Di Catatan Takodok

Sekerat Cerita Penanda

Curi Dengar

xy1 : Bertahan satu cintaaaaaa.. bertahan satu CE-I-EN-TE-A!

xy2 : Bertahan satu cintaaaaaa.. bertahan satu CE-…

xx  : Lagunya yang lain dong!

xy2 : Oke.

xy2 : Cinta satu malam.. oh indahnya! Cinta satu malaaammm…

Saya: *gubrak*

.

.

Jadi.. begitulah. Sore kemarin saya kebetulan mendengar tiga anak kecil bermain di depan rumah. Mereka bernyanyi sambil bergaya menghadap kaca jendela. Centil setengah mati. Tapi begitu saya keluar hendak memotret mereka, salah satunya protes keras. Terpaksa jepret diam-diam, itupun ketahuan:mrgreen:

Bocah-bocah pemalu

Ah.. jadi kangen adik di rumah. Kalo dia (dan teman-temannya) sih malah ketagihan difoto.😆

Bocah-Bocah (tidak) Pemalu

Sayangnya, lagu yang mereka nyanyikan juga 11-12 dengan anak-anak di sini. Kalau bukan Keong Racun ya.. Cinta Satu Malam tadi. Saya justru update perkembangan musik dangdut dari anak umur 3 tahun ini😐

Kadang terbersit rasa khawatir juga mendengar anak sekecil itu menyanyikan lagu “dewasa”. Tapi.. mau bagaimana lagi. Lingkungan tentu berpengaruh. Jika teman main atau pengasuhnya terus menyodorkan tontonan A dan musik B, lambat laun si anak pasti terpengaruh. Mau memaksanya mendengar musik atau menonton tayangan yang “pantas” juga tidak mudah, apalagi jika kita tidak 24/7 bersamanya.

Jadi, bagaimana?

Ya.. anak kecil juga manusia yang punya kemampuan beradaptasi. Santai sajalah. Overprotektif malah akan menyusahkan si anak (adik). Usahakan saja memberi alternatif asupan hiburan lain yang (mungkin) lebih masuk akal untuk anak seusianya.

Duh… mengurus anak kecil tidak gampang ya? Anak kecil bukan malaikat yang selalu tertawa dan bermuka lucu. Mereka bisa menjerit dan bertingkah bagai setan kecil. Pantas saja saraf para orangtua makin getas. Lihat anaknya memanjat terali balkon, teriak. Lihat si anak mematikan laptop secara paksa, dan ada dokumen yang belum tersimpan, jejeritan frustasi *curcol*. Si anak merecoki sewaktu masak, pusing. Capek ya bok jadi orangtua?

Saya pribadi sekarang melihat orangtua pemarah juga tidak bisa terlalu menyalahkan, apalagi jika ia sendirian mengurus (beberapa) anak. Tidak semua orang dianugerahi kesabaran dan ketelatenan. Mengurus satu anak seorang diri saja rasanya… melelahkan. Makanya, jangan keburu menghakimi. Kamu punya teori perawatan anak? Terapkan dulu, 24/. Jika berhasil, selamat. Tapi saya percaya, bukan cuma orang dewasa yang mengurusi si anak, tapi yang dewasa juga diajari banyak hal oleh si kecil. Tak heran juga sih setelah tahu seabrek kerepotan ini masih ada juga yang nekat punya anak😛

Wah, melanturnya panjang juga. Padahal niatnya cuma menuliskan pengupingan sore kemarin:mrgreen:

ps. baru sadar.. yang satu Lingua, yang satu trio kwek-kwek ya? *lihat gambar*😆

25 comments on “Curi Dengar

  1. galeshka
    August 19, 2010

    bahkan kadang apa yang kita ajarkan malah justru merusak nilai” baik yang sebenarnya sudah mereka miliki, des …

    kadang jadi orang dewasa memang harus belajar merendahkan diri, bahwa mereka gak tahu segala hal. dan belajar menerima bahwa anak kecilpun mampu memberi sesuatu pelajaran buat mereka🙂

  2. meong
    August 19, 2010

    jadi orang tua biologis itu gampang. tinggal cari rahim ato donor sperma, kalo keduanya sama2 sehat dan subur, jebret hamil keluar jd orang tua.

    tapi jd ORANG TUA itu ga gampang. musti punya sabar dan telaten dan sederet kompetensi lainnya. kalo ga, siap2 jd kambing hitam kl anaknya gede kenapa-kenapa.

    • meong
      August 19, 2010

      maksutku, komenku tadi utk nyela bagian paragraf desti yg bilang memaklumi kl ketemu ortu yg pemarah. aku? engga. jadi ortu ya konsekuensinya harus gitu. sayang, yg kejadian di lapangan adl sebaliknya. si anak dipaksa memahami kondisi orang tua.
      weeeehhh yg punya anak siapa jeh!
      mending dikastrasi ga punya anak, trus miara ayam aja. ga repot.

  3. Takodok!
    August 19, 2010

    @galeshka
    kadang memang orangtua yang “merusak” anaknya. Sad but true.😦
    kadang yang lebih tua tua juga sadar sudah berbuat salah pada anaknya, tapi ya itu.. lebih sering lupanya😦

    @meong
    setuju jadi orantua itu tidak gampang. Orangtua yang kadung pemarah dan dicap kurang baik juga bisa jadi sudah berusaha semampunya. Yang saya tidak mau lagi lakukan adalah buru-buru mencap jelek pada orangtua macam ini. Saya tidak tau bagaimana keseharian mereka. Kesannya mungkin plin plan dan membenarkan, tapi begitu dihadapkan pada praktek segala macam teori yang pernah dibaca luntur. Yah, cuma pengalaman pribadi kok mbak🙂

    Eniwei, saya pernah baca komik judulnya Baby Sitter Gin. Cerita-ceritanya cukup bagus. Salah satunya tentang seorang ibu muda yang kewalahan mengurus anak bayinya. Ia berhenti kerja, sepenuhnya mengurus rumah tangga dan si bayi, bahkan suaminya cenderung manja dan tidak mau membantu. Belum lagi ibu mertuanya yang turut campur mengatur; tidak boleh pakai pampers, bla bla bla. Capek, akhirnya jadi pemarah dan berimbas ke bayinya yang rewel, ASInya yang susah keluar.

    Nah kondisi ini salah satu yang saya maksud. Orang gampang menuduh ibu di atas tidak becus jadi orangtua; tidak cekatan, pemarah, dll. Tapi kita tau apa?🙂

    • meong
      August 19, 2010

      kalo mau modelnya cari2 kesalahan, yg bersalah dlm kasus tersebut, suami bersalah. jd ortu itu kerja tim. tp istri juga mustinya hrs bisa ngepush suami utk bekerja sama brg.

      seperti pd contoh kasus balita yg mahir berkata kotor dan merokok. otomatis yg plg bersalah ya ortunya.

      kl ga mau tgg jawab, gampang kok. mikir seribu kali sebelum punya anak.
      jangan udah terlanjur punya anak, trus meminta excuse dan pemahaman dr sekitar.

      krn itu aku bilang, jd orang tua (dengan hurup kapital) itu ga gampang.
      yg udah sadar bgt hal ini pasti akan sgt berhati2 dg amanah yg ditanggung. ga bisa enak aja meminta excuse dan minta pemakluman.

    • meong
      August 19, 2010

      well aku ngemeng begini juga berdasar pengalaman sih, experiencing itself😉

      see, pengalaman yg sama bisa nge-lead experiencernya kpd pembelajaran yg berbeda😉

  4. Takodok!
    August 19, 2010

    point taken.

    kl ga mau tgg jawab, gampang kok. mikir seribu kali sebelum punya anak.
    jangan udah terlanjur punya anak, trus meminta excuse dan pemahaman dr sekitar.

    yang terlanjur? Tapi mau mencoba bertanggungjawab? Yah.. dilematis.

    see, pengalaman yg sama bisa nge-lead experiencernya kpd pembelajaran yg berbeda

    bener. Di sini saya belajar jangan terburu-buru menjudge. Setiap keluarga, orangtua-anak punya luka masing-masing yang orang luar belum tentu tau.
    Fokusnya juga bukan jadi pembelaan mutlak ke si ortu. menurut saya aja sih, yang perlu ‘diselamatkan’ kadang bukan cuma si anak, tapi bapak-ibunya juga.

    • meong
      August 19, 2010

      betul sekali. karena itu misal dlm kasus yg balita mahir berkata kotor itu, aku pikir yg perlu disekolahin adalah ortunya.

      kalo soal udah telanjur tp mau belajar, ya tentu saja welkam. ga kemudian vonis mati kok. salah satu kompetensi yg harus dimiliki orang tua, selain kerendahan hati adalah kemauan utk terus belajar & upgrade.

      kalo aku td bilang no excuse, itu buat ortu yg ga mau berubah, ga mau apgret, dan berlindung dibalik keleahan mereka dan minta pemakluman dr sekitarnya.

      dari pengalamanku, aku sangat amat menyayangkan. betapa sayang, what a waste, potensi anak tidak teraktualisasi secara maksimal krn pengasuhan ortu yg salah.

  5. ManusiaSuper
    August 19, 2010

    jadi ini soal lagu atau soal orang tua?😛

    kalau kata Shin-chan, tidak ada orang tua yang dapat nilai 100, dapat nilai 70 aja udah bagus..

    Hidup Shinchan!

  6. Chic
    August 20, 2010

    Setuju jadi orang tua ga gampang. Saya pribadi sudah mengalami.

    Ada kalanya saya jadi pemarah, mengingat segala macam hal di kepala saya yang saya bawa dari kantor. Sampe rumah masih ketemu Vio yang lagi aleman dan rewel. Tapi itu saya menyesal kenapa harus marah. Ada kalanya saya bisa sabar, menunggu tantrum Vio hilang sendiri.

    tapi ya saya ngga mau juga lantas dicap jadi orang tua yang tidak baik. Baik atau tidak kita jadi orang tua adalah anak yang merasakan dan memberi cap, bukan orang lain yang cuma mellihat sekilas-kilas lantas mempersalahkan.🙂

    balik lagi ke masalah lagu, terus terang saya prihatin. Vio sama sekali saya larang mendengarkan lagu-lagu dewasa. Sebagai gantinya, saya memberikan dia sebuah channel tipi berbayar khusus acara-acara anak-anak dan segala macam lagunya. Dan membelikannya segala CD lagu anak-anak. Sayangnya tidak ada acara lokal dengan lagu-lagu lokal. Ada sih dulu, namanya Space Toon. Awal-awal kemunculan sih bagus, bener-bener idealis buat anak-anak. Sekarang, yaaaa begitu lah…

    Jadinya ya Vio taunya lagu-lagu anak-anak buatan luar sana. Ada sih beberapa lagu lokal yang saya ajarkan, sepanjang lagu yang saya tau jaman SD dulu. Cuma nyari CD-nya susah banget.

    *miris*

    • Takodok!
      August 24, 2010

      tfs mbak chic🙂
      benar juga, yang memberi cap yang mesti dipedulikan ya yang merasakan; si anak.
      Soal lagu, ah.. apa sekalian diasup rock metal sekalian ya?:mrgreen:

  7. nite
    August 21, 2010

    Dua lagu itu emang lagi populer di kalangan anak-anak,terutama yang Cinta Satu Malam😐

    Ingat kemarin anak-anak di kampung minta diajari nari, saya bilang ngga bisa tarian tradisional, eh mereka minta tarian modern. Waktu pilih lagu, mereka keukeuh mau nari pakai lagu Cinta Satu Malam atau Makhluk Tuhan Yang Paling Seksi. Akhirnya saya malas sendiri dan ogah ngajari #curcol

    Saya nyadar jadi orang tua ga gampang *padahal belum punya anak*, tapi bener juga kata Mbak Meong, jadi orang tua mesti siap buat tanggung jawab. Termasuk tanggung jawab terhadap apa yang dilihat, dibaca, dan didengar si anak. Miris banget dengar anak-anak nyanyi lagu macam itu sambil bercentil-centil bahas pacar😦

    • Takodok!
      August 24, 2010

      eh saya juga dulu pas masih SD sudah tau kata ‘cemburu’. Sempat diledek om, “memangnya ngerti arti cemburu?” dan jadi maluuu banget.
      Entahlah dampaknya akan sejauh apa. Toh beberapa teman mengaku sejak kecil dicecoki lahu-lagu rock jaman dulu, dan sekarang mereka tumbuh baik-baik saja. Memang lirik bbrp lagu terlalu dewasa utk anak-anak.😐

  8. Kurology
    August 22, 2010

    prihatin, karena anak2 sekarang langsung mengkonsumsi lagu2 dewasa yang dosis-nya bisa membuat mereka cepetan tua. kadang, miris juga, ngeliat mereka udah fasih ngomongin soal cinta, selingkuh, blah-blah-blah.

    sepertinya industri musik lokal juga kurang memberikan ruang buat lagu2 anak, atau kerana anak2 sekarang memang sudah masuk ke jaman “lebih cepat tua”?

    • Takodok!
      August 24, 2010

      kekurangan penyanyi anak-anak juga ya? Tapi lagu anak-anak juga ya tidak mesti penyanyi anak-anak sih..

  9. orange float
    August 22, 2010

    sepupu kecilku juga suka sekali nyanyiin lagu-lagu itu padahal kan kl dilihat dr liriknya itu lagu tuk orang dewasa😀

  10. Juminten
    August 23, 2010

    Aku merasa bersyukur sekali lahir dan tumbuh di saat yg tepat.
    Soalnya jaman2 aku kecil dulu, lagu anak2 msh byk yg ngetop. Wkwkwk…
    Prihatin jg dgn kondisi anak2 jaman skrg.
    Kok ya ndak ada lg itu penerusnya Trio Kwek-kwek?
    Katanya sih, karena anak2 jaman skrg lbh cerdas dan lbh cpt besar.
    Jd ga bisa disuguhi hiburan kayak kita dulu. Wew…

    • Takodok!
      August 24, 2010

      mungkin juga hiburannya sudah bergeser. Dari yang dulu musik sekarang ke game online? *eh*:mrgreen:

      penyanyi anak-anak, itu yang ajang kontes2an cari bakat penyanyi cilik, mereka apa kabar ya?

  11. warm
    August 23, 2010

    pokoknya setuju ama komen2 di atas

    postingan yg menyentil euy

  12. Asop
    August 24, 2010

    Walah-walah, sukses bikin saya ngakak.😆
    Menyedihkan sekali, anak2 udah kenal dengan kata rayuan CINTA dan CINTA SATU MALAM…. ck ck ck….😦 Ortunya gak mengawasi sih….😐

    • Takodok!
      August 24, 2010

      pun orangtuanya mengontrol, si anak juga bisa dapat “pengaruh” dari mana saja. Pergaulan lah. Jalan yang terpikir oleh saya ya dengan memberikan alternatif musik-musik lain pada si anak.🙂

  13. Snowie
    August 25, 2010

    Kadang terbersit rasa khawatir juga mendengar anak sekecil itu menyanyikan lagu “dewasa”. Tapi.. mau bagaimana lagi. Lingkungan tentu berpengaruh…. ika teman main atau pengasuhnya terus menyodorkan tontonan A dan musik B, lambat laun si anak pasti terpengaruh.

    wah, kadang gak tontonan dewasa aja Des, iklannya tuh yang bikin keblinger.

    Kakak pernah nonton film biasa gitu, eh tapi setiap jeda iklan gak pernah ketinggalan lagu “keong racun” dkk dalam promosi RBT dan sejenisnya itu…
    alhasil, mau-gak-mau ituh lagu nyangkut juga di kepala.
    Dan parahnya, kadang tanpa sadar ikut nyanyiin juga dilain waktu.

    Kadang,kakak mikirnya iklan macem itu seperti sedang dalam proses pencucian otak kita. >_<

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on August 19, 2010 by in D Private and tagged , , , .
%d bloggers like this: