat ini itulah salah dua penyesalan terbesar. Waktu bertindak kejam karena saya sering mengabaikannya. Nampaknya usaha terbesar manusia adalah berdamai dengan penyesalan-penyesalan yang ditimbulkan kebodohannya sendiri…

Advertisement