Di Catatan Takodok

Sekerat Cerita Penanda

“Tolong Ngertiin Ya, Dek!”

Hari ini saya melakukan “ritual suci” bulan puasa; buka bersama teman(-teman). Saya sih lebih suka menyebutnya makan di luar. Toh cuma berdua makan di tempat langganan, hanya waktunya saja di bulan puasa. Tapi cincai lah ya. Biar seru mari sebut saja saya baru bukber. Tidak ada yang terlalu istimewa dari acara bukber kami. Cuma memperhatikan meja-meja lain sembari menunggu buka puasa, makan, ngobrol sebentar, pulang. Nah, di perjalanan pulang inilah saya dan teman bertemu orang yang melontarkan kalimat yang jadi judul tulisan kali ini.

Seperti biasa kami menyetop angkot hijau tujuan Pasar Baru. Kebetulan angkot tsb lumayan kosong. Hanya ada 2 penumpang; seorang ibu duduk di belakang sopir dan seorang pria duduk di pojokan membawa buntelan kardus dan tongkat. Si teman memilih tempat favoritnya, pojokan di seberang pria tadi. Saya sendiri duduk di dekat pintu angkot. Tidak berapa jauh angkot berjalan, ada penumpang lain yang naik. Saya pun pindah ke sebelah si teman agar lebih leluasa mengobrol.

Ketika pindah itulah saya menyadari asap rokok pria pembawa tongkat, mulai saat ini mari kita sebut PPT, mengganggu saya. Mulanya saya cuma membuka jendela lebih lebar. Jendela di dekat PPT itu juga sudah dibuka lebar-lebar. Tapi.. asapnya malah makin mengganggu karena menuju ke arah saya dan teman. Kami mulai terbatuk-batuk dan saya pun menghalau asap tersebut dengan tangan sembari menutup hidung. Saat itulah PPT tadi berkata, “Tolong ngertiin ya, dek! Seharian ini ga bisa ngerokok.”

Saya cuma bisa mengangkat alis sambil mengangkat bahu. Sesaat ada keinginan untuk meminta pria itu bergeser duduk, mendekat ke arah pintu saja jadi asapnya bisa langsung keluar dan tidak mengganggu kami. Tapi ada penumpang lain yang naik dan angkot berangsur penuh. Ya sudahlah. Pandai-pandai kami saja mengelak dari asap tsb. Tak berapa lama kemudian ia mematikan rokoknya. Mungkin benar habis atau karena segan. Saya tak peduli.

Angkot berjalan dengan kecepatan sedang. Satu per satu penumpang turun hingga hanya tersisa saya, teman, dan pria itu. Lalu si teman juga turun lebih dulu. Tinggal saya dan pria itu. Beberapa ratus meter kemudian ia berkata, “Kiri!” Dengan sedikit kerepotan ia mendorong bawaannya ke arah pintu, menurunkan tongkat lebih dulu, turun, mengambil buntelan kardusnya, lalu membayar ongkos.

Saat itu saya baru mengerti apa fungsi tongkat yang dibawanya. Kakinya buntung sebelah. Mau tak mau saya bersyukur tidak jadi “memaksanya” bergeser tempat duduk.

Alasannya? Entahlah. Mungkin.. saya saja yang terlalu picik dan terlalu malas berkonfrontasi.

8 comments on ““Tolong Ngertiin Ya, Dek!”

  1. galeshka
    August 24, 2010

    apa cacat bisa jadi justifikasi mengganggu kenyamanan orang lain?

    *komen sotoy*

    • Takodok!
      August 24, 2010

      entahlah. Saya tidak menyimpulkan benar/salah. Sempat terpikir untung tidak jadi maksa karena ia bisa cukup repot mesti bergeser dengan bawaan sebanyak itu. Tapi ya.. entah. Yang jelas saya sudah memilih membiarkan, dengan konsekuensi seperti di atas. Malas konfrontasi om.

      • suci
        August 30, 2010

        Ya, malas konfrontasi adalah alasan paling diplomatis untuk tidak merahin orang yang merokok diangkot

  2. Juminten
    August 25, 2010

    errr… apa si PPT itu ga bisa nunggu turun dr angkot dulu baru merokok? penumpang lain kan jg berhak mendapat kenyamanan selama berada di dlm angkot. apalagi penderita asma akut kayak aku. beuh… apa mau tanggung jawab kalo ada yg asma nya kumat di dlm sana?

    eh, kok kesannya aku malah nanya ke kamu, ya? padahal kan yg ngerokok bukan kamu. hihihi… *sungkem ke takodok*

  3. Chic
    August 25, 2010

    mungkin itu juga hikmah puasa dok, makanya kamu males konfontrasi :mrgreen
    *puk-puk Desti*

  4. TamaGO
    August 25, 2010

    mengerti untuk dimengerti, biasanya perokok duduk deket jendela/pintu biar asap rokoknya bisa langsung keluar dan tidak menggangu penumpang lain. Lain kali jangan diulangi lagi ya jeng (lho kok)

  5. devieriana
    August 27, 2010

    masih untung dia bilang gitu, ada lho yang dengan sengaja malah menghembuskan asapnya ketika kita tahu kita menunjukkan aksi tutup hidung..๐Ÿ˜

  6. sez
    August 30, 2010

    tolong ngertiin ya, pak.. saya agak alergi bau rokok..

    saya ga tau, itu baik atau bodoh, des..๐Ÿ˜›

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on August 24, 2010 by in D Private and tagged , , .
%d bloggers like this: