Di Catatan Takodok

Sekerat Cerita Penanda

Andai Ia Tahu

Sabtu siang di pertengahan Januari yang panas Ia duduk di antara teman-teman yang asyik menonton film perjuangan yang skenarionya ditulis oleh bule-bule tampan. Tangannya menggenggam handphone. Sebuah buku tergeletak di sampingnya. The Alchemist, rekomendasi dari teman jauhnya.

Sebenarnya Ia sudah pernah menonton film tsb. Ia tidak terlalu terkesan sehingga berniat menonton berkali-kali. Ia cuma tidak ingin sendiri di kamarnya, membaca buku bagus, atau tidak bagus bin membosankan, seperti Sabtu yang sudah-sudah.

.

.

“Kak, mati gak nanti pak lurahnya?” tanya salah seorang teman. Ia tersenyum. “Lihat saja nanti”

.

“Kak, yang cewek itu mati juga ya?” tanya yang lain beberapa saat kemudian. “Lihat saja. Gak asik dong kalo diceritain,” balasnya sembari menatap layar handphone. Beberapa pesan singkat yang masuk bertubi-tubi mesti dibalasnya sesegera mungkin kalau tidak mau dituduh “tidak pedulian” lagi. Perempuan kadang bisa sangat menyebalkan.

.

“Yaaaaa…. Ketembak! Kok mati sih si Anu itu..”

“Iya, padahal ganteng,”

“Eh itu musuhnya di belakang! Hwaaaaa…”

.

Riuh teman-temannya berceloteh sembari menyaksikan adegan per adegan. Ia menatap mereka. Sejenak perhatiannya teralih dari buku yang sudah setengah dibacanya. Tiba-tiba saja Ia sudah ikut memperhatikan film yang dulunya tidak terlalu mengesankan itu. Tidak ada cerita baru. Detail baru yang tertangkap pun tak seberapa, tapi Ia merasa senang saat itu; melihat reaksi orang lain atas frame-frame yang sudah diketahuinya dan teriakan kecewa atas akhir cerita yang menggantung. Penonton yang responsif dan antusias, itulah teman-temannya.

.

.

Hmmm… mungkin ada gunanya tidak selalu memberi tahu apa yang sudah kita tahu karena tidak semua yang kita tahu itu harus diungkapkan. Some things are better left unsaid katanya. Untuk kasus ini memang lebih baik jangan jadi penonton sok tau. Nikmati saja gambar-gambar bergerak yang sudah diketahui jalan ceritanya. Siapa tau reaksi penonton di sebelah yang jadi hiburan sesungguhnya.

Tuhan, beginikah yang Engkau rasakan saat melihat manusia berkutat dengan berbagai pertanyaan, pergolakan demi tujuan hidup, atau semua yang orang boleh bilang takdir? Tidakkah pernah Engkau merasa geregetan atas pertanyaan tolol mereka dan ingin berkata, “Silent, please. It’s written. All you you have to do is read the sign here and there. Go, and enjoy it.” Atau Engkau malah bosan dan melihat reaksi mereka bisa jadi hiburan untuk-Mu?

Ah. Ia melantur. Mungkin Ia terlalu banyak membaca yang tak mampu dijangkau otaknya. Mungkin Ia terlalu banyak merisaukan hal-hal yang tidak perlu. Mungkin…

Ah. Filmya sudah habis. Ia beranjak dari kamar temannya menuju kamarnya sendiri, kembali ke keruwetan bertumpuk yang Ia cipatakan sendiri. Hiburan sudah usai. Mari, lanjutkan ruwetmu, Ia.

12 comments on “Andai Ia Tahu

  1. cK
    January 17, 2010

    gambarnya bagus…

  2. dnial
    January 17, 2010

    ^ shutter speed lambat, pakai tripod. Atau pakai photoshop buat mbikin ray of lightnya. *apaan sih.*

  3. Takodok!
    January 17, 2010

    Jadi kapan kalian mau motret saya?

  4. dnial
    January 17, 2010

    Kalau ke Padang deh…😛

  5. TamaGO
    January 18, 2010

    lha, jadi ngebahas potonya haha

  6. Takodok!
    January 18, 2010

    Emang bagus sih gambarnya. Tama jg mau motret saya? *lho?*😆

  7. Chic
    January 18, 2010

    Some things are better left unsaid ini kayak tagline-nya blog seorang blogger kondang ya?😆

  8. iChaL
    January 18, 2010

    Gregetan lagunya Sherina kan …😀

  9. tongki
    January 18, 2010

    lha kita kan memang nggak sabaran dan kadang ingin melompati apa yang sudah ditakdirkan🙂

  10. Frederick Mercury
    January 19, 2010

    Some things are better left unsaid

    ah, sepakat sekali dengan yang satu ini. ada beberapa, atau malah banyak hal yang memang sebaiknya tidak perlu kita ketahui, jikalau mengetahuinya justru menimbulkan dampak negatif dan merugikan kita. dan ya, rahasia itu memang ada😉

    Ah. Ia melantur. Mungkin Ia terlalu banyak membaca yang tak mampu dijangkau otaknya. Mungkin Ia terlalu banyak merisaukan hal-hal yang tidak perlu. Mungkin…

    desti kebanyakan mikir deh:mrgreen:

    Ah. Filmya sudah habis. Ia beranjak dari kamar temannya menuju kamarnya sendiri, kembali ke keruwetan bertumpuk yang Ia cipatakan sendiri. Hiburan sudah usai. Mari, lanjutkan ruwetmu, Ia.

    sebelumnya saya mengira ente nonbar di bioskop😐

  11. avartara
    January 20, 2010

    “Film perjuangan”…… untung ga salah arti saya tadinya,….. Btw.. postingannya mendalam… gud gud gud

  12. Ina
    January 31, 2010

    ehmmm….kapan nie mo curhat?😀 *kangen tilpon2an*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on January 17, 2010 by in D Commento, D Plus and tagged .
%d bloggers like this: