Di Catatan Takodok

Sekerat Cerita Penanda

Semua Salah Abang Es Krim!

Saya punya kecenderungan untuk tidak belanja bulanan di swalayan besar. Kalaupun kebetulan masuk ke salah satunya, itu hanya keisengan semata. Memperhatikan label produk, daftar nutrisi, atau sekedar mengacak-acak tumpukan barang bagi saya  adalah sebentuk kebahagiaan sederhana. Percaya kan? :mrgreen:

Biasanya saya sekedar membeli mana yang persediaannya menipis di warung terdekat. Lebih boros? Saya rasa tidak. Toh bukan di pos ini pengeluaran harus ditekan. Yang paling menyita biaya adalah harga sosialisasi nan impulsif (“Bosan nih, nongkrong yuk!”).

Alasan lain, berbagi rejeki pada yang paling dekat. Kalau harganya cuma beda 500 perak ngapain jauh-jauh ke pusat kota cuma demi odol? Sambil belanja juga bisa update gosip ngobrol sedikit, hitung-hitung mengasah kemampuan komunikasi verbal yang makin menyusut.

Perkara lain yang hampir mirip adalah es krim yang dijual 500 meter dari rumah. Siang itu sedang panas terik dan kepala juga masih pusing akibat pola tidur yang kacau. Makin malas lah saya keluar rumah. Tiba-tiba lewat abang penjaja eskrim tenonet nonet beli dong beli dong abang udah capek dorong (i got this somewhere in twitterland :lol: ). Ya sudah. Saya beli saja. Harganya 20% lebih mahal. Naluri pelit hampir mendorong saya untuk bilang, “Gak jadi ah bang!”. Tapi sepintas lirik ke muka abang penjaja es krimnya saja saya langsung beli duaaaaaaaa *keplak Ayu Tingting*

Selain memang doyan, saya teringat sesuatu *tsaaaaahhhh*. Kerja itu susah maimen. Kerja door to door/ keliling kompleks termasuk. Entah sales panci, karet tabung gas, gorden, hiasan dinding, tikar, lemari (iya saya pernah liat ada yang angkut-angkut lemari keliling kok. Tidak terlampau besar memang, tapi keliatan berat), rak sepatu, sampai segala macam barang yang mungkin tidak orang butuhkan (saya pernah ditawari sejenis sendok besar yang entah untuk apa kegunaannya). Dan si abang es krim ini sungguh teduh mukanya. Maka terjadilah transaksi yang sah dan didasari keikhlasan. Maksudnya saya ikhlas banget yumyum dua cup es krim sambil ngomentarin pesulap yang kelebihan energi *ups* :evil:

Eh, jangan nuduh saya beli karena kasihan. Dari Downtown Abbey saya belajar bahwa menghargai pekerjaan seseorang, betapapun konyol menurut kita, adalah keharusan. Ada yang sudah nonton? Belum? Aduh. Baiklah. Di salah satu adegan, seorang calon bangsawan berkonsultasi kepada Lord Gratham (bangsawan pendahulu) mengenai valet-nya (pelayan pribadi). Si calon bangsawan ingin memberhentikan valet tsb karena menurutnya ia tidak membutuhkannya. Lalu Lord Gratham balik bertanya,

“Jika kau jadi penerusku nanti, berapa banyak pelayan di rumah ini yang akan kau pecat karena menganggap tugas mereka tidak signifikan? Seorang Lord harus memahami setiap orang mempunyai tugas masing-masing dan kepuasan menjalankannya adalah kehormatan tak terkira.”

Seandainya beberapa pihak juga memegang salah satu prinsip Lord Gratham bahwa pekerjaan adalah kehormatan mereka, saya yakin tidaklah serumit ini pengurusan beberapa hal *sigh*

Dan seandainya semua orang paham bahwa masing-masing pekerjaan adalah sama berharganya bagi tiap orang, mungkin mereka akan lebih menghargai sesama manusia dan tidak mempersulit orang lain *sigh*

Iya, ini curhat berbudaya yang sangat sopan. KAN? Tapi berbahaya karena terlalu banyak mengandung unsur “seandainya”. KAN?! Semua salah abang es krim!

Baiklah. Cukup sekian dan terima pitih.

7 comments on “Semua Salah Abang Es Krim!

  1. evillya
    May 6, 2012

    semua salah abang es krim dan takodok! aku kan jadi pingin beli jugak! #eh

    iya juga sih, entah kenapa mindset beli jajan mesti ke minimarket padahal ada warung yang lebih dekat.

  2. udarian
    May 6, 2012

    lalu kenapa nyalah-nyalahin tukang es krim ?

    Downtown Abbey haduh belom nonton nih. mintaaaa :D

  3. manggihmudo
    May 7, 2012

    tulisan bagian akhirnya kok malah mengingatkan amy ke orang bir* di kampus ya kak?? :D

  4. emfajaar
    May 9, 2012

    jadi dimana salah abang es krimnya :))

  5. warm
    May 9, 2012

    itu apa hubungannya ama tukang es,
    yang makan dua itu kan Lord desti *eh

  6. Juminten
    May 9, 2012

    Hahaha… Aku jg pernah gitu. Beli nasi goreng karena kasian sama yg jualan. Eh tp ini emang karena kasian, sih. Kalo menghargai, itu mungkin alasan nomer 2. Hehehe… ;P

  7. Takodok!
    May 9, 2012

    @ evillya
    ke minimarket mungkin karena mikir “ah sekalian belanja banyak ini, hitungannya jadi lebih murah.” padahal belum tentu.
    Atau karena penataannya lebih menarik?

    @udarian
    ya nanti aku bawain downtown abbey-nya. Tapi kayaknya bukan selera rian sih :D

    @ manggihmudo
    ah itu kan perasaan dik ami saja ;)

    @ emfajaar
    di mana ya? Hmmm.. mungkin karen jadi trigger renungan saya hari itu? :mrgreen:

    @ warm
    Lady Dok, om. Lady Dok. :lol:

    @ Juminten
    aku juga pernah. Tapi ga serta merta barang yang dibeli terus ga dipake atau malah dibuang. Menurutku itu ga menghargai (karena pernah ada kenalan yang begitu). Mubazir.
    btw, enak ga nasgornya? :D

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on May 6, 2012 by in D Commento, D Private and tagged .
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 81 other followers

%d bloggers like this: