Di Catatan Takodok

Sekerat Cerita Penanda

Things You Already Know : #1 Kebahagiaan Masa Muda Lalu

Bertahun lalu semasa masih berumur 6-7 tahun, satu eksemplar Donal Bebek edisi terbaru atau satu komik Pansy sudah bisa membuatnya lompat-lompat kegirangan. Saat itu orangtua hanya bisa membelikan majalah Ananda atau Bobo di toko buku bekas langganan. Biasanya sebulan sekali, atau dua bulan sekali, atau… bila sempat saja.

Bertahun lalu saat lebaran tiba dan ia pun masih kanak-kanak, diberi sangu sekaleng minuman bersoda sudah bisa membuatnya tersenyum sumringah. Hanya di Hari Raya ia bisa mencicipi minuman mahal itu. Di rumah tak ada, jadi jalan satu-satunya hanya bertamu ke rumah tetangga yang lebih berpunya.

Bertahun lalu ketika ia sudah sedikit lebih tua, 11 atau 12 tahun, bisa membeli novel dengan mengirit jajan di sekolah sangat menyenangkan hati. Misteri Kereta Api Biru dari Agatha Christie dihabiskan dalam waktu 16 jam. Pertama kali ia tidur larut malam demi sebuah buku. Pusing karena kurang tidur. Pusing karena tidak terlalu mengerti apa yang sudah dibaca. Pusing, tapi senang, bahagia.

Bertahun lalu yang tidak terlalu lama, kelas 2 SMP, tidak bisa punya pianika. Mahal. Pinjam ke anak teman mama pun bukan solusi tepat. Namanya juga meminjam, pasti tak terlalu bebas. Padahal mata pelajaran Kesenian butuh alat musik, untuk ambil nilai, praktek, ujian. Akhirnya berkeliling pasar mencari recorder (alat musik tiup). Dapat. Harganya 12ribu. Senang karena punya alat musik juga. Yah… ia memang tidak berbakat di bidang itu, tapi bagaimana pun juga bersyukur setidaknya ada satu alat musik yang bisa ia mainkan doremifasolasido nya. Eh, itu alat musik bukan ya?

Bertahun lalu, berhasil masuk SMA yang katanya unggulan. Ia pergi tes sendiri, eh, menumpang teman yang diantar orangtua si teman. Sekolah tsb jauh, di tengah hutan. Bahkan ia hampir tertidur di perjalanan. Tes berlangsung dari pagi sampai malam. Jam 9. Tak disangka sore hari orangtuanya menyusul, naik motor berdua, membawakan makan siang eh sore. Mereka tak bisa menemani sampai pengumuman keluar. Jelas saja, kan pengumuman baru keluar jam 9 malam. Ia lulus. Sepertinya orangtuanya senang, padahal biaya sekolahnya mahal. 250ribu per bulan. Tapi katanya boleh. Ya sudah. Ia sih senang-senang saja.

Masih bertahun lalu, semasa SMA, ada beberapa kesenangan yang berhasil ia menangkan. Guru keriting. Ratu gila. Naik panggung. Juara oi! Meski nomor 2 tapi yang penting setingkat di bawah juara umum nan genius. Bangga dong senang dong. Dari atas panggung matanya mencari-cari orangtua. Duh, tak kelihatan. Padahal mau pamer; ini lho anak yang sering jadi pungguk bisa naik panggung dan salaman dengan bapak yayasan yang menyebalkan juga. Oh, ternyata si bapak lihat tapi karena terlambat terpaksa duduk di belakang. Sepertinya beliau senang. Alhamdulillah. Ia juga senang, dong. Pasti.

Bertahun lalu yang makin dekat ke masa sekarang, di pulau sebrang, telepon berdering di malam sebelum pengumuman UMPTN. Orangtua itu ternyata tak sabar menanti pengumuman dan menggeret sejawat kantornya untuk membantu melihat informasi di internet, padahal sudah dilarang oleh si anak. Biar saja jadi kejutan esok paginya. Oh, lulus di sini bukan di sana. Yang tua senang bukan kepalang tampaknya. Yang muda? Oh, ia malah memaki sepenuh hati.

Bertahun kemudian.. setumpuk komik telah dibaca, setumpuk Agatha Christie telah dipunyai, plus beberapa jenis fiksi fantasi lain, meningkat ke beberapa buku “serius”, buku lucu nan segar, buku kuliah yang lebih tebal dari bantal tapi jarang disentuh kecuali demi tugas, buku dari blog, sedikit majalah, tabloid, koran, bahkan graphic novel yang sebenarnya mahal. Oh, semua yang dulu cukup ternyata tak cukup lagi. Hal-hal kecil yang dulu menghangatkan hati ternyata tak cukup lagi.

Ingatannya tentang senang dan bahagia makin kabur tahun-tahun belakangan ini. Senang dari benda mati hanya berlangsung sementara. Bahagia dari manusia, uh… lebih mengecewakan. Kamu, bisa bantu cari tau dimana senang dan bahagia yang sebenarnya itu sembunyi? Apa? Bahagia itu ada di dalam diri? See inside yourself? Yeah yeah, si sinis tentu sulit mengejawantahkan petuah itu. Eh, sejak kapan sih anak kecil pecinta minuman bersoda jadi sinis? Ia lupa. Mungkin ketika ingatannya tentang bahagia mulai kabur, kesinisan lah yang menggantikan semua. Entah ya.. saya kan bertanya pada kamu🙂

Update: baru ingat punya gambar ini🙂

Happiness

Happiness

18 comments on “Things You Already Know : #1 Kebahagiaan Masa Muda Lalu

  1. Wiseman Wannabe
    January 11, 2010

    Ah iya, saya pun merasa begitu.
    Makin tambah umur, hidup makin terasa rumit.
    Jadi kangen masa kecil, haha.😀

  2. dika
    January 11, 2010

    err.. emang kakak awalnya pengen kuliah dimana?😀

  3. TamaGO
    January 11, 2010

    definisi kebahagiaan memang bergeser seiring bertambahnya usia, waktu bayi diusep2 aja udah seneng (eh tapi sekarang juga masih seneng ding). waktu kecil dikasih es krim rasanya bahagia, lho sekarang juga masih gitu. Duh susahnya cari contoh yang cocok :hammer:

  4. dika
    January 11, 2010

    dan oiya kak. kayaknya si bapakbapak selamet deh. kayaknya..

  5. morishige
    January 11, 2010

    kirain akhirnya seperti ini:

    dan sabtu lalu anak itu akhirnya berhasil menyelesaikan kuliahnya. diikuti pandangan terharu ayah-ibu, perlahan dia menaiki tangga podium. jumbai toga berpindah, ijazah di tangan.

    :mrgreen:
    *lari, takut ditabok*

  6. Takodok!
    January 11, 2010

    ::Wiseman Wannabe::
    manusia memang cenderung merindukan merindukan masa lalu. Nostalgia itu memabukkan, tonto!😛

    ::dika::
    dimana pun di pulau sebrang deh😆
    alhamdulillah si bapak selamat dan tidak waswas karena kamu kuntit nak😛

    ::TamaGO::
    hmmm… apakah hal-hal tsb masa berlaku bahagia-nya masih sama seperti dulu? Tidak tergantikan oleh keingan-keinginan absurd pengaruh bertambahnya usia?:mrgreen:

    ::morishige::
    amin, Fuji..
    saya anggap itu doa agar saya dapat yg paling baik ya?
    Fuji kapan lulus? bareng ya kita?😛

  7. Chic
    January 11, 2010

    senang dan bahagia bukannya pilihan?

    waktu dapet bobo baru karena selama itu selalu beli bekas, kamu “memilih” untuk merasa senang dan bahagia, maka di sana lah kamu berada..

    sekarang beli graphic novel yang mahal, kamuy “memilih” merasa biasa saja, karena mampu membeli.. ya di situ lah kamu berada..

    coba ganti situasi biasa dengan bahagia

    *tidak membantu*
    😆 😆

  8. Ina
    January 11, 2010

    ehm….rasakan dengan hati dan semuanya akan terlihat sama.😀
    *lg sensi*

  9. itikkecil
    January 11, 2010

    jadi ingin kembali ke masa dulu…..
    *lirik tumpukan diary di gudang*

  10. Pingback: A Pursuit of Happiness « Zero Reality

  11. Frederick Mercury
    January 11, 2010

    semakin lama, hidup terasa makin kompleks. makin lama, makin terasa hampa. saya dan teman saya sepakat soal itu. kenapa? karena standar kita naik sepertinya. ketika jaman kecil dulu donal bebek sudah bisa membikin berbunga-bunga, sekarang saya butuh ‘anatomi cinta’ buat menyenangkan hasrat membaca saya.

    ya, hidup terus berubah. tuntutan berubah. selera berubah. standar berubah. sepertinya saya kudu lebih sering melihat mereka yang kesusahan untuk memperoleh buku dan segala tetek bengek yang saya sudah miliki sekarang, agar saya bisa mensyukuri takaran yang sudah diberikan buat saya

  12. deeedeee
    January 12, 2010

    yaw! bener bgt… makna bahagia makin kabur. Bahagia saat ini juga sedang menghilang dari hati saya😦
    tp ttp brsyukur dg apa yg saya miliki saat ini

    hope we’ll fine our own happiness😉

  13. TamaGO
    January 12, 2010

    ya seiring bertambahnya usia emang keinginan bertambah, apalagi kalo udah punya duit dan bisa beli sendiri. Serem dong kalo masih kecil keinginannya udah aneh2 (minta blackberry, tas prada, mobil mewah, ato minta kawin misalnya)

  14. Akbar Kadabra
    January 12, 2010

    thank you for the super inspiring post🙂 tapi perasaan seperti itu bikin saya jadi pengen meraih sesuatu yang lebih dari apa yang sudah saya punya. bagusnya jadi termotivasi, jeleknya jadi ambisius. hehe.

  15. avartara
    January 12, 2010

    Saat ini adalah saat terbaik bagi diri,…. kehidupan bagai jalanan satu arah,… semua yang telah terlewati adalah kenangan ga mungkin untuk kembali,…. lanjutkanlah perjanalan ini…….. salam

  16. Takodok!
    January 13, 2010

    ::Chic::
    baiklah akan saya sampaikan kepada si kamu, mudah-mudahan bisa membantu. Terimakasih mak Chic:mrgreen:

    ::Ina::
    kenapa lo na? Mau cerita?
    *wink2*

    ::itikkecil::
    terbitkan!😈

    ::Frederick Mercury::
    doh nicknyaaaaaaa😆
    ah, bersyukur, dengan pembanding memang salah satu cara paling “gampang” …

    ::deeedeee::
    alhamdulillah, setidaknya masih optimis ya dee🙂
    lama gak keliatan kemana aja buuuuu?

    ::TamaGO::
    anak SD sudah ada lho yang punya BB. Kalo kita dulu *halah kita*, pan belum ada BB:mrgreen:
    ah, i get your point kok mas telur:mrgreen:

    ::Akbar Kadabra::
    ambisius secara sehat lah bar
    segala sesuatu yang terlalu katanya memang gak baik ya?🙂

    ::avartara::
    siyap bang!

  17. TamaGO
    January 14, 2010

    omigot, anak SD sekarang udah punya BB? dasar anak muda jaman sekarang *mupeng*
    jangankan dulu, sampe sekarang aja masih ga punya blackberry. paling banter cuma blueberry *siapin kaleng fanta buat nimpuk*

  18. mauritia
    January 14, 2010

    ah, Pansy.. Donald Bebek.. minuman soda di kala lebaran..
    miss those simple pleasure..🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on January 10, 2010 by in D Plus and tagged .
%d bloggers like this: