Di Catatan Takodok

Sekerat Cerita Penanda

Aku Ingin Begini Begitu

Literary2

Kemarin saya belanja. Khilaf beli satu buku dan satu komik. Kemarinnya lagi membawa pulang satu buku yang sudah diincar sejak dua minggu sebelumnya. Tidak khilaf. Tapi worth to buy lho. Keduanya.

Kemarin saya lihat banyak buku bagus. Yang sudah lama saya inginkan maupun yang baru beredar. Tapi uang saya tidak cukup. Saya belum kaya, masih numpang hidup di dunia ini via orangtua. Untung bapak saya baik hati. Lantas saya masukkan saja judul buku itu ke daftar keinginan. Tambah panjang. Sesek dada saya jadinya.

Kemarin saya beli parfum. Harganya naik 16, 67 %. Sudah saya hitung lho pakai kalkulator. Mestinya bisa secara mencongak saja. Sayangnya saya malas, malas pintar. Untuk hari ini saja. Memang biasanya pintar? Iya dong, buktinya saya gak mau ikut-ikutan rusuh soal tetangga sebelah. Sombong atau apatis sih kamu, dok? Keduanya boleh juga, terserah penilaian kamu saja.

Kemarin dan kemarinnya lagi soal lalu. Permasalahan sekarang adalah bagaimana menjadikan apa yang sudah saya beli jadi benar-benar bermanfaat. Tidak cuma jadi pajangan. Begitu mudah didapat sehingga cepat dilupakan lalu ingin yang lain. Lagi dan lagi. Keinginan roda gigi itu namanya. Bahaya. Apalagi kalau besar pasak daripada tiang.

Memang saya seperti Nobita. Ingin begini ingin begitu banyak sekali. Yang paling mustahil juga saya inginkan. Apa itu? Hidup dengan kaki terikat pada masa lalu. Bodoh ya?

Solusinya bagaimana? Rasanya sih.. harus mulai kompetitif terhadap diri sendiri, plus self control bahasa kerennya. Omong gede kamu! Oh ndak tau yaaaa.. Mungkin kamu mau jadi tester? Nanti kalo sukses, tolong kasih tau saya ya? Ya? Kamu baik baik deh!

Salam peluk sayang dari aku😉

14 comments on “Aku Ingin Begini Begitu

  1. sez
    August 29, 2009

    salam peluk dari saya juga😀

  2. potato
    August 29, 2009

    Saya mirip Nobita, tapi tanpa Doraemon😥 Nobita dengan Doraemon aja masih payah begitu, apalagi kalau ngga ada Dorameon😐

    Banyak keinginan itu bisa jadi motivasi sih. Buat saya sih biar saya lebih punya makna dalam menjalani hari-hari saya yang agak begitu-begitu aja😛

    Rasanya sih.. harus mulai kompetitif terhadap diri sendiri, plus self control bahasa kerennya

    Ini. . . susah. Beneran susah, udah saya coba berkali-kali masih aja saya merasa gagal menerapkan hal ini. Saya teuteup aja pemalas, suka nunda kerjaan, dan boros. Padahal banyak keinginan yg mesti dipenuhi:mrgreen:

  3. jensen99
    August 29, 2009

    Euh, kalo soal boros beli bacaan, kaya’nya Desti dah mesti masuk rehabilitasi deh..😐
    *ditabok kursi*

    Ya, okelah, selama gak kelaparan karena beli buku gpp deh.:mrgreen:

    Rasanya sih.. harus mulai kompetitif terhadap diri sendiri, plus self control bahasa kerennya.

    Hmm… niatnya keren sih, tapi motivator dan pemicunya dah dapet blum? Apalagi gak ada yang kontrol lho, des..
    Balik ke masalah, soal kaki terikat ke masa lalu, yang terpenting IMO adalah menemukan “masa depan” tuk melangkah. Kalo pengen maju tapi pijakannya blum ktemu, ya… disitu-situ aja. Seperti saya ini..

    Ah, mulai ngaco saya ini. Ntah dimengerti atau tidak. Tapi… Salam peluk dariku juga deh.😉

  4. christin
    August 30, 2009

    Aku lagi mencoba satu solusi buat penyakit yang semakin menggila ini. Entah berhasil, entah enggak yang pasti aku berniat untuk mencoba.

    I’ll tell you the result, darl!❤

  5. warm
    August 30, 2009

    kalo mau nurutin isi hati, dunia pun mau dikuasai.
    sering-sering mandang ke orang yang kurang beruntung dibanding kita,
    mungkin ‘sedikit’ bisa mengingatkan betapa beruntungnya keadaan diri sekarang ya🙂

  6. Takodok!
    August 31, 2009

    ::sez::
    muah muah buat tante! :-*:mrgreen:

    ::potato::
    sama ya kita? Banyak keinginan memang bisa jadi motivasi, tapi berapa lama motivasi itu bertahan soal lain ya:mrgreen:

    Udah pernah nyoba ya se? Gagal? Gak masalah. Coba lagi!😆 *ditimpuk*

    ::jensen99::
    *tabok by request*:mrgreen:

    Hmm… niatnya keren sih, tapi motivator dan pemicunya dah dapet blum? Apalagi gak ada yang kontrol lho, des..
    Balik ke masalah, soal kaki terikat ke masa lalu, yang terpenting IMO adalah menemukan “masa depan” tuk melangkah. Kalo pengen maju tapi pijakannya blum ktemu, ya… disitu-situ aja.

    aaarggghhhhhh! Aku kan sedang menguatkan hati, jangan kau goyahkan, Armando! Huh huh!😆

    Saat ini saya cukup optimis. Cuma itu yang bisa saya bilang. Mudah-mudahan sih bertahan agak lebih lama kali ini. Doakan saja ya mas😀

    ::christin::
    mari berjuang bersama menuju masa depan lebih cerah *halah*😆
    mungkin balik-baliknya ke situ-situ lagi ya cin, gak tau juga nantinya. Walau bagaimanapun tetap harus dicoba.
    Sukses yaaa😉

    ::warm::
    ah iya om, saya memang sangat beruntung. Mudah-mudahan jadi makin beruntung dan bisa “menciprati” orang lain:mrgreen:

  7. Chic
    September 1, 2009

    wooooogh mesti belajar sama Mario Teguh, dok…:mrgreen:

  8. itikkecil
    September 3, 2009

    self control itu memang susah Des…
    tapi akan gampang kalau kita tidak punya uang… gimana mau belanja wong duit saja gak ada…
    *curcol*

  9. Takodok!
    September 3, 2009

    ::Chic::
    Salam zuper!:mrgreen:
    ndak punya tipi sih mbak *alesyan*

    ::itikkecil::
    oiya, pasti itu. Berarti memang butuh “pembatasan” ya?

  10. Kurotsuchi
    September 4, 2009

    haiyah… sama lah, bu… akhir pekan kemaren, saya melanggar kontrak untuk tidak beli buku dulu… e tapi malah saya belanja banyak buku..😦

    well, at least, saya masih percaya bahwa buku-buku itu bisa bermanfaat bagi saya…

  11. neng fey
    September 10, 2009

    kemaren baru beli buku lagi, tapi dah lama bgt sih ga beli buku, jadi rasanya bolehlaaah menghadiahi diri sendiri sebuah buku hehehe

  12. cabe keriting
    September 19, 2009

    kayaknya sudah saatnya blog lo ini di_monetize.

  13. deeedeee
    September 22, 2009

    hihihi.. tetep ga bisa nahan diri buat beli buku n beli makan *sok tw*

    but I love this point :

    Permasalahan sekarang adalah bagaimana menjadikan apa yang sudah saya beli jadi benar-benar bermanfaat. Tidak cuma jadi pajangan. Begitu mudah didapat sehingga cepat dilupakan lalu ingin yang lain.

    saya sering gagal tuk tdk menjadikan buku2 yg saya beli sebagai cadangan😦😦😦

  14. Takodok!
    September 26, 2009

    ::Kurotsuchi::

    well, at least, saya masih percaya bahwa buku-buku itu bisa bermanfaat bagi saya…

    Pembenaran!😆
    dan itu berulangkali saya ucapkan pada diri sendiri:mrgreen:

    ::neng fey::
    iya iya betul, sekali-sekali memanjakan diri ya?:mrgreen:

    ::cabe keriting::
    maaf, belum tertarik.

    ::deeedeee::
    cadangan gimana buuu?
    kalo dibaca dan diresapi insya Allah ya bermanfaat😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on August 29, 2009 by in D Commento, D Private and tagged , , , .
%d bloggers like this: