Di Catatan Takodok

Sekerat Cerita Penanda

Pilihkan Saja Lagunya Untuk Saya

Katanya hidup itu tentang memilih. Pertanyaannya bagaimana kalo letih memilih? Berhenti hidup saja? Dikutuk jadi batu ciiiinnn.

Saya pikir, mungkin enak juga ya sesekali pasrah menjalani apa yang dipilihkan orang untuk kita. Tidak perlu pusing memikirkan konsekuensi (untung-rugi), tapi juga jangan menyalahkan pihak yg telah memilihkan ketika apa yang dipilih tidak sesuai selera kita. Pasrah amat sih jadi orang?

Yaaa… cuma pikiran selintas saat “terpaksa” mendengarkan musik bus kota dalam perjalanan pulang. Bukan lagu-lagu selera saya, tapi ternyata saya cukup menikmatinya. Cukup duduk, menatap ke luar jendela, sembari membebaskan pikiran apapun berseliweran. Yang baik, yang jelek, yang nista sampai dikutuk agama hayok silahkan.

Saya coba terapkan pada playlist siang ini. Shuffle, lalu biarkan lagu-lagu itu terputar silih berganti tanpa di-skip. Biasanya saya memang meloncati lagu-lagu yang tidak sedang  disuka atau saya pikir akan merusak mood. Proses memilih juga kan? Maka proses ini saya tiadakan. Kali ini saja.

Hasilnya? Enak juga. Setidaknya waktu yang mesti saya sisihkan untuk memencet-mencet tombol mp3 player berkurang. Otak juga dibiasakan mengenyampingkan lagu-lagu tsb, bukan menjadikannya tema hari ini.

.

Untuk lagu mungkin berhasil. Bahkan saya menemukan kejutan di sana-sini. Oh, lagu A ternyata enak juga. Lagu Z liriknya begitu toh. Eh, ini dia lagu yang sudah lama saya cari rupanya masih ada. Bla bla bli bli. Tapi bagaimana dengan pilihan-pilihan lainnya? Mesti dipilihkan mesin juga secara acak? Andai saja ada mesin seperti itu ya?

Lagi, pasrah amat! Ya, emang dalam keadaan pasrah. Pasrah karena saya tau saya tidak pandai memilih. Apapun yang telah saya pilih rasanya kok ujung-ujungnya malah “merugikan”, menyakiti hati sendiri, beberapa ikut menyeret orang sekitar. Capek juga lama-lama. Kalo kamu dalam keadaan lelah dan frustasi begini, mikirnya gimana? Sama seperti saya? Bahwa jadi robot yang heartless mungkin lebih baik dalam keadaan begini? Ya? Salaman yok kita!

Passion? Ga kepikiran lah cin. Namanya juga robot. Sayang, saya manusia. Kamu juga. Saya manusia yang selama belasan tahun hidupnya dikuasai kecenderungan impulsif dan memilih berlari dari kewajiban yang menggerogoti what so called passion tadi. Kamu? Juga? Salaman lagi yok kita!

Sekarang pilihannya adalah tetap jadi manusia dengan segala tarik-menarik kepentingan yang diikuti kemungkinan penyesalan a t a u merobotkan diri? Tuh, mesti milih lagi ya? Pfftttt…

Ya sudah lah. Saya nikmati dulu saja lagu-lagu yang sudah dipilihkan untuk saya. Yang pasti, biarpun gagal saya akan jadi orang gagal yang bahagia.

Ada yang bakal ngerti ga sih pemikiran macam ini?

9 comments on “Pilihkan Saja Lagunya Untuk Saya

  1. TamaGO
    October 26, 2010

    hidup ga bisa lepas dari pilihan, jadi orang gagal yg bahagia juga pilihan, memilih untuk dipilihin juga pilihan, bahkan ga ngapa2in juga pilihan ;))

    intinya adalah memilih tanpa menyesali apapun yg terjadi, tidak menengok ke belakang dan berandai2 seandainya saya milih A bukan B😀

  2. galeshka
    October 26, 2010

    kadang emang perlu menyerahkan kendali ke tangan orang lain, atau ke alam semesta?😀

  3. warm
    October 26, 2010

    saya suka endingnya
    yg penting bahagia

    ah keren dest🙂

  4. Chic
    October 27, 2010

    ha! ini mirip tulisan ku yang “pake kepala atau pake hati” itu😆

  5. mauritia
    October 31, 2010

    hahaha, takoo.. ini harusnya serius apa lucu sih? kok aku ketawa-ketawa ya. kamu nulisnya antara gemes dan sinis begini.😄

    gagal dan bahagia juga bisa seiring dan sejalan. mungkin kegagalannya di luar kendali kita, tapi bahagia adalah pilihan.
    jadi akhirnya dalam kepasrahan pun bisa memilih:mrgreen:

  6. Takodok!
    November 1, 2010

    @TamaGO
    terimakasih sudah diingatkan, tama🙂

    @galeshka
    jadi keinget paulocoelho om😀

    @warm
    yang penting berusaha bahagia ya😉

    @Chic
    great minds think alike😎

    @mauritia
    kenapa ketawaaaaa😆
    tulisan tanpa sensor seketat biasanya memang memalukan ya T_T

    • mauritia
      November 1, 2010

      makanya ngga perlu disensor takoo.
      sensor itu seperti lelaki, bayi dan steak. semalem saya baca di twitt tapi lupa hubungannya, pokoknya itu deh.. kayaknya itu yang ngeRT orang yang sama2 kita follow kok, bapak Oksimoron.😄
      *komen yang ngga nyambung dan diluar konteks*:mrgreen:

      • Takodok!
        November 1, 2010

        Cencorship is telling a man he can’t have a steak just because a baby can’t chew it (Mark Twain)
        *niat sampe ngubek-bgubek timeline beliau*:mrgreen:

        Cuma menerapkan writing is rewriting neng tia… edit lah bukan sensor, eh atau edit bagian dari sensor ya? *bingung*

  7. Asop
    November 10, 2010

    Kalo di iPod katanya ada fitur “genius” yang bisa memutar musik yang sesuai dengan keadaan hati si pemilik.😳

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on October 26, 2010 by in D Private and tagged , .
%d bloggers like this: