Di Catatan Takodok

Sekerat Cerita Penanda

Sekedar Curahan Hati

Lagi, Lagi, Lagi, dan Lagi, Postingan gak Penting!

Barusan blogwalking. Dan ternyata topik IPDN masih anget. Tapi dari salah satu postingan, saya liat fs-nya STPDN. Whuii! Comment2 dari alumni nya itu loh!

Saya jadi berpikir, mungkin itu yang saya rasakan dulu sewaktu sekolah tercinta dicap sekolah teroris gara-gara kasus kekerasan. Enek, sepet, sebal, plus mikir, “Itu orang tau apa sih soal keadaan di dalam? Hei! Kami disini baik-baik saja!!”

Lalu ada juga comment yang bilang bahwa orang luar hanya iri dan ingin menghancurkan kita. Yah… saya juga pernah merasa seperti itu. Apa otak mereka (dan saya dulu) sudah dicuci pake rinso?

Huff… tenangkan diri dulu baru tulis.

Saya rasa itu wujud kecintaan pada almamater. Pendidikan yang telah ditempuh menempa pada suatu kesetiaan, yang bagi orang lain, membabi-buta. Karena sistem yang berbeda dari sekolah/ universitas biasa, yang memang melahirkan sebagian lulusan yang berkualitas.

Sistem pendidikan, kita sebut saja semimiliter, ini memang unggul di satu sisi. Dari pengalaman pribadi, belajar lebih teratur, fasilitas lengkap, kebanggaan. Belum lagi “kedekatan” yang timbul karena pembinaan yang mengajarkan kebersamaan (korsa!).

Sisi lainnya, kalo kebablasan, yah…kekerasan rentan terjadi. Balik lagi ke individunya, tahan atau tidak terhadap godaan “mendidik juniornya”. Saya tak berbicara sistem itu benar atau tidak. Tergantung yang menjalankan. Kalo memang orangnya busuk, sebagus apa pun sistemnya ya… tetap saja busuk!

Balik lagi, saya mengerti perasaan praja, purna praja IPDN. Kecintaan pada almamater memang tak tergantikan karena banyak yang sudah direguk disana. Ilmu, pelajaran hidup, bahkan cinta.

Tapi… kalau ternyata ada kesilapan yang menyebabkan hilangnya nyawa, apa setia dan cinta menghalangi kemanusiaan? Walau “hanya” 36, 37 atau 42 orang, mereka juga manusia. Dan betapa nyawa orang paling hina pun begitu berharga!

Benar atau tidak pendidikan dari senior lah yang menyebabkan kematian mereka, itu bisa dijawab oleh anda sekalian, wahai bapak dan ibu calon pemimpin bangsa!

Dibesar-besarkannya berita oleh media, tidak seperti keadaan yang sebenarnya di dalam, itu wajar. Namanya juga penyampaian berita, ada kalanya “dibumbui”. Tapi, Cliff yang tewas itu benar ada kan? Video itu juga bukan rekayasa kan? Dibumbui kah?

Dan, kalau masyarakat jadi resah karena ternyata calon pemimpin bangsa ini dididik dengan kekerasan, apa itu juga berlebihan?

Kalau memang anda calon pemimpin bangsa didikan almamater terbaik, mari, berikan yang terbaik untuk kami. Jangan terbutakan setia dan cinta pada almamater lantas mengkambinghitamkan orang lain!

ps. Teman-teman TTers dan IATTers, kejadian ini pasti sedikit banyaknya mengingatkan kita pada sekolah kita tercinta. Memang, tak ada yang harus meregang nyawa (kalau ada keterlaluan namanya!). Tapi sisi kelam memang pernah terjadi.

Yang berlalu tak bisa diubah. Namun kita masih bisa berusaha jadi lebih baik. Dan saya percaya, pihak sekolah akan selalu berupaya menuju arah yang lebih baik. Begitu pula kita, IATTers, akan selalu berupaya menjadi putra-putri terbaik, untuk daerah maupun bangsa.

Ah, temans! Ternyata saya memang sangat rindu kalian!

3 comments on “Sekedar Curahan Hati

  1. Biho
    April 15, 2007

    kekerasan tidak sama dengan kekejaman, dan yang terjadi di sana adalah KEKEJAMAN!

    kadang keras adalah awal dari kejam. Sayangnya mereka orang sering tak sadar sudah meng-kejam-i orang lain…

  2. talkwithme
    April 16, 2007

    iya ya des,dulu kita pernah ya ngrasain skullah yg ‘semi militer’ hahaa iya gitu?
    tapi untung yah,kita dulu ga macem2..jadi kluar-nya ga ada crita macem2..
    pas sma aja yah,ngehukum ad kelas aja rada ga tega.
    tapi bener,SMA TITIAN TERAS itu asoy geboy tau’u’u maknyus sekali..

    Ah. sok lupa nih?!
    Iya, iya aku kita dulu gak macem2. Untung yah?! hehe🙂
    Sip!

  3. santribuntet
    April 16, 2007

    saya sih santri pendidikan dari asrama. Mirip ipdn tapi tak pernah ada keras2an yang ada kerasan.
    disiplin lahir dari kesadaran
    sama seperti lapar, dipaksa makan tak bisa dong kudunya dari kesadaran…
    lulusan pesantren, banyak yang jadi teknokrat, IT, Pejabat, wartawan, kuliah luar negeri, wuuh bejibun deh… apalagi yang skedar jadi pe-en-es. banyak yang mau jadi lurah malah lungkrah….
    banyak yang mau jadi camat malam nyomot…

    “disiplin lahir dari kesadaran”
    Setuju!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on April 15, 2007 by in D Private.
%d bloggers like this: