Cerita Tentang Brownis

Aku ngidam. Ngidam brownis. Brownis si bolu bantat. Biar bantat tapi dia nikmat. “Oh, oh, brownis, mengapa sulit kau ku dapat?” Itulah jerit hatiku lima hari belakangan ini.

Gagal hari pertama aku berharap pada hari kedua. Eh, hari kedua tak bisa ku dapatkan juga dia. Hari ketiga sama saja. Aku mulai frustasi…

Hari keempat, ya Tuhan tolonglah… aku begitu mendambakannya. Tolong, jangan biarkan toko roti itu tutup cepat lagi seperti tiga hari sebelumnya. Dengarkan permintaan hamba-Mu ini, Tuhan…

Dan Tuhan memang baik. Teramat baik. Ia memberiku kesempatan untuk berlatih sabar dan bersahabat lebih dalam dengan kegagalan. Argh! Kenapa jam 3 kurang 10 menit sudah tutuuuppp? Toko roti macam apa ini?! 😈

.

Benci aku benci pada perasaan ingin tapi tak bisa dipenuhi. Seperti gatal di tenggorokan yang tidak bisa digaruk. Sebal aku sebal karena usahaku tak kunjung berhasil padahal aku sudah menuntaskan urusan secepat mungkin agar bisa pulang lebih awal selama tiga hari berturut-turut kemarin. Dengan gontai aku melangkah… aku pulang tanpa dendam.. ku salutkan kemenanganmu!

.

Hari kelima ku mulai dengan taktik baru. Ku satroni toko roti sebelum berangkat ke kampus. Lihat! Ia teronggok manis di sana.. sekotak besar brownis nikmat.. di dalam etalase kaca bersih mengkilat. Lihat! Ia terlihat paling menggoda karena satu-satunya di antara jenisnya (tak ada brownis lain maksudnya), sekaligus… kesepian. Tenanglah brownisku, tak lama lagi kau akan bersamaku yang menginginkanmu…

.

Ada satu halangan, brownis sayang. Ku tak bisa langsung bersamamu. Aku harus menuntaskan urusanku dulu di tempat lain. Macam orang sibuk ya, padahal tidak tuh. Maka ku titipkan saja engkau kepada mbak toko roti sembari berjanji nanti siang kau ku jemput.

“Jam berapa tutupnya?” ku tanya si mbak toko roti.

“Ya sehabisnya roti-roti ini saja.” jawab si mbak toko roti. Oh, pantas saja. Ternyata ini toko roti laris. Alhamdulillah ya mbak?

“Kalo jam 2 masih buka?” tanyaku lagi.

“Masih, kok, masih” plus senyum si mbak toko roti laris Alhamdulillah menjawab.

Okeee. Sampai ketemu jam 2 ya brownisku sayang. Tenang, kau sudah ku bayar lunas, sudah dibungkus ke dalam kantung plastik hitam. Baik-baik ya, Sayang? Smooch!

.

.

Jam 1 lewat 50 menit. Aduh… belum selesai juga ini. Bagaimana ya?

Jam 2 lewat 15 menit… masih belum.

Jam 2 lewat 29 menit… aduuuhhh! Aku telat!

Jam 2 lewat 39 menit… aku sudah di dalam angkot, menuju brownisku sayang. Mudah-mudahan masih sempat…

.

.

“Kok telat?”

“Aduh, iya, maaf ya mbak. Makasih sudah ditungguin,” kataku sembari melirik etalase yang sudah kosong melompong. Alhamdulillah laris lagi.

“Iya, gpp” senyum lagi dari si mbak.

Oh, makasih banyak ya mbak mau menungguku. Mbak cantik, suer deh!

.

.

Maka di sini lah aku, berbagi cerita tentangmu, dambaanku. Ditemani segelas kopi dan lagu merdu, brownisku bertambah nikmat. Pahit getir dan sesak karena mendamba telah mendapatkan akhir yang sebanding. Penantian yang tidak sia-sia memang  manis ya kawan?

.

.

.

“Akhirnya dapat juga ya neng?” komentarnya. Aku tersipu, lalu tersenyum getir. Dalam hati aku berkata;

“Brownis itu kamu. Tapi ini belum hari kelima.”

Advertisements

About Takodok!

sleep tight, play hard, read carefully.
This entry was posted in D Private and tagged . Bookmark the permalink.

12 Responses to Cerita Tentang Brownis

  1. Mizzy says:

    Oh, cerita yg menggugah selera hati. Teringat penantian saya mendapatkan martabak manis :|. Pertama, kehabisan. Kedua kali, akhirnya saya datang lebih awal tapi sayangnya coklatnya hampir habis jadi si abang cuma bikin martabak yg kebanyakan kacang tapi miskin coklat :?. Dan ketiga kalinya, akhirnya mendapatkan martabak manis yg saya nyidamkan (mmm).

    Demi martabak dan brownis saja musti menghadapi kegagalan dan kekecewaan sampai beberapa kali, apalagi demi yg lain ya :mrgreen:

  2. Takodok! says:

    *cium2 mbak Mizzy* 😆

    Masalahnya tingkat ketidakpastian hal-hal lain itu jauh lebih besar daripada brownisku. Rentang penantiannya juga bisa lebih lama. Kadang sampai merasa kehilangan keyakinan dan bobot pede menurun drastis. Hari kelima masih lama ya? *bukan curcol ini mah*
    :mrgreen:

  3. TamaGO says:

    semoga berhasil mendapatkan ‘brownies’nya di hari kelima nanti 😀

  4. Abied says:

    Kirain tentang si brondong manis, ternyata murni kue.
    Hmmm…
    Salam kenal Mba’
    Saya, Abied, dari sebuah tempat paling indah di dunia. :mrgreen:
    Salam

  5. Chic says:

    udah lewat lima hari!!! 😈 jadi gimana kelanjutan cerita di brownies itu?

  6. Takodok! says:

    @TamaGO
    Amin, amin, makasih ya 🙂

    @Abied
    Salam kenal juga 🙂

    @Chic
    Brownisnya? Sudah habis kemarin tuh 😆

  7. jadi, amanat postingan ini adalah…
    sabar pangkal dapat brownies? 😛

  8. Mrs. Morris says:

    Akhirnya dapat browniesnya kan?

    Nikmat kan?

    Saya juga kemarin akhirnya bisa menikmati crepes & kopi dingin yang sudah menyita perhatian saya selama dua hari. Meskipun pulangnya kehujanan, tapi rasanya bikin hangat di hati 😀

  9. maryam says:

    padahal di bandung bertebaran tuh brownies.ntar tak kirim kesana deh

  10. RaRa Wulan says:

    penuh perjuangan iah untuk mendapatkan brownis impian hehehehe
    tapi alhamdulillah bisa kesampaian maem brownisnya..
    perjuangan yang bagus dah
    thankyu dan sukses slalu 🙂

  11. Pingback: Martabak Manis « 白い森

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s