Di Catatan Takodok

Sekerat Cerita Penanda

Saya yang Sinis Nan Pesimis

Melihat tayangan reality show Minta Tolong, saya resah. Dulu saya masih bisa melihat sisi positif dari tayangan tsb, yaitu cukup optimis bahwa masih ada orang sangat baik di dunia ini dan saya pun bisa berusaha jadi orang baik seperti para penolong tsb.

Sekarang?
Oh, ayolah! Coba pikir, mau tidak kamu membeli tiket kereta yang tidak kamu butuhkan di saat kamu sedang terburu-buru? Ya, ya, anaknya sedang sakit, tapi alasan macam apa itu? Bisa saja dia calo tiket yang mengarang alasan mengada-ada. Mereka yang tidak menolong hanya bersikap waspada.

Tidak menolong tidak mengapa. Kamu tidak lantas menjadi tokoh antagonis karenanya. Siapa yang tau kan alasan di balik penolakanmu terhadap tokoh mengibakan tsb. Tapi jadi sedikit baik bisa ada reward untukmu. Itu saja.
Lagipula, apa hebatnya seorang berkecukupan yang jadi penolong. Biasa itu, toh hartanya banyak. Tapi kalau seseorang yang hidupnya susah? Wow, wow! Tentu akan lebih mengharukan dan lebih bernilai jual! Dan ya, saya juga meneteskan airmata kok di akhir acara.

Realistis? Mungkin.
Sinis? Memang! Banget!

Membaca profil seorang wanita yang bisa menyeimbangkan posisinya dalam karier dan mengurus keluarga, saya berpikir; bisa tidak ya saya nanti seperti itu?
Tapi beberapa menit setelah selesai membaca, perasaan kagum dan optimis disalip oleh pikiran lain; setiap orang punya peran dan porsi berbeda. Tidak semua orang bisa sukses dalam karier dan keluarga. Tidak semua orang bisa jadi bos, harus ada yang jadi pegawai.

Tidak semua ibu bisa jadi pencari nafkah yang handal. Tapi setiap wanita yang sukses di kariernya ketika di rumah ia tetaplah seorang ibu. Separah-parahnya ia menjalani peran tsb, ia tetap ibu.

Di antara ribuan orang sukses ada jutaan orang gagal, karena bila semua orang sukses bagaimana ia tau kalau ia sukses bila tidak ada contoh gagal?

Pesimis ya?

Yes I AM…

26 comments on “Saya yang Sinis Nan Pesimis

  1. Farijs van Java
    April 16, 2009

    kadang kepesimisan itu juga perlu…

    v(^_^)

  2. itikkecil
    April 16, 2009

    itu kan bukan reality show beneran dok…..

  3. Takodok!
    April 16, 2009

    @Farijs
    Ah ya, saya memang sempat berpikir bgitu, tp apa tidak malah makin pesimis ya?

    @mbak ira
    Iya, permasalahannya ya pola pikir saya yg bergeser, terlepas tayangan tsb rekayasa ato setengah rekayasa. Dari awal saya memang sudah kurang yakin dgn sisi reality tayangan macam ini๐Ÿ™‚

  4. mas stein
    April 16, 2009

    lha nyatanya menag banyak penipu sekarang je mbak, waspada itu perlu!
    klo soal pesimis, kadang batasnya tipis sama realistis mbak.

    ndak semua orang bisa sukses, saya kurang sepakat, mungkin lebih pas ndak semua orang bisa meraih kesuksesan yang sama. usaha yang keras pasti ada hasilnya, walaupun mungkin sukses yang diraih beda, mungkin yang satu sukses di karir, yang satu sukses di kedewasaan.

  5. cK
    April 16, 2009

    kesuksesan diri sendiri dinilai oleh yang bersangkutan. bukan orang lain…๐Ÿ™„

  6. Billy Koesoemadinata
    April 16, 2009

    sinis itu perlu,, seriusan

    coz reality show di tipi kadang2 ga ngedidik dan justru cuman ngasih jalan pintas ajah..

    sama’ kaya’ sinetron..

    btw, nama gue ga ada di blogroll yak?๐Ÿ˜› *ngarep*

  7. Chic
    April 16, 2009

    pesimis? ga lah Des.. itu reallistis!!:mrgreen:

  8. Arm
    April 16, 2009

    realistis itu…๐Ÿ˜Ž

    saya juga kalo ngga butuh 85% ga bakal beli dengan alasan apapun๐Ÿ˜›

    setiap orang punya perannya masing2, macem game RPG aja:mrgreen:
    di “game” orang lain kita bisa aja cuma jadi NPC, tapi di “game” kita sendiri harus jadi tokoh utama dong๐Ÿ˜Ž

  9. ucrit
    April 16, 2009

    eh ganti template lagi dy *dipentung*

  10. christin
    April 16, 2009

    Ah life indeed sucks. Dan hal-hal yang baik gak akan berlangsung lama.

    *makin nambah pesimisme*๐Ÿ˜†

  11. edy
    April 16, 2009

    kamu kebanyakan nonton tipi, des

    *buang remote*

  12. Emina
    April 16, 2009

    saya kira desti ga pesimis ah, itu justru lebih realistis..saya sih klo utk urusan tayangan reality show kyk gitu, dari dulu, apapun bentuk nya tak pernah benar -benar percaya…yah, tapi itu tergantung kita masing -masing kan?
    yang penting , setiap kita berbuat sesuatu, kita ikhlas melakukannya. Toh Alloh lah yang menilai isi hati kita…

    kesuksesan itu adalah saat kita bisa membuat orang lain sukses… ^^

  13. deeedeee
    April 16, 2009

    tetep semangat, Des…

    Hrs tetep optimis dalam hidup๐Ÿ™‚

    Chaayo!

  14. dnial
    April 16, 2009

    Ah… artikelnya takodok selalu menggelitik.
    Kalau di Jakarta mah, nggak ada yang bakal percaya.๐Ÿ˜›

    Kebaikan untuk orang asing bolehlah. Ada orang nanya jalan dikasih tahu, tapi kalau datang ke kita dan berkisah aneh2 lalu meminta kita membeli sesuatu? Alarm “watch out” akan berteriak kencang.

  15. dhilacious
    April 17, 2009

    aaaah, emang reality shownya aja yg ngga real.
    yang bikin pesimis tuh acara2 TV skarang, mba..
    mending skarang kita jauh2 deh adri TV.
    ngga mutu..๐Ÿ˜ฆ

  16. warm
    April 17, 2009

    bukan pesimis sebenarnya, sih
    tapi perasaan karena masih dlm proses pencarian jari diri,
    dan itu wajar karena ente masih dalam masa pertumbuhan๐Ÿ˜€

  17. annosmile
    April 17, 2009

    hal yang wajar bila kadang sikap pesimis muncul

  18. Basyarah
    April 19, 2009

    Pesimis boleh asal realistis, tapi jangan pesimis jika itu memungkinkan, namun lebih baik lagi jika tidak pesimis

  19. okeu
    April 19, 2009

    Optimistic better than pesimistic

  20. imoe
    April 19, 2009

    jangan pesimis dong…coba duluukita kan gak tahu misteri TUHAN

  21. Ina
    April 20, 2009

    ๐Ÿ˜› Dok kodok….!
    Ayooo semangat….kamu bisa!

    *jorgan mulu*

  22. andyan
    April 20, 2009

    saya..

  23. avartara
    April 21, 2009

    Memang,.. masih banyak tayangan serupa yang memperjualbelikan kemiskinan,… apakah kemiskinan itu suatu komoditas?……

  24. Asop
    April 24, 2009

    Wah, sama saya juga orangnya rada pesimis…. >.<

  25. zulhaq
    April 30, 2009

    pemanfaatan kemiskinan demi kepentingan orang2 makmur
    *sungguh memilukan*

  26. lambenesugiman
    June 2, 2009

    kadang pesimis itu perlu untuk membuat kita jadi optimis..halah..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on April 16, 2009 by in D Commento, D Private and tagged , .
%d bloggers like this: