Things You Already Know: #2 Bersyukur Tanpa Pembanding

Minggu lalu saya bertemu seorang wanita yang belum pernah meninggalkan desa yang ia tinggali. Bahkan ke ibukota propinsinya saja ia belum pernah. Setali tiga uang dengan suaminya, yang mungkin sedikir lebih baik. Bapak ini pernah mengunjungi adiknya di propinsi sebelah, hampir 20 tahun lalu.

Lalu? Ya begitu. Seumur hidup mereka hanya tinggal di tempat lahir. Dunia mereka terbatas rumah-anak-pekerjaan-bagaimana makan hari ini. Terdengar klise? Nah, bagaimana kalau saya ceritakan bahwa beberapa teman, termasuk saya, mengeluh sudah bosan tinggal di kota ini, lapar tapi malas keluar (bukan berarti tak punya uang), kehabisan uang menjelang akhir bulan karena keasikan belanja, … oke. Berhenti. Pasti anda sudah mengerti. Kalimat “I used to cry because I had no shoes until I met a man with no leg” yang saya baca di suatu tempat cukup mewakili.

Tidak, saya tidak menyuruh anda berhenti mengeluh. Itu hak anda. Saya juga sering mengeluh. Saya juga tidak menyuruh anda berhenti bersenang-senang melalui materi, toh itu milik anda pribadi. Pun anda mendapatkannya secara tidak halal, resiko anda yang tanggung. Lagipula mereka yang tidak seberuntung anda (atau saya), bila diberi kesempatan juga akan memanfaatkannya untuk bersenang-senang.

Saya hanya ingin bertanya, bisa tidak sih kita bersyukur tanpa pembanding? Bisa jadi orang yang “dikasihani” sebenarnya senang-senang saja karena ia tidak tau apa yang tidak pernah ia miliki. Tapi orang dengan posisi “mengasihani” merasa bersyukur karena hidupnya (mungkin) lebih baik, dan pada akhirnya suasana hati yang buruk karena keluhan berangsur-angsur membaik.

Apa cara ini benar?

Ya, saya tahu topik ini sudah sering dibahas. Mas stein dulu sekali pernah membahasnya. Kriyis pasti mengerti bagaimana perasaan ini. Mbak chic juga sering mengingatkan agar bersyukur. Teman-teman lain juga pasti sering bertanya-tanya. Mungkin beberapa merasa pertanyaan ini tidak penting, karena kalian terlalu sibuk sehingga tidak sempat memikirkan hal remeh seperti ini, atau hidup kalian mendekati sempurna sehingga tidak perlu diganggu pertanyaan semacam ini.

Ya sudahlah. Selamat Imlek saja. Gong Xi Fa Cai! 😀

Advertisements

About Takodok!

sleep tight, play hard, read carefully.
This entry was posted in D Commento, D Plus, D Private and tagged . Bookmark the permalink.

30 Responses to Things You Already Know: #2 Bersyukur Tanpa Pembanding

  1. christin says:

    Selamat Tahun Baru !! Mari bersyukur tanpa berpikir ada orang lain yang memiliki sesuatu lebih dari kita ataupun gak punya sesuatu yang kita miliki 😀

  2. gapapa lagi, ga perlu merasa bersalah karena udah membandingkan diri (walo kalo merasa bersalah itu lebih baik lagi) *ditendang* :mrgreen:

    membandingkan itu cuma salah satu cara utk sadar, des, sependek yg saya tau. ada banyak cara utk sadar. sbg manusia, fitrah kita utk lupa. dan membandingkan, adl salah satu cara utk ingat.
    bagus sekali buat mereka yg sudah bisa ingat (alias sadar or ‘aware’) dari dalam diri sendiri, tnp harus membandingkan dg keadaan externalnya (orang lain).

    yang paling penting sebenarnya adl, rasa syukur itu diwujudkan lewat apa…

  3. mas stein says:

    angpaonya mana?? :mrgreen: sebenernya membandingkan adalah proses belajar, jadi memang diperlukan, tapi harusnya bukan dalam rangka bersukur.

  4. TamaGO says:

    *ikutan nodong angpao*
    sekalian Happy Valentine Day *ditambah nodong coklat*

  5. warm says:

    ya bersyukur dengan ikhlas.
    ya..

  6. Lala says:

    Betul.
    Seringkali kita harus merasa bersyukur setelah melihat ada orang-orang lain yang nasibnya tak lebih baik dari kita. Nah, bersyukur karena apa yang sudah diberikan tanpa harus menoleh ke orang lain memang butuh waktu, ya.. Cuman, worth to try lah..

    Sekarang,
    bersyukur atas nafas yang sudah dihembus pagi ini aja.. sudahkah kita lakukan? BUkankah itu tak perlu menggunakan pembanding? 🙂

    Salam kenal, ya
    Maaf belum2 udah cerewet begini… 🙂

  7. Hemmm untuk sampe pada taraf bersyukur tanpa membandingkan sesuatu, ada proses panjangnya tuh. Mau njelasinnya susah, but for sure been there done that lah 😀

    btw, tulisan gue yg terakhir yang ini ada satu kalimat terakhir terinspirasi dengan artikelmu yg sebelumnya tentan bising 😀

    GONG XI, GONG XI 🙂

  8. Kurotsuchi says:

    bukannya kebanyakan orang itu bikin analisis komparatif? *eh* haha :mrgreen:

    kalopun saya mencoba mengalihkan sudut leher ini, mata saya sekalipun jadi juling tetap berkeliling mencari patokan. kurang lebih begitu.

  9. Chic says:

    bersyukur tanpa pembanding? bisa banget sebenernya, untuk manusia-manusia pilihan, bukan rakyat jelata kayak kita 😆

  10. itikkecil says:

    IMHO, pembanding itu cuma pengingat saja buat saya untuk stop mengeluh. sebagai manusia biasa saya biasa mengeluh ini dan itu. dan kalau bertemu pembanding itu saya jadi ingat kalau sebenarnya tidak ada alasan buat saya untuk mengeluh.

    • Takodok! says:

      saya juga biasanya seperti itu mbak, cuma kadang terpikir, kalau saja orang yang saya jadikan pembanding mengetahui “kesyukuran” saya, apa dia tidak lantas merasa dikasihani?

      Tapi.. yaaaaa… :mrgreen:

  11. pandaya says:

    sekarang saya cuma ingin banyak bersyukur tanpa mengeluh lagi
    bersyukur krn tnyata saya sudah dikasih banyak hal yang meskipun kecil kadang tidak berasa karena saking terbiasanya
    salam kenal 🙂

  12. elia|bintang says:

    pada dasarnya, setiap orang itu sudah ditetapkan jalannya masing2. pembanding itu justru membuat kita kehilangan fokus dan ga bersyukur. kl saya selalu bilang: be happy for no reason.. 😀

  13. Ina says:

    kecenderungan utk selalu membandingkan membuat semuanya terasa tak pernah cukup.

  14. darahbiroe says:

    itulah manusia sellu merasa tak pernah puas dengan apa yg dimilikinya dan ingin membanding2kan

    dan sesungguhnya jika kita pandai bersyukur bukanya nikmat tuhan akan semkin berlimpah

    berkunjung dan ditunggu kunjungan baliknya makasihh 😀

  15. Asop says:

    Huaaaa… bagus banget… 🙂
    Bener tuh, kalo belum melihat yang lebih buruk dari kita, selalu saja kita mengeluh bahwa kita ini adalah yg paling buruk. Padahal di bawahnya bawah masih ada bawah, dan di atasnya atas masih ada atas…. ^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s