Di Catatan Takodok

Sekerat Cerita Penanda

Duit! Duit! Duit!

Hmmmffffff! *tarik napas panjang-panjang*

Oke, saya mau ngomel. Tapi nanti dulu. Sebelumnya saya mau berterimakasih pada teman-teman, yang telah bersedia meluangkan waktu mengisi kuesioner dahsyat itu! (apa iya, mas Amed😉 ) Makasih ya, mas adit, teh jurig, mas amed, orang kriting gila Vito. Kamu baek deh say!*Huek😛

Itu sebenarnya tugas Metolit-nya bibik-gila, segila orang kriting satu ini 😛 , Temen seperjuangan saya dulu *halah!* Deadline-nya Sabtu dan baru Senin malam dia ngasih kuesionernya. Haha! Sukses ajalah jeng! Mbwahahahaha! Bedewei, Far, Sabtu mungkin aq balek lho ke Jambi. Hiya! Hiya! Hiyahahahaha! *puas, ngetwain orang, puas bilang orang gila, puas karena ada yang lagi banyak tugas. Puas! Puas! Puas!*:mrgreen:

Oke, saya sudah siap ngomel*haiyah!*

Perhatian: Tulisan berikut sangat subyektif, mungkin menyebut “merek”, dan apapun yang tertulis murni pendapat pribadi. Hanya berupa ceracauan tidak jelas, sangat dipengaruhi emosi.

images1.jpg

Inget lagu ini gak,

It’s all about the money

It’s all about dam dam dararadamdam!

Atau yang ini,

Duit lagi duit masalahnya….

Graaaaa!!!

mad.jpg

Apa sih yang gak bisa dilakukan oleh duit? Apa? Apa? Okelah. Duit itu penting. Tapi jangan sampai menyembah duit dong! *halah!*

Kalau ngomong yang ngelantur terlalu jauh, kayaknya saya tidak berkompeten. Masih kecil, hijau, naif! Makan tuh idealisme ! Graaaa!! *sebel, sebel, sebel!*👿

Sebenarnya begini, saya sedang kesal karena…uang SP naik! Huh! Dua kali lipat! Untuk ukuran mahasiswa parasit seperti saya, angka 65ribu per SKS itu cukup memberatkan. Banget malah!

Memang, kalau dibandingkan dengan beberapa Universitas, apalagi yang di pulau Jawa, angka 65ribu per sks itu masih standar. Ada yang 75ribu perSKS, malah 100rb katanya. Belum biaya semester yang sampai nominal 3 juta. Itu ya itu. Ini ya ini. keadaan disana beda dengan sini. Kalau yang lain mahal kenapa kita harus ikut mahal? Ha?!

Lestarikan dong Universitas dengan biaya tidak terlalu mencekik! Masa’ mo ikut-ikutan naik terus. Terus terang, ada rasa syukur waktu saya lulus disini, walau banyak sesalnya:mrgreen: Misalnya,

  • Uang “pangkalnya” cuma 1,5 juta kurang dikit.
  • SPP “cuma” 350rb plus 150rb biaya praktikum plus 90rb uang bis kampus per semester.
  • Biaya hidup, ya…tidak semurah tempat saya bimbel dulu sih…

Tapi ya… sekarang malah ada wacana kenaikan 100% biaya SPP untuk anak 2007. Weiii! Ancang-ancangnya dengan menaikkan biaya SP. Masih banyak pro dan kontra, masih dibahas oleh PR I dan PD I- PD I seluruh Fakultas plus BEM.

Dan ketika mendengar sedikit penjelasan seorang teman yang mengikuti pembahasan itu, ada yang mengganjal saya.

Dari 65 ribu itu, hanya sekitar 50 rb untuk oleh dosen. 15 ribu untuk biaya lain-lain. Dari 50 ribu itu, katakanlah kita mengambil 2 sks, berarti ada 100ribu jatah si dosen. Nah, dari 100rb itu, hanya 85 ribu yang masuk ke kantong dosen. 15% nya masuk ke negara.

Dudul tea!!! Eits, gak boleh marah-marah dulu. Coba dengan santun.

Yang mengganjal bagi saya:

  • 15rb yang pertama untuk siapa? Biaya Administrasi?
  • 15% untuk negara itu maksudnya apa? Ha? Ha? Kenapa sekarang semester pendek juga ikut dikomoditikan? Jadi salah satu aset income negara? Kurang pemasukan ya? Bukannya seharusnya negara yang mensubsidi pendidikan? Sebagai kompensasi dicabutnya subsidi BBM? Berat banget ya menyokong kami-kami yang parasit ini si calon penerus bangsa yang bisa jadi nantinya brengsek! pendidikan? Makanya jangan korupsi!!!

Ternyata tetap saya terbawa emosi kalo membicarakan masalah ini. Jujur, tulisan ini sangat subyektif, didorong rasa kesal saya karena dunia ini sering tidak bersahabat. Ah, ternyata saya masih jauh dari dewasa, sering meledak-ledak, tidak objektif menghadapi masalah, dan masih sering su’udzon. Belum bisa memandang dari sisi positif terhadap masalah yang muncul.

Saya tidak bisa berpikir yang baik-baik, cenderung langsung menyalahkan seseorang ataupun lembaga. Dalam kasus ini pihak rektorat yang terhormat. Lalu negara.

Ya, saya tau, kalau selalu menyalahkan, apalagi negara, masalah tidak akan selesai. tapi, apa yang bisa saya lakukan? Demo? Menyampaikan aspirasi. Tuh, anak BEM sudah melakukan sebelum yang lain memikirkan *halah!*

Yup, saya cuma bisa ngomel sambil lapor ke Ayah, “Uang SP naik”

Dan apa jawabnya? “Gak usah pikirin masalah uang. Yang penting Desti belajar yang baik, biar pintar, sukses. Tenang saja.”

Oww.. I luv U Pop!

Yup! Saya beruntung, punya ortu yang mendukung. Tapi bagaimana dengan teman yang lain? Tidak semuanya, katakanlah, seberuntung saya. Bisa saja pas dia ngomong malah didamprat, “Duit lagi! Duit lagi! Duit! Duit! Duit!”

Haiyah! Kalo ada yang ngomong, makanya kerja sambilan kek, cari duit untuk bantu ortu. Nih, ikut MLM saya bla bla bla…..  Blah!

Hoiii!! Tidak semua orang bisa dan berbakat berbisnis sambil kuliah kan? Oke. Kami Saya PARASIT, Anda bisa berdiri sendiri. OKe. Saya kagum Anda tak lagi merepotkan orangtua. Selamat! Semoga Sukses! Jauh-jauh saja dari Saya si Parasit, kalau dekat-dekat nanti malah tertulari parasit. Dekat-dekat tukang parfum aja biar wangi! Blah!!!

Kalau ada yang ngomong, “Kenapa sih lu? Gak lu sendiri kok yang pusing”

Weii!! Oke. Kamu juga pusing, tapi cara orang mengekspresikannya beda-beda. Kalo sekarang saya jadi hobi teriak-teriak, “Duit!Duit!Duit!” ya itulah cara saya. Kalo kamu terganggu ya maap. Lain kali saya tidak akan berekspresi di hadapanmu. Maap kalo kebebasan saya malah menganggu ketenanganmu. Bukankah hak seseorang itu dibatasi oleh hak orang lain. Kita harus tenggangrasa kan? Toleransi? Berbuat baik pada sesama. Oke. Pelajaran PPKn monoton tanpa aplikasi itu akan saya usahakan untuk diterapkan. Terimakasih sudah mengingatkan.

Ah, capek. Panjang, membingungkan.

Jadi, kesimpulannya :

  • Saya sedang kesal karena berita kenaikan biaya SP plus SPP, walau katanya cuma untuk anak baru.
  • Saya bertambah kesal ketika di”nasehati” oleh seseorang. 
  • Karena kesal saya jadi bertingkah aneh.
  • Ternyata tingkah aneh saya, sebagai wujud pelampiasan supaya tidak tambah aneh, mengganggu orang lain. Dikomentari, yang membuat saya bertambah kesal.
  • Karna terus-terusan kesal saya gak jadi Hibernasi dari WP pasca stress ujian, seperti rencana semula dan meneruskan di tempat baru. 

Cukup sekian dan terimakasih karna saya sudah sangat jauh melantur. Terakhir, ada yang mau ngasih duit? Aggghhhh! Duit!Duit!Duit!

5 comments on “Duit! Duit! Duit!

  1. ralat satu:
    eh lagunya bukan yang gini ya
    WO U WOW.lagi lagi uang :punyanya niki astria bukan nyahaha🙂
    _______________________________________________
    Ga tau jg😆
    _______________________________________________
    ralat dua :
    saya mah ga gila,aitis tapinya.puas.seneng amat menghina saya.huiks
    _______________________________________________
    *nyengir culas*:mrgreen:
    _______________________________________________
    iya ih des,skarang smua serba mahal.kayanya ga ada beda antara negri ama swasta.huh.pathetic😦
    _______________________________________________
    Makanya, duit! duit! duit!👿

    Oya, Vito. Jadinya aq pulang Senin. Iri gak?😛

  2. suandana
    June 29, 2007

    Makanya dong, jangan lama-lama jadi parasit mahasiswa. Cepat lulus sana!😀
    _______________________________________________
    Maunya juga begono, mas. Makanya pusing mo penel***** dimana sekarang😦
    _______________________________________________
    Masalah uang SP di kampusnya Mbak Desti biaya pendidikan yang naik, ya… Itu karena pendidikan memang HARUS mahal! Dengan mahalnya biaya pendidikan, maka para parasit mahasiswa (saya juga, nih) akan terdorong untuk cepat-cepat menyelesaikan studinya dan segera berkiprah di dunia nyata, membangun bangsa dan negara😀 .
    Selain itu, berdasarkan pengamatan di lembaga pendidikan tempat saya mengajar, orang akan cenderung berleha-leha kalau mendapatkan pendidikan yang murah (gratis, lho). Di tempat saya itu, dari 300 orang yang mendapatkan fasilitas pendidikan gratis, yang lulus dengan benar itu tidak sampai 100 orang😦
    _______________________________________________
    Wah, mungkin iya jg sih. Tapi inget tulisannya mas tobil dulu, pendidikan itu memang HARUS mahal, tapi yang menanggung kemahalannya itu ya pemerintah. Lha, kalo udah gratisan tapi smangat belajarnya kurang, mungkin bisa diantisipasi dgn sistem punishment. Gitu… Hmm.. based on personalnya mungkin.

    Tapi ya… tetep aja saya sebel dengan yang namanya kenaikan biaya! Graaaa!👿

  3. Joerig
    June 30, 2007

    pusing mikirin duit itu indah … biasanya kalo udah pusing, skripsiannya jadi cepet …

    *cepet selesai apa cepet terabaikan, terserah kemampuan kita dalam menahan tekanan pusing itu …. hehehehehe*
    _______________________________________________
    Smoga jadi cepet selesei termotivasi deh teh. Cepat terabaikan? Aduh, mudah2an tidak…
    Thanks teteh🙂

  4. Adik TrCnta
    July 3, 2007

    Aq mau uang
    dan membawa uang
    segudang…segudang…
    uuuuuaaaang….
    uuuuuaaang…
    _______________________________________________
    *nyodorin recehan* Nih, beli permen astor sono!😆

  5. hani
    June 24, 2008

    ayo semangat desti..smg cpt lls biar ngak pusing mkrin mslh duit!duit!…btw wajar aj kok km suka meledak2 dll.itu wjr bgt kok.tiap org mang py cr beda dlm berekspesi.just be ur self…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on June 28, 2007 by in D Private.
%d bloggers like this: