Di Catatan Takodok

Sekerat Cerita Penanda

Cerita Tentang Si Kaki

Telapak kaki ibu itu..

Feet

pecah-pecah, seperti tanah yang retak. Sama sekali jauh dari gambar di atas. Ia berwarna hitam kecoklatan. Siapa pun yang melihatnya pasti akan terbayang pekerjaan yang jarang menggunakan alas kaki. Pekerjaan luar ruangan. Mungkin di tengah sawah . Atau sekedar menimba air di sumur dan melakukan segala macam urusan rumah tangga? Entahlah. Imajinasiku tak sampai. Pokoknya ia, si kaki, pasti jarang dialasi.

.

Ku lihat kakiku. Kulit di sekitar tumit sedikit terkelupas tapi selebihnya baik-baik saja. Ia juga tidak secantik punya para model, malah cenderung kering dan besaaaaarrrr serta lebaaaaarrrr.

.

Ku ingat kaki ibuku. Tumitnya juga pecah-pecah dan sedikit kehitaman. Agak kering, tapi setidaknya lebih kecil dari kakiku. Ibuku memang mungil dan lincah sedangkan aku besaaaaarrrrrr dan lambaaaaaaannnnn.

.

Ku ingat kaki adik perempuanku. Ia … sempurna. Ih! Sebel.

.

Ku ingat kaki adik kecilku. Mungil. Gosong. Terlalu aktif. Masih ku ingat rasa ngilunya saat ia menendang perutku. Tak sengaja, tapi ia tertawa. Adikku, bukan kakinya yang tertawa.

.

Ku ingat kaki ayahku. Buesaaaaaarrrrrrrrrr. Mirip kakiku. Jelek. Ah, aku memang mirip ayah. Seharusnya aku jadi laki-laki saja. Tapi tidak, aku terlalu sensitif. Cuma penampilanku saja yang cenderung maskulin. Hhhh… :eyeroll:

.

Ku ingat kaki ayam, alias ceker. Aku tak suka. Geli. Dibayar sepuluh ribu pun aku tak akan mau menyantapnya. Yaick! Tapi kalau sepuluh kali lipatnya, hmmm.. ku pertimbangkan lah..:mrgreen:

.

Ku ingat kaki tuan X. Ia senantiasa dibalut sepatu merek M. Mahal. Aku tak tau penampakan aslinya. Mungkin panjang. Jari-jari tangannya saja cukup panjang. Ku harap masih ada kesempatan untuk menyelidikinya. *amiiinnn*

.

Ku ingat kaki… auch! Kakiku terinjak kernet bus. Sial.

.

.

Pandangan dan perhatianku kembali terarah ke ibu tadi. Kaki coklat pecah-pecahnya bila mampu ku rasa akan bercerita banyak. Bahwa ia tidak dirawat, tidak diperhatikan, tidak terlalu diperdulikan. Untuk apa? Toh cuma kaki. Asalkan masih bisa dipakai berjalan, bekerja, berfungsi normal tentunya sudah cukup bagi si ibu. Benar juga. Tak musti terlalu pusing jika si kaki tak seindah para model iklan. Hmmm…

Eh, sudah sampai di tempat perhentian. Aku turun, melangkah ke tempat tujuan. Belanja. Ku lihat daftar. Urutan ketiga; krim lembut Kunno. Ah, kaki…😐

19 comments on “Cerita Tentang Si Kaki

  1. Farijs van Java
    January 7, 2010

    surga di telapak kaki ibu. jadi tenang aja. pede aja meski kakinya buesaaaaaaar…😛

  2. Frea
    January 7, 2010

    Tidak apa-apa mbak. Kaki sayapun cenderung memalukan kalau di umbar ke khalayak ramai😳
    tapi ada baiknya juga kaki ini ikut diperhatikan dan dirawat layaknya anggota tubuh lain, agar anggota tubuh lain tidak iri. Toh yang paling banyak melakukan aktivitas seharian kan kaki juga😛
    Mongomong, apakah kaki disini sebenarnya adalah metafora untuk sesuatu yang lain? *penasaran saja*

  3. christin
    January 7, 2010

    Aku dulu sering mengeluh engga pede karena kakiku besar… lalu akhirnya bisa juga aku bersyukur bahwa meskipun besar, kedua kaki itu masih bisa kupake berjalan kesana kemari.

    Tapi aku gak pake krim khusus kaki. Disamain sama henbodinya aja😆 *apa sih*

  4. Takodok!
    January 7, 2010

    ::Farijs van Java::😳😆
    soal pede sih yaaa pede mas. lagipula sekarang lebih gampang nyari sepatu ukuran 39/40 ketimbang ukuran 37😆

    ::Frea::
    Si kaki-nya saya lumayan diperhatikan sih… sedikit.😛
    Umm.. soal penafsiran saya serahkan pada pembaca. Seperti kata Nasjah Djamin, bila sebuah karya sudah dilempar ke khalayak maka penulis tidak punya “kuasa” lagi:mrgreen:

    ::christin::
    sejujurnya aku pake krim dan handbody-nya juga kalo inget. Akhir-akhir ini makin parah, kulit tumit sering terkelupas. Pengaruh deterjen kali yaa? Baru deh ribet pakai si Kunno tadi😐 *curcol*
    soal kaki besar, duh… hinaan bocah-bocah SMP dulu bikin sebel🙄

  5. Kurotsuchi
    January 7, 2010

    wew…
    saya barusan melihat lagi kaki-kaki saya: tak terlalu panjang, tak terlalu lebar. dengan jari-jemari yang cukup lentik😳😆

    Ku harap masih ada kesempatan untuk menyelidikinya. *amiiinnn*

    well, yah. semoga akan tiba kesempatan buat takodok mengeksplorasi kaki dibalik sepatu merek M itu:mrgreen:

    btw, saya koq seolah merasa ada sesuatu dibalik urusan kaki ini ya?😕 mungkin perasaan saya saja. indera ke-6 memang merepotkan😆

  6. Rian
    January 7, 2010

    kaki saya ada 2 loh.. :p

  7. dika
    January 7, 2010

    wauuuu. keren kaak. seperti biasanya. hehehe. penegn deh bisa nulis sesuatu yang nyastra kayak gini🙂

  8. Billy Koesoemadinata
    January 7, 2010

    iya. kaki ibu saya juga pecah2. faktor karena sangat sayang keluarga, jadi ngurusin terus sepertinya..

  9. Chic
    January 7, 2010

    weeeew ini baru nama-nya blogger, bahkan dari kaki pun bisa jadi postingan😆

  10. TamaGO
    January 7, 2010

    kaki takodok gede? mungkin karena suka lompat2 kali ya :hammer:

  11. itikkecil
    January 7, 2010

    M itu mereknya apa kakak?
    ah, saya tidak terlalu peduli dengan kehalusan kaki saya selama masih bisa dipakai untuk berjalan ke sana ke mari . btw, ukuran kaki saya juga 40…

  12. JoEy D`JuVe
    January 8, 2010

    SkrinSut Please…

  13. elia|bintang
    January 9, 2010

    sbnrnya sih pecah2 apa ga ya sama aja selama yg punya kaki masih merawatnya. merawat itu kan tanda bersyukur😀

  14. Mrs.Prast
    January 9, 2010

    Kaki saya kecil, gampang lecet, susah nyari sepatu yang pas😐

    Ku harap masih ada kesempatan untuk menyelidikinya. *amiiinnn*

    *Ikutan mengamini*

    Saya kok merasa sumber penulisan urusan kaki ini terletak di kaki Mr. X ya, bukan di telapak kaki ibu itu. Ah..tapi mungkin ini perasaan saya aja kali ya:mrgreen:

  15. Snowie
    January 9, 2010

    belakangan ini, saya suka sekaligus jealous setelah baca hasil tulisanmu Des.:mrgreen:

  16. anak indonesia
    January 9, 2010

    btw kaki kok bau yah kalau make sepatu, bau ne minta ampun padahal sepatu ku sepatu murah

  17. warm
    January 10, 2010

    endingnya ..
    dasar destiii😆

  18. Ongki
    January 10, 2010

    kaki kedua orang tua saya juga pecah2.. tp, kaki saya masih mulus..

  19. Takodok!
    January 10, 2010

    ::Kurotsuchi::
    wah, mas kuro cocok jadi penari dong:mrgreen:
    soal sesuatu di balik ini, ya, memang perasaan mas kuro saja itu😛

    ::rian::
    mau tiga juga boleh kok yan, saya gak ada masalah😛

    ::dika::
    lho, ini sastra ya?😆

    ::Billy Koesoemadinata::
    cinta kasih ibu terukir lewat kaki juga ya bil?🙂

    ::Chic::
    aduuuhhhh… ini muji bukan sihhhhh?😳
    *dikeplak*😆
    ide bisa datang dari mana saja, apalagi dibumbui iseng kan ya?😛

    ::TamaGO::
    iya kali yaa…
    pokoknya buesaaarrr lah🙂

    ::itikkecil::
    berarti bisa pinjem sepatu mbak ira doongggg😆

    ::JoEy D’JuVe::
    lha itu di atas:mrgreen:

    ::elia|bintang::
    wogh! tercerahkan!
    ^:)^

    ::Mrs.Prast::
    memang, perasaan dek rise saja kok itu B-)😆

    ::Snowie::
    lho kok gitu, kak?
    Hmmm… traktir saya lagi kalo gitu *lho*😆

    ::anak indonesia::
    pake kaus kaki dot, dan diganti tiap hari kaus kakinya. Kalo basah dijemur. Hati-hati jamuran😛

    ::warm::
    kenapa om?:mrgreen:

    ::Ongki::
    baguslah… dirawat kalo begitu🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on January 6, 2010 by in D Plus, D Private and tagged .
%d bloggers like this: