Di Catatan Takodok

Sekerat Cerita Penanda

Saya Saja, Mungkin Bukan Siapa-Siapa

Ya itu, cuma saya.
Saya yang biasa.

Cuma makhluk parasit berlabel mahasiswa.
Cuma anak dari seorang ibu yang begitu saya banggakan, dan mudah-mudahan bangga pada saya.
Cuma satu diantara ribuan manusia yang menghuni kampus berfasilitas lumayan, kalau dibilang menyedihkan kesannya hiperbolis dan sangat tak bersyukur sekali.
Cuma satu diantara satu juta pengguna WP, yang tulisannya juga biasa-biasa saja, tapi cuma satu di dunia ini.

Banyak kata cuma. Cuma ini, cuma itu. Tapi saya “cuma” yang istimewa.
Kenapa?

More...Karna cuma ada satu Desti Utami Anggraini di dunia ini. Boleh saja tujuh orang punya nama yang sama, baik nama depan, tengah, belakang (yang katanya useless!). Boleh saja tingkah lakunya, tampang, ciri-cirinya juga kodian. Tapi secara keseluruhan, tidak akan ada yang menyamai saya!

Kenapa?

Karna Allah swt, yang menciptakan saya, itu MAHA SEGALANYA. Berjuta orang ada di dunia tak satu pun yang sama. Minimal sidik jarinya. Karna itu saya berpendapat ahwa setiap orang itu istimewa! Patut dihargai.

Nah karna saya berpendapat seperti itu, maka saya berusaha menghargai setiap orang. Siapa sih yang gak senang kalo dihargai (bukan secara materi, tau maksudnya kan?). Salah satu caranya dengan mendengarkan cerita mereka. Walau cuma “benar-benar mendengar” plus sedikit “Mmm..”, “OKe”, “Ya..”, “Lalu?”, “Terus”, “Oo..gitu..”, etc.

Oke. Saya hadirkan dua kisah “istimewa” dari orang yang kebetulan “muntahin” keistimewaannya pada saya.

____________________________________________________________

Pertama, Un. Tadi pagi, ketika saya asyik-asyiknya mempersiapkan etiket dan brosur untuk laporan, dia tiba-tiba masuk ke kamar. Setelah sedikit basa-basi menanyakan, “Ndak pai kuliah, Des?”, keluarlah uneg-unegnya. Masalah yang cukup serius bagi saya, karna saya tak punya cara jitu mengatasinya.

Un ini terganjal saat kompre (ujian sarjana), Jumat lalu. Ada data mentah yang tidak terbawa sehingga skripsinya dipermasalahkan. Jadi di-pending, entah keputusannya, entah dia dinyatakan gagal.

Sewaktu dia pulang pada hari Jumat itu, saya tidak berani menyapanya, takut salah kata. Dan kami baru bersapa lagi malam tadi. Dan saya masih tak berani bertanya. Takut menyinggung.

Ketika dia bercerita sendiri, yang sudah saya tunggu-tunggu, saya malah speechless. Mendengar dia bilang,

“Ndeh..badatak jantuang Un ka manamui dosen tu. Ba’a ko yo?” saya tak tau mau jawab apa.

Saya belum pernah seminar, baik proposal, hasil, apalagi kompre. Tapi saya pernah gagal, jadi saya tahu rasanya. Tapi saya tak tau, dan tak mau tahu, bagaimana rasanya gagal ujian sarjana. jadi saya cuma bisa ngomong,

“Sabar se, Un. Kalo ndak dihadapi bilo Un ka lulus lai? Ba’doa se kini, mudah-mudahan Un diberi kemudahan pas sobok dosen tu.”
Gampang ngomongnya, susah melakukannya. Saya tau itu. Tapi, saya bisa ngomong apa lagi?

bingung.jpg

hard.jpg

Gak mungkin kan?

_________________________________________________________

Next, tadi sore. Selepas praktikum, sewaktu menunggu jam pulang saya dan seorang teman sedikit sharing (halah!).

Nah, kalo ini saya bisa ngomong banyak. Soalnya ada banyak hal yang kami perdebatkan. Salah satunya masalah penting-tidak-pentingnya meladeni orang yang sering berkeluh kesah plus manja!

Teman saya ini menganggap hal itu useless, gak penting ditanggepin, dan malas mendengarkan keluh kesah dan kemanjaan. Saya setuju dalam beberapa hal. Seperti : gak perlu ditanggepin, iya, ngapain juga? Ngabis-ngabisin energi.

Useless? Yakin? Bukannya kadang kita perlu melakukan hal-hal useless demi hubungan rumit yang namanya pertemanan? Bukannya kadang kita juga useless bagi orang yang lebih penting dari kita?

hands

Malas mendengarkan? Ya..kadang memang begitu. Dan saya masih belajar ilmu mengatur kemalasan saya menjadi “tong sampah” agar tak menyakitkan hati orang yang buang sampah ke saya. Karna saya juga gak mau sakit hati kalau “sampah” saya dimuntahin balik sama “tong”nya.

Huff…masalah biasa. Terjadi pada siapa saja. Ya itu, karna cuma Saya Saja, Mungkin Bukan Siapa-siapa.

Trimakasih, Takodok!

Update : Gambar tangan dari sini, lalu yang lain dari sini, dan sini.

16 comments on “Saya Saja, Mungkin Bukan Siapa-Siapa

  1. deking
    May 28, 2007

    Siapa sih yang gak senang kalo dihargai (bukan secara materi, tau maksudnya kan?).

    Hehehe…gak jadi komentar karena sdh ada keterangan tambahan di dalam kurung😀

  2. Weits! Cepat amat pak! Baru juga di-post, belum di-edit karna terburu.

    Gak mau karcis pertamax nih? Bagus deh!😀

  3. Fadli
    May 28, 2007

    Yak betul. Urang sabar disayang Tuhan
    ________________________________________________
    Setuju.
    Trimaksaih sudah mampir, salam kenal!🙂

  4. jurig
    May 29, 2007

    setuju … semua orang itu istimewa …
    ___________________________________________________
    Aha! Dapat satu simpatisan😀
    Yap! Cause everyone are special…

  5. gerry
    May 29, 2007

    hehe yg pernah gw denger sih orang sabar pantatnya lebar haha
    tp…sedikit opportunis kali ini, bahwa mendengar tidak selalu baik…mendengar hal2 yg kadang tidak patut didengar, bahkan tentang relationship teman kadang malah bikin ruwet. Ga ngerti apa yg gw omongin, cuma tiba2 kepikiran kejadian dulu haha
    intinya: muntah kadang bau, cukup dicium…jangan ditelan
    _________________________________________________
    Hoho, ada pengalaman pribadi nih?
    Yah…ngapain nelen muntahan orang? Muntahan sendiri ja gak keurus. *jijay ah ngomong muntah2*

  6. antobilang
    May 29, 2007

    lho lho lho…kenapa ini kenapa? hihihihi
    __________________________________________________
    Gak knapa2. Cuma soal biasa.
    btw, sindrom “in da house” teh jurig menyebar dgn cepatkah? Bulan Mei org aneh2 ya?

  7. xwoman
    May 29, 2007

    Cuma anak dari seorang ibu yang begitu saya banggakan

    “ibu juga bangga padamu nak!!!” klo aku diposisi bundamu aku akan bilang begitu, dan ibumu juga pasti melakukan hal yang sama
    ________________________________________________
    *terharu*
    ________________________________________________
    susah lho De` nyari temen sepertimu yang siap dengan keluh kesah teman! Apalagi disaat orang lain menganggap itu useless!
    _________________________________________________
    Hmm…dan itu entah karna saya bego atau apa ya? *Sebel pernah dibilang bego!*

  8. Rizma Adlia
    May 29, 2007

    Useless? Yakin? Bukannya kadang kita perlu melakukan hal-hal useless demi hubungan rumit yang namanya pertemanan?

    Ma setuju banget,, kecuali kata ‘perlu’,, kadang kadang malah pengen rasanya ngelakuin banyak hal ga penting dan useless sama temen temen,, itu kan yang bikin hubungan pertemanan jadi indah,,??
    Ma malah takut jadi orang yang ngeberatin temen temen Ma,,
    ________________________________________________
    Useless atau gak itu kan relatip mbak. Kalo bagi mbak Ma itu gak useless, malah usefull mungkin? Useless disini karna ngikutin bahasan si temen saya itu saja.
    Wah…mbak Ma punya ciri2 temen yg baik nih! Ayo, siapa yg mau temenan sama mbak Ma?😀

  9. talkwithme
    May 29, 2007

    ngomong apa kamu nak hehe.des yemplate ku bagus ga
    nanti liat kalo aku udah kriting . haha
    ________________________________________________
    Yang jelas aku gak ngomong kamu cakep, Vit!😛
    Lumayan. Tapi itu header nya mengabur! Kamu ambil gambar dari si opa ya?
    Coba aja kalo kamu brani kriting! Brani gak, hayoo?!😛

  10. ndoro kakung
    May 29, 2007

    tapi kamu blogmu unik.
    _______________________________________________
    Unik? Muji ya? Saya anggap muji aja deh hehe😀
    Trimakasih sudah mampir ya, eyang!😀

  11. Pingback: Jadi kangen gara gara blogwalking,, « Ma-Me-Ma,, Just being Me!!!!

  12. junthit
    May 29, 2007

    “Ndeh..badatak jantuang Un ka manamui dosen tu. Ba’a ko yo?”
    boleh tau nggak Artinya apa?
    ____________________________________________________
    Kira-kira begini, “Aduh…deg-degan Un mo nemuin dosen itu. Gimana nih?”
    Jadi…gimana? Toeng! *nyodorin kuitansi pembayaran jasa translete*😆

  13. chielicious
    May 30, 2007

    Kehidupan itu satu..
    Kehidupan satu manusia terhubung dengan kehidupan manusia yang lainnya..
    Jadi gak ada manusia yang ‘bukan siapa2′~
    ^ ^
    _______________________________________________
    Nice🙂

  14. chielicious
    May 30, 2007

    Btw lam kenal yah ..ku add link nya k
    _______________________________________________
    Salam kenal juga! Trimakasih sudah mampir🙂
    Link? Silahkan.. saya link jug ya?🙂

  15. jejakpena
    May 30, 2007

    Un (ngangguk), setuju, everybody is someone, dan tiap seseorang selalu saja punya rasa istimewa bagi orang lain, dan keadaan useless atau tidak? Hmm… kadang-kadang saya malah tidak memperhitungkannya(kalau enggak mau disebut kurang perhitungan -_- )

    Dan saya masih belajar ilmu mengatur kemalasan saya menjadi “tong sampah” agar tak menyakitkan hati orang yang buang sampah ke saya. Karna saya juga gak mau sakit hati kalau “sampah” saya dimuntahin balik sama “tong”nya.

    Iya, bijaknya memang begitu kan ya, berlaku sebagaimana kita ingin diperlakukan orang lain
    Btw, warga negara yang baik nih, buang sampah pada tempatnya (hi hi, maaf ga nyambung)
    Mbak, gimana les nyanyinya nih?
    ___________________________________________
    Lancar! Barusan hujan, jadi si kodok dia show. Sukses besaaarr! hehe:mrgreen:

    Itu bukan kurang perhitungan mbak, malah bagus tidak berhitung2 sama teman, dalam beberapa hal. Kecuali kalo lagi belajar berhitung😀

  16. Pingback: Goodbye, May « D Articles

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on May 28, 2007 by in D Private.
%d bloggers like this: