Di Catatan Takodok

Sekerat Cerita Penanda

Setelah Ini, Mau Bagaimana?

Saya ingin berbagi cerita, bukan kiat ataupun trik, malahan keluh kesah.

.

Sebentar lagi penerimaan mahasiswa baru. Wajah-wajah segar yang siap menaklukkan dunia akan membanjiri kampus. Belum tahu saja bagaimana rasanya terhimpit padatnya jadwal kuliah, serangan tugas bertubi-tubi, dan kontaminasi laboratorium *eh*😛 Beberapa dari mereka, sebagian besar malahan, biasanya masuk tanpa bayangan apapun tentang jurusan/fakultas yang telah mereka pilih. Beberapa dari beberapa tadi bisa cepat beradaptasi dan mengikuti laju perkuliahan. Sisanya terseok-seok dan sedikit terseret arus. Mudah-mudahan tidak mati kelelahan lalu tenggelam.😐

.

Sebelum bercerita lebih jauh saya ingin memperingatkan apa yang dibicarakan di sini lingkupnya adalah lingkungan universitas tempat saya bernaung. Beberapa cuplikan pembicaraan dengan teman, senior dan junior satu fakultas maupun lain fakultas, membangkitkan keinginan untuk berkeluh kesah. Saya tidak tau pasti dengan teman-teman di unversitas lain, walau rasanya permasalahan ini cukup umum sih. Mudah-mudahan tidak terkena pasal pencemaran nama baik karena menceritakan aib sendiri *halah*

.

Kembali ke sisa yang terseok dari beberapa yang buta arah tadi, menurut penuturan seorang rekan yang mengambil kuliah sastra asing (anggap ini sebagai contoh), kelemahan ia dan teman-temannya ada di penguasaan bahasa. Mereka tidak menyangka jalannya perkuliahan di sastra asing akan seperti itu. Lah, bahasanya saja kurang mereka kuasai, masih terbata-bata, bagaimana mau membahas linguistik, fonem, semantik, idiom, dsb?

Yang lebih saya sesalkan, masih menurut penuturan si rekan, adalah rendahnya minat baca satu kelas di jurusan sastra asing tadi. Apa yang mau dipelajari coba kalau membaca karya sastra saja malas? Ibarat mau bikin kue bolu tapi malas menimbang tepung. Lebih parah lagi, jangankan karya sastra asing, bahkan buku populer dalam negri saja tidak mau mereka cerna. Haduh..😐

Minat baca memang tidak bisa dipaksakan, tapi kalau ini terjadi pada bidang  yang semestinya menuntut kejelian dan apresiasi pada karya tertulis, pantas saja dosen di jurusan bersangkutan marah-marah selalu.

.

Ah, saya taunya cuma mengkritik orang lain saja. Kamu sendiri bagaimana, des?

Yah, pernah dengar kalimat, “bila tidak bisa jadi contoh yang baik jadilah peringatan keras” ? Nah, saya adalah peringatan keras bagi orang-orang sekitar😉

Tapi secara umum, untuk jurusan saya, ada gunanya jadwal kuliah-praktikum padat dan tugas tiada ampun dari dosen (walau kadang menggerutu setengah mati sih, ga ada yang nempel di kepala soalnya). Mau tak mau kami dipaksa belajar, dan berusaha menjadi ahli di bidang ini. Kalau tak sanggup lebih baik loncat saja, jangan cari makan di bidang ini. Bukan hal membanggakan juga sih🙂

Kekurangannya tentu ada. Banyak malahan. Mulai dari sistem, fasilitas, maupun motivasi dan penghargaan. Well, tidak enak juga membahasnya. Agak tidak adil ya? Maaf deh. Lain kali saja😉

.

Kembali lagi ke mereka yang tersisa dan terseok-seok dari beberapa yang buta arah tadi, kira-kira apa yang sebaiknya mereka lakukan di tempat yang tidak mereka ingini? Pertanyaan serupa sudah saya lontarkan di plurk dan twitter. Beberapa menjawab, berdasarkan pengalaman pribadi, menamatkan kuliah lalu belajar hal yang disukai. Faktor hutang budi ke orangtua?😉 11-12 dengan sambil kuliah sambil belajar hal-hal lain, yang rasanya agak berat walau bukannya tidak mungkin. Ada pula yang  berani meninggalkan kuliahnya dan lanjut di bidang yang sesuai minat.

Bagaimana jika tidak betah di tempat kuliah tapi tidak tahu apa minat anda? Kasian.. saya juga gitu sih *eh* Mungkin ada baiknya pelajari saja dulu semua. Makan waktu memang, tapi ada gunanya juga banyak tau walau sedikit-sedikit. Atau ada yang punya saran lebih brilian? Silahkan dibagi. Mohon dibagi🙂

.

Sebagai penutup, dan inilah isu utamanya, sungguh memprihatinkan melihat tiap tahunnya para (calon) lulusan SMA terbingung-bingung. Setelah ini mau kemana? Mau bagaimana? Yang beruntung memiliki jalur informasi, orangtua/sanak saudara yang membimbing, atau bimbel yang memberi pengarahan. Yang berasal dari daerah terpencil, tidak tahu apa-apa, hanya bermodalkan sawah luas di kampung dan keinginan kuat orangtua untuk mensarjanakan anaknya, dilepas sendirian ke arena kampus untuk menelan bulat-bulat segala macam teori yang tidak pernah ia mengerti apa gunanya. Bisa jadi ia suka, bisa jadi tidak. Bila tak suka, pada akhirnya kuliah hanya sekedar itu. Formalitas saja, menambah panjang nama di kartu undangan pernikahan (ini bukan saya yang ngomong, tapi pak dosen tersayang).

Berlebihan ya saya? Kan sudah dibilang ini hanya keluh kesah. Terimakasih  sudah membaca ya😉

.

.

ps. Thank youu kak ai, mbak pupusscantik, mbak omith, kriyis, celo dan kak an sudah mau urun rembuk *halah* (cozy) (cozy) (cozy)

12 comments on “Setelah Ini, Mau Bagaimana?

  1. lambrtz
    July 4, 2010

    Hehehe…kalau soal pendidikan mesti tertarik:mrgreen:

    Menjawab pertanyaan yang aslinya dilontarkan di plurk, kalau saya sih ga merasa salah jurusan. Belok sedikit saja, tapi pandangan masih ke arah yang sama.:mrgreen: *dikemplang*

    Anyway,

    Bagaimana jika tidak betah di tempat kuliah tapi tidak tahu apa minat anda?

    beberapa tahun yang lalu waktu masih SMA, seorang pembicara pernah berkata kepada kami, peserta pembekalan kuliah. Kalau setelah ditimbang-timbang merasa salah jurusan, keluar saja, kuliah yang baru, ketimbang merasa tidak nyaman terus-terusan. Mungkin terlalu generalisasi, tapi yaa ada benernya juga sih: saya dulu tidak suka PMP/PPKn dan masih tidak suka. Tapi karena menyangkut nasib hidup, tidak banyak yang berani gambling begini ya?😕

    Alternatif lain, bisa ambil S2 di bidang yang sebenarnya diminati🙂
    Tapi ini kalau bidangnya ga beda jauh dengan yang diambil saat itu sih. Kalau S1 teknik S2 seni murni susah kayanya…

    Sebagai penutup […]

    Nah ini yang susah.😕

  2. lambrtz
    July 4, 2010

    BTW kok templatenya aneh sih un? Jarak antar baris kalau ada emoticon kayanya besar banget.😕

  3. Takodok!
    July 4, 2010

    @lambrtz
    Sayangnya (kalau memang sayangnya sih), tidak banyak juga yang berani keluar dari jalur dan memulai di tempat baru. Apalagi kalau ada campur tangan ortu. Maka opsi jalani saja sembari lirik kanan-kiri yang paling banyak diambil. yah, the story of our own lah itu *halah*

    Alternatif lain, bisa ambil S2 di bidang yang sebenarnya diminati.
    Tapi ini kalau bidangnya ga beda jauh dengan yang diambil saat itu sih. Kalau S1 teknik S2 seni murni susah kayanya…

    dan tadi saya disarankan ambil S2 sastra asing. Hadeuh…😐

    template-nya emang aneh. Tapi berhubung saya suka latar dan lay outnya, mohon bertahan saja ya?

    Bertahan satu cintaaaaa… bertahan satu CE-I-EN-TE-A! *mulai korslet*😆

  4. Ina
    July 4, 2010

    Kodok kapan wisudanya? Eh atau sudah wisuda blm sih?😛

    *komen cari mati*

  5. Kurotsuchi
    July 4, 2010

    sepertinya, ini topik retorik, desti. kalau dilakukan survey, saya yakin, mayoritas akan mengakui (bila jujur) bahwa ia salah masuk jurusan. saya pun pada pertengahan hingga akhir perkuliahan sering berdiskusi sama temen, dan saling mengakui bahwa ada sesuatu yang salah: kamu berada di tempat yang tak seharusnya. kapasitas otak dengan IQ rendah tak bisa membikin saya leluasa menekuni bidang yang selalu menarik minat saya: antara arsitektur atau kedokteran.

    saya tak menyebutnya dilematis, tapi yaa itu tadi. saya pikir semua orang bakal bilang begitu; bahwa mereka salah masuk jurusan, meski itu semuanya hanya bentuk justifikasi bahwa mereka lelah dengan tugas dan rutinitas yang kudu dilakoni di fakultas/major masing2. dan saya juga sedikit percaya, berada di fakultas archie atau malah kedokteran bakal membuat saya merasa lebih salah tempat lagi😛

  6. Asop
    July 4, 2010

    Saya ga bisa komentar….🙂

    Nikmati aja hidup ini lah. ^__^

  7. Pensiunan Mahasiswa™
    July 4, 2010

    Saia merasa terwakili bibir saia yang sudah macam corong minyak tanah pidato soal hal yang sama dalam keluarga besar, sanak-kerabat, handai-tolan dan orang sekampung. Sebagai mantan mahasiswa yg hengkang dari kampus, saia sarankan: jangan memasrahkan nasib di jurusan yg bukan semestinya kita di situ, kecuali sanggup beradaptasi dan membelokkan ambisi pribadi. Kalau sudah lekat kaki di situ, selesai kuliah balas-dendamkan dgn satu atau lain cara. Hidup kan soal pilihan, tak satu jalan ke Payakumbuh😀

  8. ai
    July 4, 2010

    sebenarnya semua jenis jurusan itu menarik, hanya saja packagingnya yg kurang menarik…dan para dosen di Univ kita itu (ga tau deh klo di Univ lain) dari awal masuk k kampus sampai tamat kita diperlakukan sperti Anak SMA, otomatis kita jadi terbiasa disuapi bahkan sampai tamat pun kita kelabakan karena ga ada yg nyuapi kita….skrg sih g ada gunanya menyesali..klo rasanya financial memungkinkan rasanya gpp jug klo segera hengkang dari sana dan kuliah ditmpt lain yg sangat di impikan…

  9. devieriana
    July 6, 2010

    selepas kuliah saya nggak pernah kerja yang sesuai sama edukasi saya. Blas nggak ada yang sama. Setelah sekian tahun kemudian baru ketemu sama yang bener-bener sesuai sama background edukasi saya..😀

    Kadang emang harus nyasar dulu sih😀

  10. Juminten
    July 8, 2010

    aku punya adik yg baru mau masuk kuliah.
    dan waktu dia mau milih jurusan, dia nelponin aku lamaaaa bgt. takut salah milih katanya.
    padahal kan yg lebih tau minat dan kemampuannya sih seharusnya dia sendiri kan, ya? hihihi…
    tp emang sih, adikku cuma nanya2 gambaran pelajaran kuliahnya kira2 spt apa.😛

    alhamdulillah, aku kuliah dan bekerja sesuai bidang yg aku suka. ^^ jd gak merasa ‘salah jalur’. sempet sih tertarik pd bidang yg lain. tp tekuni satu-satu dulu, deh.😀

  11. warm
    July 9, 2010

    rendah !?nya minat baca
    ah kalimat ini menohok saya euy😀

    dan kemana lalu bagaimana itu
    pokoknya lakukan yang terbaik yang kau bisa, itu aja sebenernya🙂

    sukses selalu, des

  12. Ceritaeka
    July 9, 2010

    Dulu setahun pertama sempet merasa salah jurusan juga (tp kalo gue bukan krn salah arahan Des, justru krn diarahkan ortu ambil bahasa sementara gue maunya akuntansi)
    Tapi setelah 2 semester bisa seneng juga krn justru bisa membaca tanpa mencuri waktu luang, malah jd kegiatan pokok krn itu tugas kuliah hehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on July 4, 2010 by in D Commento and tagged , , , , .
%d bloggers like this: