Di Catatan Takodok

Sekerat Cerita Penanda

(Sok) Memahami Nasehat Edda

Saya baru separuh jalan membaca “Sang Penyihir Dari Portobello” sehingga pemahaman belum sempurna. Ditambah, saya tidak terlalu mengerti dengan banyak detil dalam cerita tsb. Akan tetapi ada satu bagian yang langsung menarik perhatian, yaitu bagian penceritaan Edda;

… kelompok  sangat penting karena mereka memaksa kita untuk berkembang. Jika kau sendirian , yang bisa kau lakukan hanyalah menertawakan dirimu sendiri, tapi jika kau bersama orang lain, kau akan tertawa kemudian segera bertindak. Kelompok menantang kita. Kelompok memungkinkan kita memilih kesamaan dan rasa suka. Kelompok menciptakan energi kolektif, dan kesenangan datang lebih mudah karena orang-orang saling memengaruhi.

Tertohok, atau lebih tepat menohokkan diri?😆 yah.. saya pikir ada benarnya juga. Terlalu lama sendirian tanpa berkelompok bisa berakibat kikuk pergaulan. Padahal dalam beberapa hal, keluwesan bergaul lah yang bisa menyelamatkan kita dari masalah. Tunggu… kita? Oke, coret, ganti. Padahal dalam beberapa hal, keluwesan bergaul lah yang bisa menyelamatkan saya dari masalah. Selain itu, kelompok kerja bisa membantu saya untuk berdiskusi dan menggali pengetahuan yang belum saya ketahui. Lagipula, terus-terusan ketawa sendiri bisa-bisa disangka gila betulan. Hmmm.. baiklah. Partners, aku dataaaannngggggggg :-*😆

Tapi… ada kelanjutannya;

Tentu saja kelompok juga bisa menghancurkan kita, tapi itu bagian dari kehidupan dan keadaan manusia—hidup bersama orang-orang lain. Dan setiap orang yang gagal membangun insting untuk bertahan, tidak memahami apa pun yang telah dikatakan sang Ibu.

Nah lho, itu lagi kan masalahnya; insting untuk bertahan😐 Oke, mungkin saya yang terlalu mengaitkan-ngaitkan apa yang tertulis dalam buku tsb dengan keadaan saat ini. Sang Ibu? Gak ngerti ah. Kelompok yang dimaksud pun memang berbeda. Penulisan itu  tertuju pada tokoh Athena yang perkembangan emosi dan jiwanya (mungkin) sudah mencapai taraf extraordinary. Athena sudah punya modal keyakinan pada diri sendiri sehingga dia memang perlu mengembangkan jiwanya dengan berinteraksi dalam kelompok ajar. Lha saya?😐

Tapi.. okelah. Mari kita, eh saya, berandai-andai bahwa sejatinya memang sudah saatnya untuk berkelompok. Apakah kelompok ini akan menghancurkan? Apakah insting bertahan saya sudah layak uji? Humm.. saat ini pilihannya memang cuma berkelompok dengan partners dan (mungkin) meninggalkan kelompok yang hanya mengganggu ketenangan batin. Babak belur? Iya. Ketika itu terjadi; babak belur berdarah-darah plus lebam memar di sana-sini, atau nyeri yang menusuk, mari kembali duduk sejenak sembari menertawakan diri. Ya, begitu saja.

Eh, ini apa sih dari tadi ngomong menertawakan diri sendiri? Begini, ini ada satu lagi kutipan ;

Jangan seperti orang-orang yang percaya dengan ‘pemikiran positif’ dan berkata pada diri mereka sendiri bahwa mereka dicintai dan kuat dan mampu. Kau tak perlu melakukan itu karena kau sudah mengetahuinya. Dan ketika kau meragukan hal itu—yang ku pikir, cukup sering terjadi pada tingkatan evolusi ini—lakukan seperti yang ku sarankan. Daripada coba membuktikan bahwa kau lebih baik daripada yang kau pikir, tertawa saja. Tertawakan kekuatiran dan rasa tidak amanmu. Pandang kegelisahanmu dengan rasa humor. Awalnya akan sulit, tapi perlahan-lahan kau akan terbiasa.

Kesimpulannya; #pertama, ketika lelah dengan segala kegagalan, ketidakpuasan, ketidakmampuan, kekalahan, kesendirian, tertinggalkan, tercampakkan, semua yang membuatmu merasa tak berarti, bukan apa-apa.. tertawa saja. Tertawakan kekuatiran dan rasa tidak amanmu. Pandang kegelisahanmu dengan rasa humor. Meyakinkan diri dengan pemikiran positif mungkin baik, tapi untuk itu kan butuh energi sedang saat kau merasa tak berarti dan tak berdaya kau cuma bisa tergeletak begitu saja dan berharap ditelan Lubang Hitam. Lagipula, kadang pemikiran positif hanyalah nama lain dari menipu diri. Ups, maaf kalau menyinggung kalian yang sungguh menyatu dengan pemikiran positif. Ganti saja semua kata ganti orang kedua tunggal dengan kata ganti orang pertama tunggal. Kau/kamu ganti dengan saya/aku. Toh saya memang sedang berbicara dengan diri sendiri. Medianya saja yang lewat tulisan.

#Kedua, kan baru pertama tadi ya?:mrgreen: , saya tidak bisa terus-terusan tertawa sendiri. Kembali lah berkelompok karena begitulah adanya bahwa manusia harus hidup dengan orang-orang lain. Mungkin, dengan begitu saya akan sedikit lebih “hidup”. Mungkin saya akan bermasalah dan tersakiti lebih jauh. Tak apa, sudah biasa. Eh salah. Tak apa, toh saya bisa kembali menertawakan diri saja. Setidaknya otot muka akan terlatih. Awet muda dongdongdong. Lalu setelah cukup tertawa, balik berkelompok lagi. Capek. Tertawa lagi. Begitu terus sampai mati. Hahaha.

Oke. Cukup menginterpretasikan dua halaman buku yang belum selesai dibaca secara semena-mena. Tak mengerti? I’ve told you it just another rubbish talk! Eh salah. Maksudnya bicara pada diri sendiri. Lewat media tulis menulis. Begitulah. Hahaha😆

13 comments on “(Sok) Memahami Nasehat Edda

  1. itikkecil
    February 8, 2010

    *agak bingung*
    tapi biasanya dengan berkelompok keberanian untuk melakukan apapun timbul. termasuk kelakuan negatif seperti membully orang lain.

    Jangan seperti orang-orang yang percaya dengan ‘pemikiran positif’ dan berkata pada diri mereka sendiri bahwa mereka dicintai dan kuat dan mampu. Kau tak perlu melakukan itu karena kau sudah mengetahuinya. Dan ketika kau meragukan hal itu—yang ku pikir, cukup sering terjadi pada tingkatan evolusi ini—lakukan seperti yang ku sarankan. Daripada coba membuktikan bahwa kau lebih baik daripada yang kau pikir, tertawa saja. Tertawakan kekuatiran dan rasa tidak amanmu. Pandang kegelisahanmu dengan rasa humor. Awalnya akan sulit, tapi perlahan-lahan kau akan terbiasa.

    ah ya, selalu berpikir positif memang akhirnya jadi seperti menipu diri sendiri saja. kenapa tidak akui saja kalau saya memang lemah….
    *menertawakan ketakutan diri*

  2. bearnuts
    February 8, 2010

    (sok) komentar ah

    kalau gw tiap denger kata ibu seringnya ngartiin sebagai bumi (mother earth). coba baca http://www.great-spirit-mother.org/, tadi gugel cepet nyari referensi.

    “Dan setiap orang yang gagal membangun insting untuk bertahan, tidak memahami apa pun yang telah dikatakan sang Ibu.” -> gw nanggepnya sih: yang nggak berhasil beradaptasi, karna dia nggak mau/bisa mbaca petunjuk/tanda-tanda dari alam. tapi entah lah, mbacanya juga sepotong.

  3. christin
    February 8, 2010

    aku benci karena apa yang kamu bilang di atas itu bener des😆

  4. fajr
    February 8, 2010

    mampir ah.. (ninja)
    bagoes..

  5. mas stein
    February 8, 2010

    agak mumet saya mbacanya, tapi kadang berkelompok efek buruknya adalah hilangnya perasaan tanggung jawab pribadi, makanya orang yang kalem pun kadang kalo sudah sama gengnya bisa mendadak jadi brutal😆

  6. Kurotsuchi
    February 9, 2010

    (sok) ngerti deh saya perasaan macam itu. tapi buat saya, berkelompok itu membikin saya menemukan tolok ukur, buat mengukur kapasitas saya menggunakan analisis komparatif. perbandingannya? yaa teman-teman yang ada di kelompok itu:mrgreen:

  7. sez
    February 9, 2010

    agak bingung.. hehe
    tapi katanya ada juga teori yang bilang kalo orang yang berkelompok itu cenderung bisa melakukan hal yang tidak akan berani dilakukan kalau dia sendirian..
    ini maksudnya merefer pada perilaku negatif seperti perusakan gituh?
    eh.. ini nyambung ga sich? :p

  8. Mizzy
    February 10, 2010

    Hmm, hidup berkelompok memang perlu karena manusia tak bisa hidup sendiri. Tapi jika terlalu bergantung pada kelompok, individu itu bisa sedemikian pengecut dan tidak independen-nya🙄. Jalan tengahnya mungkin berkelompoklah tapi jangan melebur😛.

  9. Lumiere
    February 11, 2010

    witch of Portobello??!!

    gitu.. katanya bacaanku serius semua, lha sama kan skr? Paolo Coelho?😛

    aku lebih suka Athena:mrgreen: mempesona..

  10. Eka Situmorang-Sir
    February 12, 2010

    =>Tertawakan kekuatiran dan rasa tidak amanmu. Pandang kegelisahanmu dengan rasa humor.

    Quote of the day hari iniiiih!!!!😉
    Thank uuuuuuuuuu

  11. Ina
    February 12, 2010

    kebanyakan ketawa sendiri entar dibilang gila lho,dok.😛

  12. Snowie
    February 13, 2010

    Untuk sementara, mentertawakan kemalangan sendiri itu mungkin cukup menghibur, tapi kadang2 tindakan itu cukup mengerikan juga lho…

    Btw, kalau kakak lebih suka positif feeling aja dalam menyikapi masalah… Berusaha nrimo gitu..

    Btw 2, kelompok bermain itu memang besar pengaruhnya. So, pintar2 lah dalam memilih kawan.🙂

  13. warm
    February 15, 2010

    makin lama kau main bijak, bu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on February 8, 2010 by in D Private and tagged , , .
%d bloggers like this: