Di Catatan Takodok

Sekerat Cerita Penanda

Giliran Ayah, Masih Tentang Bujuk dan Puji

Postingan sebelumnya memang terlalu pendek dan terbukti menghasilkan multiinterpretasi. Bukan berarti tulisan yang panjang tidak berpotensi banyak penafsiran sih ya…:mrgreen:

Kutipan kemarin saya ambil dari komik Sunset On Third Street 3 chapter “Giliran Ayah”. Ada baiknya saya tuliskan garis besar ceritanya karena saya masih belum menemukan scanlation-nya🙂

Seperti chapter-chapter lain dalam ketiga seri ini, setting cerita “Giliran Ayah” terjadi pada jaman Showa, ketika nilai-nilai tradisional masyarakat Jepang masih sangat kental. Posisi Ayah sebagai kepala keluarga sangat dihormati, dan ibu berperan sebagai motor ketertiban dan kedamaian rumah tangga:mrgreen: Well, sekarang mungkin masih ada keluarga dengan fungsi seperti ini, tapi boleh dibilang jarang. Tapi itu masalah lain, nanti saja kita bahas *siapa juga suruh bahas sekarang*🙄

Cerita dibuka dengan adegan sebuah keluarga, yang terdiri atas Ayah, Ibu, Hiroko (kakak), dan Hiroshi (adik), sedang makan malam bersama. Tiba-tiba lampu rumah mereka mati akibat sekring putus. Didaulat lah sang Ayah untuk mengganti sekring. Ayah pun mengganti sekring, walau sembari gerundel-gerundel senang akibat pujian Ibu. Lampu menyala kembali. Anak-anak kagum pada ayah.

[Ah, biasa saja itu. Toh cuma mengganti sekring. Jangan protes dulu. Mari lanjutkan ceritanya😉 ]

Esoknya, si Ibu meminta tolong Ayah yang sedang membaca koran untuk memakukan sesuatu ke dinding. Tidak berapa lama, kembali Ayah menolong Ibu memperbaiki kabel setrika yang putus. [Oh, ibu memang merepotkan! Apa-apa meminta tolong ke Ayah. Dasar wanita!😛 ]

Di perjalanan menuju kantor, Ayah bertemu dengan temannya yang mengeluh letih karena sehari sebelumnya dimintai tolong istrinya membuat rak. Berikut petikan percakapan mereka:

Teman Ayah : Tapi sebenarnya kenapa, ya? Wanita itu tidak tangkas. Soalnya istri saya tidak pernah selesai memaku satu pun.
Ayah : Hahaha! Istri saya juga sama.Tapi mungkin itulah keanggunan seorang wanita ya..

[Oh well..🙄 ]

Sementara itu, Hiroko senang mengejek Hiroshi yang sering mendapat nilai jelek dan membandingkan dengan Ayah yang “pintar dan tangkas”, sampai-sampai Hiroshi menangis meraung-raung. [Dasar anak laki kok cengeng!😛 Eh, tapi saya juga sering begitu ding, mengganggu si bocah. Puas rasanya membuat anak bandel itu menangis:mrgreen:

Oke ngelantur. Lanjut! ]

Suatu hari Hiroko yang baru pulang sekolah menemukan ibunya sedang mengganti sekring by herself! Hiroko heran lalu bertanya;

Hiroko : Katanya Ibu tidak suka sama listrik?
Ibu : Kalau cuma mengganti sekring saja sih, ibu bisa.
Hiroko : Kalau begitu, ibu juga bisa memaku?
Ibu : Siapa saja juga bisa memaku, hohoho! Tapi jangan bilang-bilang sama  Ayahmu, ya!
Hiroko : Tapi kenapa ibu selalu pura-pura tidak bisa?
Ibu : Hohoho! Soalnya kalau ibu bilang tidak bisa Ayah pasti mau melakukannya. Dengan begitu ibu jadi tertolong dan Ayah bangga pada diri sendiri.
Ibu : Hiroko, sebagai perempuan kau juga mesti tahu teknik memanfaatkan pria, membujuk sambil memuji.

[Nah!:mrgreen: ]

Lalu Hiroko mencoba mempraktekkan pada Hiroshi. Dia memuji Hiroshi yang “ahli meraut pensil” dengan kalimat,

“Wah, rautanmu rapi sekali ya. Lebih daripada aku. Kakak pikir kau orangnya tidak bisa apa-apa, ternyata bisa juga ya. Ahli meraut pensil!”
Hiroshi sumringah.
“Kalau begitu mau sekalian meraut pensil kakak?”
“Ya, boleh!”

[Bingo!😆 ]

Sifat menonjolkan ketidakberdayaan wanita bukan poinnya, mengambil keuntungan juga tidak terlalu tepat, itu cuma efek samping. Pujian (yang tentu saja tidak terlalu dibuat-buat) ibarat katalis bagi seseorang untuk mengembangkan dirinya.

Oh, terlalu jauh ya? Secara sederhana saja, siapa sih yang tidak senang dipuji? Apalagi oleh istri sendiri. Meningkatkan “pride” di mata anak-anak juga menyenangkan berbagai pihak. Sungguh menyenangkan punya Ayah yang bisa dibanggakan, bukan?

Pengalaman pribadi, sewaktu kecil saya pernah begitu tolol membanggakan sepatu lars panjang ayah saya yang berbunyi prok-prok-prok. Padahal beliau bukan tentara, hanya mengikuti pelatihan hankamnas yang katanya dulu wajib itu😆 It’s fun, indeed, membandingkan kehebatan para ayah dengan teman-teman sampai ada yang membual begitu rupa. Tolol, tapi manis. Sebagai anak, boleh lah saya mengatakan; ayah saya pintar, tangkas, dan bisa diandalkan, serta Ayah paling hebat no.1 di dunia!

Dan ibu, apakah ibu punya peran dalam pandangan saya ini, sebagaimana tokoh Ibu-nya Hiroko dalam cerita di atas? Tentu saja, dengan cara berbeda pastinya karena pujian adalah hal yang langka di rumah saya:mrgreen:

Jadi, siapakah yang patut dipuji atas ketangkasan dan kepintaran Ayah? Tentu saja Ayah memang pintar, tangkas, dan bisa diandalkan. Dan ibu sungguh bijak memberikan kesempatan pada Ayah untuk membuktikan dirinya🙂 Suatu pelajaran yang terkesan kuno, ringan, sepele, tapi rasanya cukup berperan dalam menjaga kedamaian rumah tangga.

Halah, sok tau ya? Mungkin yang sudah berpengalaman bisa menambahkan?:mrgreen:

13 comments on “Giliran Ayah, Masih Tentang Bujuk dan Puji

  1. Chic
    June 4, 2009

    woooogh mencerahkan… akan saya praktekan di rumah😆

  2. deeedeee
    June 4, 2009

    hahaha… berarti tadi saya salah presepsi dan salah mengambil hikmah pastinya😆

    pasti krn komiknya ga mo dikirimin, jadinya nulis ceritanya secara lengkap disini, hehehe *kabur sebelum ditimpukin komik*

  3. yud1
    June 4, 2009

    Sebagai anak, boleh lah saya mengatakan; ayah saya pintar, tangkas, dan bisa diandalkan, serta Ayah paling hebat no.1 di dunia!

    ssh! hati-hati dengan omongan ini! untuk seorang ayah, ini adalah kalimat penghargaan tertinggi yang bisa diterimanya dari anak gadisnya sendiri.😎

    ~eeh, betuul…:mrgreen:

  4. Huang
    June 4, 2009

    Mamaku yang punya kantor pajak :p

    whwhwhwhw

  5. lambenesugiman
    June 4, 2009

    Menunggu anakku untuk bilang “ayah saya pintar, tangkas, dan bisa diandalkan, serta Ayah paling hebat no.1 di dunia!”…Semoga

  6. mas stein
    June 5, 2009

    wogh! sepertinya saya harus mulai curiga kalo si ibu ngomong yang manis-manis😆

  7. morishige
    June 5, 2009

    saya pengen punya istri seperti ituuuu….

  8. carra
    June 6, 2009

    haaaaaaaa..??? gitu yaaa… pantesan itu suami kok sigap aja kalo ku suruh mintain tolong masang ini benerin itu…😆 malah lagi nyadar…pdahal sih benran kaga bisa akunya😆

  9. aurora
    June 7, 2009

    hehe… kak, balas ngomen ne… dasar bang imoe.. cakep gene dibilang aneh, dia tu yang aneh…..
    keep posting, tapi panjang banget, gila! ga capek apa tu tangan???

  10. imoe
    June 7, 2009

    hehehehe des, pinjam komik nyo a

  11. ziq zaq
    June 8, 2009

    yes

    aQ setuju

    ayahQ adalah nomor #1

  12. dnial
    June 9, 2009

    Membujuk dan memuji and playing their guilt.
    Work like a charm.

    *harus mencari teknik untuk melawan ini :P*

  13. Takodok!
    June 18, 2009

    @Chic
    kalo sukses bikin pengumuman ya jeung:mrgreen:

    @deeedeee
    ke Padang deh, nanti saya pinjemin komiknya *janji manis*:mrgreen:

    @yud1
    ini benar kok yud, tp kalo ngomong langsung itu perkara lain😛

    @Huang
    sekaligus mentri keuangan ya😆

    @lambenesugiman
    amiiinnn.. semoga🙂

    @mas stein
    hati-hati nanti malah curiga berlebihan lho mas:mrgreen:

    @morishige
    selamat berusaha ya ji😉

    @carra
    ahahahaha… kata si komiknya sih begitu mbak😀

    @aurora
    gak, namanya jg hobi ngomel:mrgreen:

    @imoe
    boleh, bang, tapi entah kapan2 ketemunya ya:mrgreen:

    @ziq zag
    indeed🙂

    @dnial
    practise make perfect lhooo *kalem*😛

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on June 4, 2009 by in D Commento, D Plus and tagged , , , .
%d bloggers like this: