Di Catatan Takodok

Sekerat Cerita Penanda

Akhir Minggu di Toko Buku

Hari Minggu adalah hari keluarga, betul? Yup! Minimal begitulah yang saya saksikan di salah satu toko buku di Padang. Sejauh mata memandang, berkeliaran anak-anak balita yang asyik membuka-buka buku cerita bergambar, mengacaukan tumpukan buku, digendong orangtuanya sambil menjerit-jerit, bahkan ‘bermain petak umpet’ dengan pengasuhnya. Ada pula anak-anak usia sekolah yang tekun membaca komik, ibu-ibu yang menanyakan buku-buku persiapan UN, juga bapak-bapak bercelana pendek selutut yang mengawal anak gadisnya di deretan buku teenlit sembari berulangkali melirik jam tangan dengan sikap tak sabar.

Turun ke lantai bawah, di bagian buku komputer juga ada seorang bapak yang sedang memegang buku cara-cepat-dapat-uang-lewat-internet bertanya pada anak lelakinya, “Jadi kamu sudah banyak dapat duitnya? Eh, kalo kamu sudah naik tingkat jadi hacker dong *melirik buku lain dengan judul Hacker blablablibli* “. Si Anak? Oh, dia cuma bergumam tak jelas. Saya yang berada di rak Sastra sebelahnya cuma tersenyum simpul sambil pura-pura serius membaca Bukavu-nya HTR.

Bosan dengan daerah bermain yang itu-itu saja, akhirnya saya pindah ke bagian yang jarang saya jelajahi; Politik.
Hmmm.. Yahudi, Zionis, skip!
Oh Obama, Michelle Obama, ambil, buka, lihat-lihat gambar, taruh kembali.
Eh, Ibnu Sutowo? Siapa? Ambil, baca Kata Pengantar, Prolog, menarik.
Lihat harga, uhmm..
Lihat kantong, glekh!

Ah, baca saja disini sebentar. Humm.. humm.. humm.. eh, kenapa ini mas toko bukunya bolak-balik di sebelah saya? Ah, cuek, cuek. Toh yang lain juga banyak. Humm.. humm.. humm…

Eh uh uh, kenapa ini lengan saya ditarik? Mas-nya kok centil amat sih?!
Oh, bukan, bukan. Ternyata seorang ibu pelakunya. Kenapa, Bu? Ngefans sama saya? Tapi ini cuma tanya dalam hati.

“Dek kalo Pidato Kemerdekaan dimana lihatnya?”
Eh?
Saya bengong dulu. Kebiasaan bila disergap dengan pertanyaan saat sedang konsen pada satu hal lain.
“Pidato, Bu? Maksudnya?”
“Iya, pidato. Katanya ada di buku UUD (1945). Nak, sini! Coba tanya sama kakak ini,”
Si Ibu memanggil anak perempuannya. Manis. Kelihatannya pintar, tapi sedang bingung. Lalu dia bilang,
“Itu kak, pidato kemerdekaan. Kata bu guru cari di buku UUD ’45. Temenku sudah ada yang dapat kok Ma,”
Kalimat terakhir dia tujukan ke ibunya, bukan saya. Nama saya kan bukan Ema.
Lalu keduanya melihat ke arah saya.
“Kira-kira dimana ya, Dek?”

Uh.. pidato kemerdekaan? Kalo Pembukaan UUD ’45 mah saya tau. Insya Allah masih hapal. Tapi pidato? Weh… eh, jangan-jangan maksudnya Proklamasi? Tapi saya tidak yakin. Akhirnya yang keluar dari mulut malah,
“Kurang tau juga bu”

Ih.. si ibu. Jangan lihat saya begitu dong. Maaf, saya lupa. Belasan tahun lalu., bu. Tapi.. penasaran juga. Kebiasaan sok tau jadi serasa “gatal-yang-harus-digaruk” ketika ada yang bertanya pertanyaan yang belum bisa dijawab. Akhirnya saya buka-buka juga beragam buku-buku UUD ’45 jaman sekarang ; telah direvisi, lengkap dengan susunan kabinet dari tahun sekian-sekian, menyelipkan sejarah yang cenderung menyudutkan Orde Baru. Aduh, pusing saya. Jaman saya SD buku UUD ’45 mah yang warna sampulnya putih dengan bingkai merah, atau buku saku, tapi isinya seragam.

Lihat ke samping karena serasa ada yang memanggil, ternyata si Ibu telah “menangkap” teman saya dan si teman malah seakan ingin melimpahkan ke saya. Yaelah. Tapi saya hampiri juga.

“Proklamasi barangkali, Bu?” kata si teman.
“Oh, iya itu mungkin,” si Ibu setuju.
“Iya itu kak!” si anak membeo.
Dodol!
“Kalo Proklamasi dulu biasanya memang ada di buku UUD (1945), bu. Tapi gak tau sekarang. Sudah saya bolak-balik gak keliatan bu,” saya yang bicara bak pahlawan kesorean.
“Di buku yang sampulnya putih-merah atau buku saku itu lho, bu,” tambah saya makin menjadi sok tau.
“Iya ya, buku saku yang tebel itu. Dulu isinya sama semua. Sekarang banyak bener buku undang-undangnya. Bikin bingung..”
Eh… si Ibu curhat.
“Jaman ibu dulu gak pusing begini,”

Iya bu, iya. Kita satu batch Orba kok bu, pasal-pasal yang dihapal masih sama. Isi semua buku seragam. Keseragaman memang membawa kenyamanan bu. Tidak perlu terganggu dengan perbedaan yang bikin bingung ya bu. Tidak perlu kuras energi dan otak memahami masing-masing kubu. Fokus saja pada yang lebih penting, mensejahterakan diri masing-masing. Begitukah bu?

Melantur ya saya bu? Iya dek, kamu aneh. Tapi tidak. Ucapan tsb bukan keluar dari mulut si Ibu karena beliau sedang menanyai anaknya, “Gimana jadinya, nak?”
Si anak diam saja. Mukanya masih bingung. Mungkin khawatir karena besok harus hapal isi Proklamasi. Kenapa baru cari sekarang dek? Oh, ya, saya juga dulu begitu. Suka menunda tugas sampai saat-saat terakhir. Sampai sekarang juga masih seperti itu. Makanya belum lulus-lulus juga.

Sama-sama buntu, akhirnya si ibu pamit. Terimakasih untuk kami berdua, saya dan si teman, katanya. Sama-sama, bu. Maaf tidak bisa banyak membantu. Kami memang masih sedikit hapal isi Proklamasi yang wajib hapal itu, bu. Tapi kami, apalagi saya, tidak terlalu mempercayai ingatan yang seperti kerupuk lempem ini, bu. Tidak lucu kalau anak ibu terbalik-balik mengingat isi Proklamasi yang menjadi bukti keberanian dan keperkasaan bangsa Indonesia, bu. Lebih baik dia mencarinya lewat sumber yang terpercaya; Googling saja bu😉

19 comments on “Akhir Minggu di Toko Buku

  1. dnial
    February 23, 2009

    Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaannya. Hal-hal menyangkut pemindahan kekuasaan akan dilakukan dengan cara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

    Jakarta 17 Agustus 1945
    Atas nama bangsa Indonesia,

    Soekarno-Hatta

    *ditulis tanpa googling. :D*

    So?

  2. Takodok!
    February 23, 2009

    Redaksional sedikit berbeda, dan katanya itu penting lho😉

  3. Ina
    February 23, 2009

    kok ke toko buku nga ngajak2…!😦

  4. aNGga Labyrinth™
    February 23, 2009

    Biasanya ke toko buku mana kk

    Saya seneng banget ke toko buku

    Punya rekomendasi?

  5. Takodok!
    February 23, 2009

    @Ina
    berat di ongkos kali na😆

    @aNGga Labyrinth™
    di sini cuma ada 2, Sari Anggrek dan Gramedia. Yang terakhir yang sering saya kunjungi. Begitu loh dek aNGga:mrgreen:

  6. iChaL
    February 23, 2009

    jangankan proklamasi, pembukaan UUD jg sy hapal,,,tapi itu dulu,,waktu SD,😆

  7. imoe
    February 24, 2009

    hahahaha ndak ada yang paling indah selain toko buku ya kannnn

  8. Emina
    February 24, 2009

    saya paling suka klo jalan -jalan ke toko buku
    walaupun selalu ngiler doang karena ga semua buku itu bisa dibeli😦
    paling tidak bisa buat daftar dan ngelist buku yang rencananya mo di beli..👿
    *ngerencanain beli novel da vinci code dari taon jebot sampe skrg ga dibeli juga akhirnya*👿

  9. anto84
    February 25, 2009

    ow gitu ya..salam kenal

  10. warm
    February 25, 2009

    iya iya nyari proklamasi ko ke toko buku,
    anak yang aneh..
    bener kata ente, pake keyword : GOOGLE !!
    hidup GOOGLE !!

  11. Billy Koesoemadinata
    February 25, 2009

    kekekek…

    ada2 aja..
    lagian,, tu ibu2 ada2 aja.. nanya buku ke sesama customer.. tanya petugas toko buku laah…

  12. Takodok!
    February 25, 2009

    @iChaL
    saya masih hapal lho chal… sedikit:mrgreen:

    @imoe
    iya.. apalagi bila ada jaminan finansial *sigh*

    @Emina
    iya mbak… menderita tapi tak bisa dihindari:mrgreen:
    saya malah belum baca satu pun karangan Dan Brown itu..

    @anto84
    salam kenal juga🙂

    @warm
    hail google?😆

    @Billy Koesoemadinata
    itulah.. gw juga sempat bingung…
    Apa ada tampang ahli sejarah-politik gitu?:mrgreen:

  13. mas stein
    February 25, 2009

    saya jadi sibuk mengingat-ingat Conan si detektif itu terakhir nomer brapa ya..? lho kok?? lha soale saya maen-maen ke gramedia biasanya cuma nemenin istri saya beli Conan😆

    dulu sukak beli novel-novel bangsanya john grisham ato tom clancy tapi sekarang kok sayang, mending minjem di tempat sewaan buku:mrgreen:

  14. Arm
    February 25, 2009


    Jakarta 17 Agustus 1945
    Atas nama bangsa Indonesia,

    Djakarta, hari toedjoeh belas boelan delapan tahoen nol lima😛

    google is your best friend😉

  15. Takodok!
    February 25, 2009

    @mastein
    Terakhir no.52, panjang ya?:mrgreen:
    Hooo.. iya, kalo John Grisham lumayan banyak di taman bacaan🙂

    @Arm
    (lagi) Hail Google!:mrgreen:

  16. Catra?
    February 26, 2009

    udah lama saya tak baca tulisan mu mbak!! ringan, inspiratif.Saya nongkrongin blog sebelah sih, yang di blogspot, imageofbacidero.
    asyik. ternyata mbak suka mampir ke Toko Buku jg ya, gramed kah? hehehe

  17. itikkecil
    February 26, 2009

    maaf oot, tapi kayaknya mending kalau ngajak anak ke toko buku. daripada diajak keluyuran di mall gak jelas…

  18. Takodok!
    February 26, 2009

    sepakat. Tapi kalo toko bukunya di mall ya terpaksa *dipentung*:mrgreen:

  19. Takodok!
    February 26, 2009

    @Catra
    Komenmu ditelan aki, nak.
    Ah, saya memang angin2an menulis di sebelah😳
    Dibilang sering, gak jg. Gak tiap minggu lah, paling sebulan sekali minimal😀
    Ya pasti gramed itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on February 23, 2009 by in D Commento and tagged , , , , .
%d bloggers like this: