Di Catatan Takodok

Sekerat Cerita Penanda

Kutipan Buku: Detik-Detik yang Menentukan

Kekuasaan adalah amanah dan titipan Allah SWT, Tuhan Yang Maha Kuasa, bagi mereka yang percaya atas eksistensi-Nya. Bagi mereka yang tidak percaya atas eksistensi-Nya, kekuasaan adalah amanah dan titipan rakyat. Pemilik Kekuasaan tersebut, tiap saat dapat mengambil kembali milik-Nya dengan cara apa saja.

Kutipan di atas terpampang pada halaman awal Bab I buku “Detik-Detik yang Menentukan, Jalan Panjang Menuju Demokrasi” yang ditulis oleh Bacharuddin Jusuf Habibie, Presiden ke-3 RI.

Buku ini ditulis berdasarkan catatan harian beliau serta beberapa komentar beberapa surat kabar nasional pada masa itu sehingga pembaca kurang lebih mendapatkan gambaran apa yang terjadi pasca lengsernya pak Harto dan selama BJ Habibie menjabat sebagai presiden, tentunya dari sudut pandang beliau sendiri. Sampai halaman 208 (baca: yang baru terbaca oleh saya dari total 550 halaman) tergambar tindakan dan kebijakan BJ Habibie selama masa pemerintahannya, terutama pada saat awal setelah beliau dilantik, meski tidak populer pada masanya tapi sistematis, efisien, berani. Diakui sendiri oleh beliau cara kepemimpinannya sangat dipengaruhi oleh model “Orba” tapi beliau telah merubah beberapa hal secara drastis, salah satunya desakralisasi jabatan presiden.

.

.

Oh, sekarang saya terdengar seperti groupies-nya😆 Tapi memang saya akui beliau adalah presiden yang paling saya kagumi. Sebagai orang yang sangat awam dalam dunia politik, saya terbengong-bengong ketika membaca buku ini. Bukan karena bertabur istilah politik yang tidak saya pahami, tapi seakan membaca GBHN jaman SD dulu. Beberapa kebijakan Habibie, terutama yang berkaitan dengan pemulihan ekonomi pada masa itu dijabarkan secara “agak detail”, terutama masalah independensi Bank Indonesia. Seperti kutipan beliau, The devil is in the detail.

.

Baik, saya belum selesai membaca maka saya kutip saja dasar pemikiran dan sistem penyelesaian permasalahan yang beliau anut dalam membuat kebijakan:

  1. Dalam kehidupan, tidak ada masalah yang dapat diselesaikan secara sempurna;
  2. Semua penyelesaian permasalahan tsb harus diselesaikan melalui pendekatan atau aproksimasi (approximation). Dimulai dengan “pendekatan nol” (A0) yang mengandung pemikiran dasar dan sistem dasar penyelesaian masalah tsb, dilanjutkan dengan pendekatan kesatu (A1), kedua (A2), ketiga (A3), dan seterusnya sampai pendekatan ke-“m” (Am);
  3. Tergantung pada pendidikan, ketrampilan, budaya, pengalaman, dan keunggulan seseorang, maka pada A0 masalah yang dihadapi sudah dapat diselesaikan 50% atau 60%, bahkan mungkin 80%, tetapi jelas tidak mungkin 100% atau secara sempurna. Jelas baru pada pendekatan  mungkin A20 atau A30 atau Am dimana m=55 atau pendekatan ke-55 (A55), masalah tsb dapat diselesaikan 98% mendekati penyelesaian sempurna. Dengan perkataan lain, penyelesaian masalah apa saja membutuhkan waktu dan biaya;
  4. Jikalau katakanlah pada A100 (m=100) kita sudah mencapai lebih dari 90% penyelesaian permasalahan mendekati kesempurnaan, maka biasanya tiap peningkatan , katakanlah dari 90% menjadi 91% atau A100 menjadi A101, hanya dapat diselesaikan dengan pengorbanan besar atau biaya yang tinggi;
  5. Pada titik inilah kita harus bertanya kepada diri kita sendiri atau si pemberi tugas, apakah kita bersama menyanggupi mengambil langkah yang mengandung banyak resiko dan pengorbanan untuk meningkatkan penyempurnaan hasil penyelesaian yang sedang kita hadapi?
  6. Jikalau jawabannya jelas “dilanjutkan” atau “tidak dilanjutkan”, maka kebijakan yang harus diambil adalah kebijakan yang mengandung resiko dan pengorbanan serendah-rendahnya;
  7. Jikalau tidak jelas jawabannya, dan kendala waktu serta kondisi tidak memungkinkan untuk mendapatkan jawaban dari si pemberi tugas, maka seorang pemimpin harus berani dan tegas mengambil langkah kebijakan, dengan resiko dan biaya diperhitungkan;
  8. Adakalanya, keadaan dan kondisi memungkinkan untuk memperbaiki proses penyelesaian permasalahn tanpa mengorbankan prinsip dan ssstem dasar. Dalam hal ini, lebih menguntungkan memulai tahap baru dengan pendekatan penyelesaian B0, B1, … sampai Bm sesuai system pemikiran di atas.

.

.

Sistematis, terstruktur dan teknis ya? Yah, tidak perlu jadi presiden yang memecahkan permasalahan negara, “dasar pemikiran dan sistem penyelesaian masalah” di atas bisa diadaptasi untuk menghadapi permasalahan yang kita hadapi sehari-hari. Bukankah masalah (dalam) hidup tidak akan pernah habis, (karena) tidak ada masalah yang dapat diselesaikan secara sempurna?🙂

13 comments on “Kutipan Buku: Detik-Detik yang Menentukan

  1. Chic
    February 25, 2010

    aku punya yang in english doooong, langsung dari Bapak dan lengkap dengan tanda tangan beliau.. *siyul-siyul*:mrgreen: :mrgreen:

    • Takodok!
      February 25, 2010

      dapet dari Kick Andy atau gimana mamaaaakkk? Bikin iri aja ih ih (nottalking)

      • Chic
        March 1, 2010

        iiih baca komen ku fast reading ya? jelas-jelas tak tulis dapet “langsung dari Bapak” … ya berarti dapet langsung dari Pak Habibie dooongs..😆

        *biar sekalian tambah iri.. hihihihihi*

        • Takodok!
          March 1, 2010

          *nangis darah*
          mbok ya saya dikenalin gitu lho *eh*

  2. mas stein
    February 25, 2010

    itu pendekatan presiden apa guru fisika tho mbak? ndak mudheng soale dulu saya anak IPS😆

  3. sora9n
    February 26, 2010

    Baik, saya belum selesai membaca maka saya kutip saja dasar pemikiran dan sistem penyelesaian permasalahan yang beliau anut dalam membuat kebijakan:

    1. …

    2. …

    Ini benar-benar cara berpikir insinyur. 😆

    Eh, tapi Pak Presidennya kan memang insinyur yah? Jadi memang nggak aneh sih… ^^;;

  4. warm
    February 26, 2010

    makasih ringkasannya
    tulisan yg keren, dok

  5. elia|bintang
    February 28, 2010

    saya ga terlalu ngerti politik. tapi kl tentang penyelesaian masalah, pendekatannya memang insinyur banget. saya sendiri memilih bersahabat dgn masalah. hidup ini isinya masalah kan.. ga usah terlalu dipusingin:mrgreen:

    etapi ngmg2, yg kurang dari buku ini itu covernya. kyknya salah hire desainer nih😆

  6. Rukia
    March 1, 2010

    benar-benar menerapkan pemikiran teknis seorang insinyur, bahkan dalam ranah politik. praktis dan tidak berbelit😆

  7. Takodok!
    March 1, 2010

    latar belakang pendidikan dan lingkungan sejak kecilnya memang berpengaruh sekali, dan ya.. sedikit banyak saya “rindu” tangan dingin beliau di masa “reality show” seperti ini:mrgreen:

    covernya… ummm.. ya begitu lah😛

  8. jensen99
    March 2, 2010

    Syukurnya waktu beliau memerintah, DPR-nya masih orde baru, jadi pemerintahannya juga lancar jaya.:mrgreen:

    BTW, saya masih sering kesal dengan keputusan beliau bikin pabrik pesawat selama belasan tahun jadi menteri, yang sekarang hasilnya gak terlalu menguntungkan. Coba kalo dulu beliau buat pabrik motor, pasti sekarang kita sudah punya motor nasional yang murah dan laris-manis…😐

  9. pandaya
    March 3, 2010

    memang kita tidak selalu bisa menyenangkan semua pihak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on February 25, 2010 by in D Commento, D Reviews and tagged , , , .
%d bloggers like this: