Bagi teman-teman yang berasal dari propinsi Jambi dan sekitar mungkin mengetahui tentang keberadaan Suku Anak Dalam, atau lebih dikenal dengan suku Kubu. Nah, beberapa hari lalu saya baru mendapat informasi dari Vito tentang kegiatan yang diprakarsai Putri Jambi 2007 bekerja sama dengan beberapa instansi terkait, seperti Warsi KKI Jambi dan harian Jambi Independent. Jelasnya, mungkin bisa langsung menuju situs perpustakaan rimba.
Kegiatan ini berupa bantuan buku bekas. Kalau baru malah lebih baik lagi
Berupa bantuan dana? Hmm.. saya kurang tau. Mungkin bisa langsung menghubungi kontak di bawah ini :
a.Silviana Puspita (Puteri Indonesia Jambi 2007) di Yayasan
Puteri Indonesia, Graha Mustika Ratu Lt 7, Jln. Gatot Subroto Kav 74-75 Jakarta Selatan. Telp 0811-188-8283, 021-830-6754 email
silvianapuspita[at]gmail.com, atau dikirimkan,
b.Harian Jambi Independent, Jln. Jend. Sudirman No. 100 Thehok,
Jambi atau Telp (0741) 23330, atau dikirimkan ke,
c.Warsi KKI Jambi, Jln. Inu Kertapati No 12 Rt 10 Pematang Sulur
Telanai pura Jambi 36124 Telp (0741) 66695
Qoute dari Vito,
Kenapa memberi mereka bantuan buku?
Memberikan anak-anak rimba kemudahan mengakses buku, berarti membukakan mata mereka terhadap cakrawala dunia.



Itulah beberapa gambar dari mereka. Suku anak dalam [anak rimba] ini hidup di kawasan Bukit Dua Belas Jambi. Hidup mereka terisolasi, bukan karena diisolasi. Yah lebih sebab ke alasan ‘tradisi’…
Dan ada fakta mengejutkan, Butet Manurung si Woman Of The Year 2004 ini, semenjak tahun 1999 telah mendirikan sebuah sekolah dadakan, yang mempunyai tujuan untuk bisa mengajarkan anak-anak suku ( range umur 6-20 tahun) ini membaca dan menulis.
Membaca dan menulis memang bukan sebuah keharusan bagi suku ini, survive adalah menu utama. Namun berkat jasa Ibu Butet ini hingga tahun 2007, banyak anak suku dalam yang sudah bisa membaca & menulis. Dan gong-nya, pada April 2007, terbit sebuah buku kumpulan cerita yang ditulis murid-murid Sokola Rimba Bukit Duabelas, diberi judul “Cerita Anak Rimba”. Sebuah potensi besar bukan..
Jadi, ayo, ayo! Daripada ditumpuk, lebih baik disalurkan bagi mereka. Pahalanya insya Allah ngalir terus lho
, kan memberi kesempatan bagi orang lain untuk mencicipi ilmu dan memperluas wawasan.
Link terkait :
ps. Beberapa kalimat saya ambil dari Vito (yang di-quote). Gimana, okeh beib?
ps lagi. Saya cuma bantu nyebarin berita. Atas perhatiannya, saya ucapkan terimakasih
ps lagi-lagi. Artikel sama persis di rumah satu lagi
pria, pride, sunset on thir street, wanita
Giliran Ayah, Masih Tentang Bujuk dan Puji
In D Commento, D Plus on June 4, 2009 at 10:36 amPostingan sebelumnya memang terlalu pendek dan terbukti menghasilkan multiinterpretasi. Bukan berarti tulisan yang panjang tidak berpotensi banyak penafsiran sih ya…
Kutipan kemarin saya ambil dari komik Sunset On Third Street 3 chapter “Giliran Ayah”. Ada baiknya saya tuliskan garis besar ceritanya karena saya masih belum menemukan scanlation-nya
Seperti chapter-chapter lain dalam ketiga seri ini, setting cerita “Giliran Ayah” terjadi pada jaman Showa, ketika nilai-nilai tradisional masyarakat Jepang masih sangat kental. Posisi Ayah sebagai kepala keluarga sangat dihormati, dan ibu berperan sebagai motor ketertiban dan kedamaian rumah tangga
Well, sekarang mungkin masih ada keluarga dengan fungsi seperti ini, tapi boleh dibilang jarang. Tapi itu masalah lain, nanti saja kita bahas *siapa juga suruh bahas sekarang*
Cerita dibuka dengan adegan sebuah keluarga, yang terdiri atas Ayah, Ibu, Hiroko (kakak), dan Hiroshi (adik), sedang makan malam bersama. Tiba-tiba lampu rumah mereka mati akibat sekring putus. Didaulat lah sang Ayah untuk mengganti sekring. Ayah pun mengganti sekring, walau sembari gerundel-gerundel senang akibat pujian Ibu. Lampu menyala kembali. Anak-anak kagum pada ayah.
[Ah, biasa saja itu. Toh cuma mengganti sekring. Jangan protes dulu. Mari lanjutkan ceritanya
]
Yuk! Tapi panjang lhoooo..