Di Catatan Takodok

Sekerat Cerita Penanda

Tambal Sulam Kesalahan

Beberapa hal menampar kesadaran dengan cukup keras. Bahwa seseorang bisa belajar dari “kesalahan” para pendahulunya, tapi bukan berarti ia akan luput dari kesalahan lain. Bisa menghindari kubangan gajah tapi siapa tau besok tersandung kerikil tajam?

.

.

Hari ini kami belajar betapa berharganya komunikasi dua arah, pentingnya mengendalikan emosi (bukan memendam), dan bahwa mereka yang terhormat juga bisa bertingkah memalukan. Agak traumatis, tapi tumben-tumbennya bisa berkepala dingin jadi masih bisa diatasi. Cukup mengguncang juga rasanya, seakan bumi yang dipijak bergoyang hebat, apa yang dipanuti terbuka kelemahannya secara transparan. Tempat bergantung berbalik menggantungi kami.

Seperti petuah Dumbledore, mereka yang diberi kelebihan/tanggungjawab besar bila berbuat salah maka akibatnya jauh lebih fatal dibanding orang awam. Maka itulah yang terjadi. Dan bila orang tempat kami bernaung tak bisa berpikir waras, kami yang masih lemah dan belum berpengalaman inilah yang mau tak mau mengambil alih, terpaksa bertindak bak pemimpin. Padahal apa yang kami tau? Tak ada.

.

Sudah waktunya kami sadar sesadar-sadarnya, tidak ada lagi tempat aman bagi kami di dunia ini, tempat kami bisa bersembunyi di bawah ketiak penjaga kami. Cukup tak cukup bekal yang mereka berikan, sudah waktunya kami mengarungi sisa perjalanan kami sendiri.

Sampai tiba masanya kami menjadi seperti mereka, mencoba tidak berbuat kesalahan sama, dan akhirnya berbuat kesalahan lain yang bukan tak pernah orang lain lakukan. Mudah-mudahan saat itu kami punya tempat  bernaung untuk sekedar menumpahkan beban kepada yang berkompeten, bukan kepada mereka yang seharusnya kami lindungi, mereka yang tak perlu tau kesusahan kami. Lalu penerus kami, mereka yang kami lindungi dan kami bimbing sepenuh hati dengan dedikasi tinggi, akan belajar dari kesalahan kami. Mereka pun berbuat kesalahan lain. Kerikil lain yang menyandung mereka. Begitu seterusnya sampai akhir masa.

.

.

tamat

6 comments on “Tambal Sulam Kesalahan

  1. christin
    July 9, 2010

    Karena pada dasarnya ia tetaplah manusia yang harus belajar melalui hal-hal yang demikian itu, karena manusia mudah jumawa dan lupa bahwa mereka tidak bisa selalu benar.

  2. Ceritaeka
    July 9, 2010

    Seperti mata rantai🙂
    eh keknya permupamaanmu lbh tepat.. tambal sulam..

    Ya sutralah.. sudah demikian prosesnya…

  3. ai
    July 9, 2010

    setiap orang adalah pemimpin bagi dirinya sendiri….dalam agama ga ada istilah seseorang mengemban kesalahan atau dosa orang lain

    • Takodok!
      July 9, 2010

      lho, ya memang tidak membahas mengemban kesalahan/dosa orang lain kok. Fast reading nih?

  4. rian
    July 11, 2010

    intinya, kalo kita jadi pemimpin jangan bikin salah. bikin ribet orang. begitu kah artinya ?? :p

  5. cK
    July 11, 2010

    makanya kalau ada pemimpin salah, jangan langsung dipojokan karena mereka juga manusia.🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on July 9, 2010 by in D Private and tagged .
%d bloggers like this: