Di Catatan Takodok

Sekerat Cerita Penanda

Kopi, Donat dan Obrolan Senja

“Jadi gimana kabar lo?”

“Good day, I’m okay. Bad day, I’m okay. My feeling isn’t relate to anything.”

“Ngutip terus lo!”  tukasnya sambil tertawa.

Aku tersenyum. Matanya tidak ikut tertawa. Perlahan tawanya memudar berganti senyum simpul. Ada yang tidak beres.

“Kamu… gimana?” tanyaku memancing ceritanya.

“Ya beginilah hidup gue sekarang. Hampa. Ga produktif..”

“Sindrom pengangguran!” potongku.

“Iya sih, tapi kan…”

Maka mengalirlah sebagian keresahannya. Pertanyaan` Kapan?` yang mendominasi. Juga uang.

Lalu ada jeda dan tarikan nafas. Aku menunggu kelanjutan cerita tapi ia malah asik dengan roti bawang di hadapannya.

“Aku juga pengangguran. Pengangguran terselubung.” ujarku.

Ia cuma menatapku sambil kembali tersenyum dan berkata, “Lo tau masalah diri lo apa? Takut. Takut menerima tanggungjawab, takut salah dan akhirnya tidak mau mencoba.”

Aku terpana. Lalu tertawa. Dan masih banyak tawa yang menyelingi obrolan selanjutnya. Ah, kami sudah terlalu lama tak berjumpa sampai aku hampir lupa betapa menyenangkan mengobrol dengannya. Kadang ia mendominasi pembicaraan tapi ia selalu balik bertanya bagaimana keadaanku dengan tulus, bukan basa-basi pemanis. Waktu selalu terasa berlalu begitu cepat saat bersamanya.

Telepon selularnya berdering. Dengan terburu-buru dijawabnya panggilan itu. Aku mengalihkan pandanganku ke sekeliling. Ada sekelompok remaja sedang berpose ceria di meja pojok. Di depan kami sepasang suami istri berkonsentrasi pada gadget masing-masing sedang si anak berceloteh ceria dengan pengasuhnya. Lalu pasangan di dekat pintu hanya saling berdiam diri. Tempat ini memang lumayan sepi. Cocok untuk pertemuan rahasia eh, tempat untuk mengobrol nyaman. Tempat favorit kami.

“Back to reality!” katanya sembari memasukkan teleponnya ke dalam tas.

“Nih, kopi!” ku sodorkan cangkirku kepadanya.

“Nah. I’m fine with this.” balasnya mengacungkan botol mineralnya. Jeda sejenak. Mukanya kembali keruh.

“Kadang gue heran, kita kan ga pernah macem-macem. Paling keluar ya cuma makan, ngobrol, atau nonton. Cenderung ngebosenin bagi sebagian orang…”

“Aku nggak bosan kok,” potongku.

“Ya itu kan elo.” balasnya sebal. Kadang aku suka memotong ucapannya di saat ia sedang berapi-api, sekedar untuk menggodanya.

“Terus?”

“Yaaaa… itu, kita ga macem-macem, anak baek-baek, tapi kenapa adaaaaaa aja halangan kita?” sungutnya.

“Hmmmm….” gumamku.

“Apa?” tanyanya.

“Ga perlu dijawab kan yang barusan?” aku balik bertanya

“Iya deh iyaaaaaa..” jawabnya. Senyum lagi. Manis sekali. “Ya sudah, aku duluan ya.” katanya sambil beranjak dari kursi.

Ku tatap matanya.

“Biasaaaa… panggilan `tu-gas`”, lanjutnya sembari mengangkat tangan membentuk tanda kutip. Lalu ia memalingkan muka, sibuk mengumpulkan belanjaannya.

“Hei! Kalo ada yang aku bisa bantu, apa pun, jangan segan-segan minta tolong ya? Bukan basa-basi ini!” ujarku bersungguh-sungguh.

“Alaaahhh… tenang aja. Sama lo ini, ngapain basa-basi? Donatnya buat gue ya! Daaaaah!”

Ia pun pergi tanpa berbalik lagi.

“Bye.” ujarku beberapa menit kemudian.

.

Kopi, donat dan obrolan senja pernah menyatukan kami. Kami bahagia. Lalu ujian datang dan kopi juga donat lah yang mengantarkan kami pada obrolan berujung perpisahan. Kami jadi sama-sama tidak bahagia. Waktu berlalu. Tak sengaja kami kembali bertemu. Obrolan senja, donat dan kopi terulang lagi. Bedanya; ia tak lagi pada kopi.

Saat ini aku bahagia. Kelihatannya ia sebaliknya. Ah.. ia tak tau saja, beberapa jam lalu aku berniat melompat dari lantai empat gedung ini kalau saja tadi ia tak menyapaku.

Kau sudah menyelamatkan nyawaku, Nan. Terimakasih. Aku senang. Ku harap kau juga senang bertemu denganku.

 

 

Gambar dari sini.

10 comments on “Kopi, Donat dan Obrolan Senja

  1. Ceritaeka
    December 22, 2010

    Half fiction? Semoga part yg mau lompat dr lt.4 itu yg fiksi yah..

    Anw… dia sudah bersama orang lain yah?😦 koq gue jd mellow baca ini yah.. ihiks

  2. omith
    December 22, 2010

    😦

  3. adit-nya niez
    December 22, 2010

    Kapan?:mrgreen:

  4. Arm Kai
    December 22, 2010

    setting-nya di j-co di lantai atas sebuah pusat perbelanjaan ya?

    *balik ngurusin plotter*

  5. yud1
    December 22, 2010

    *senyum-senyum*

    rasanya seperti sedikit kenal sama karakter si satu-lagi itu…
    :mrgreen:

  6. Asop
    December 22, 2010

    Gak mau menerima tanggung jawab….
    Hei, saya gak begitu!😛

  7. Ina
    December 23, 2010

    Hai Dok, apa kabar? lama ngga cerita2 ama lo nih.😀 *sapaan tulus dari hati terdalam*

    Eh…itu siapa? *ngikik*

  8. Takodok!
    December 24, 2010

    @Ceritaeka
    engg… yang mana ya yang fiksi? Yang jelas percakapannya nyata *eh*:mrgreen:

    @omith
    *peluuukkkkkkkk* >:D<

    @adit-nya niez
    kapan-kapan!😛

    @Arm-Kai
    eh, kok tau sih? Kok tau? Kamu ngintip ya sum?😆

    @yud1
    ah masa sih?😎

    @Asop
    Baiklah nak Asop, saya percaya:mrgreen:

    @Ina
    bukan siapa-siapa. Dibilang fiksi juga *cobek ina*

  9. warm
    December 29, 2010

    pasti bukan fiksi
    dan mendadak ngidam donat😐

  10. sez
    December 30, 2010

    ah… (koji)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on December 22, 2010 by in Uncategorized and tagged .
%d bloggers like this: