Di Catatan Takodok

Sekerat Cerita Penanda

Draft [1]

Gadis kecil itu bersandar di bahu ayahnya. Matanya mengerjap-ngerjap tanda mulai mengantuk. Tangannya menggenggam kantong kresek putih berlogo toko buku Bunga. Tampaknya ia baru membeli buku gambar dan beberapa alat tulis. Tak lama ayahnya melihat ke arah gadis kecilnya, melihat bahwa anaknya mulai mengantuk. Ia pun mengambil alih kantong putih itu dan menyuruh si anak tidur di pangkuannya.

.

19 taun lalu gadis kecil lain berjalan bersama ayahnya menuju toko serba ada. Malam itu tidak banyak bintang terlihat. Sambil berjalan ia menengadah, menghitung bintang sambil bernyanyi dan melompat-lompat kecil. “Satu bintang untuk ibu, satu bintang untuk ayah, satu bintang untuk adik, banyak sekali bintang untukku.” Ia tidak takut jatuh karena berjalan seenaknya. Kan ada ayah si sampingnya, menggandeng tangannya, menahannya agar tidak terjatuh.

.

Pagi itu, setengah tahun kemudian, ayahnya mengantar si gadis kecil ke sekolah baru. Sekolah serius. Tidak ada lagi ibu guru yang bermain bersamanya di waktu istirahat atau membantunya menuangkan teh ke dalam cangkir makan siangnya. Ibu guru di sini, di sekolah serius ini, akan mengajarinya hal lain yang lebih serius. Belajar upacara. Oh itu soal serius, kawan. Ia tidak begitu peduli pada pelajaran membaca dan menulis. Toh ia sudah bisa membaca dan ibu akan dengan senang hati membantunya menulis surat untuk bibi dan sepupu-sepupunya.

Ia senang ketika disuruh berbaris sebelum memasuki kelas. Dulu sewaktu masih sekolah di sekolah anak kecil ia selalu berada di barisan paling depan karena ia anak paling tinggi di kelasnya. Tapi di sekolah serius ini ada beberapa anak yang juga kelihatan tinggi. “Tidak boleh kalah”, pikirnya. Diam-diam ia berjanji untuk minum susu lebih banyak. Mempertahankan posisi di barisan adalah perkara serius di sekolah serius ini. Ia harus menancapkan eksistensinya lebih dulu agar tidak ada yang meremehkannya.

Benar saja, ia tetap jadi anak paling tinggi dan paling besar di kelasnya, minimal sampai beberapa tahun ke depan. Sebenarnya ada satu anak laki-laki yang lebih tinggi. Namanya Nanto, Nanto si Manja. Nanto terus menggenggam tangan mamanya selama berbaris sehingga ia terpaksa berdiri di barisan paling belakang. Mama Nanto kan bukan ibu guru, jadi beliau tidak boleh ada di depan. Gadis kecil itu tersenyum puas, terlebih ketika Nanto mulai menangis ketika masuk ke dalam kelas. Terpaksa Mama Nanto menemaninya lagi, duduk di deretan paling belakang. Kasihan Nanto. Cuma anak bodoh yang duduk di deretan belakang. Gadis kecil itu duduk di deret ketiga dari depan. Ia kan tidak serakah. Jangan mencuri perhatian terlalu banyak, sedikit bersikap rendah hati lah. Begitu prinsipnya.

.

Hari pertama di sekolah serius menyenangkan hatinya. Ia punya seragam baru warna putih-merah, dasi baru, topi baru, sepatu baru, dan tas baru bergambar mobil balap warna hitam. Ayah juga menemaninya, memegang tasnya ketika ia mencari toilet, berbincang akrab dengan orangtua murid lain dan beberapa orang guru. Ah, pembicaraan orang dewasa. Pasti membosankan. Buku halus kasar dan pensil, itu baru seru. Ia jadi murid pertama yang selesai menyalin abjad di papan tulis ke bukunya. Sayang ia tidak boleh keluar lebih dulu seperti di sekolah anak kecil dulu. Sekolah serius punya peraturan berbeda. Tidak masalah, ia mudah beradaptasi kok.

Jam sepuluh bel berdentang, pertanda ia dan teman-teman kelas satunya boleh pulang. Di depan kelas ayah menyambutnya dengan senyum dan bertanya, “Bagaimana?” Dengan riang gadis kecil itu menjawab pertanyaan ayahnya, “Ah kecil! Aku bisa jadi juara di sini.”

Ayahnya tertawa lalu mengusap kepala gadis kecilnya. “Baguslah. Yang penting kamu senang.”

Sambil melompat-lompat riang gadis kecil itu menuju pelataran sekolah. Ayahnya menggenggam tangannya, menjaga gadis kecilnya agar tidak terjatuh. Selalu begitu. Sampai suatu saat nanti tanggungjawabnya berpindah pada lelaki lain yang dicintai gadis kecilnya dan bisa ia percayai. 

.

Sekarang gadis kecil itu sudah lebih besar, tidak kecil lagi. Ia menatap gadis kecil lain yang sedang tertidur di pangkuan ayahnya itu. Tersenyum, sambil mengingat sudah berapa lama ia berhenti mencari-cari genggaman tangan ayahnya. 5 tahun. Ia juga tidak mengalihkan genggamannya pada lelaki lain. Belum ada yang cukup kuat untuk menahannya agar tidak jatuh.

Ia jatuh saat ayahnya terpaksa pergi secara mengejutkan. Jantung sialan itu ternyata tidak sekuat genggaman tangan. Sejak itu ia mati-matian berusaha bangun sembari belajar menjaga keseimbangan agar tidak jatuh lagi, lebih dalam lagi. Bila tidak ada tangan yang cukup kuat untuk menahannya, biarlah tangannya sendiri yang menahan laju jatuhnya. Bila tak ada tangan yang cukup ramah untuk terulur menawarkan bantuan dan penghiburan, biarlah tangannya sendiri yang mencari pijakan bagi kakinya untuk bangkit. Ia bisa, ia tau ia bisa. Harus bisa. Tidak boleh tidak. Karena ayahnya tidak ada lagi untuk mengenggam tangannya. Karena iasudah bukan gadis kecil yang dulu lagi.

17 comments on “Draft [1]

  1. adit-nya niez
    January 17, 2011

    Huhu… Sad ending…
    Btw, ini gadis kecilnya mbak desti bukan?:mrgreen:

    • Takodok!
      January 17, 2011

      eh itu kan fiksi dit. Jelas bukan saya😀

  2. warm
    January 17, 2011

    semacam cerita yg
    perih euy
    tapi keren😐

  3. Billy Koesoemadinata
    January 17, 2011

    aih.. kasian gadis itu..😦

  4. grace
    January 17, 2011

    Ceritanya bagus, dan sedih, tapi kuat. Semoga terlepas dari apa yang terjadi, gadis kecil itu masih bisa tersenyum🙂

  5. itikkecil
    January 17, 2011

    saya gak suka endingnya😥
    etapi siapa saya mau mengatur endingnya seperti apa… saya kan bukan penulisnya…

  6. tenma
    January 17, 2011

    Sedih -___- Tapi tak apa, si gadis sudah dewasa, pasti bisa jalan hati-hati tanpa jatuh. Kalaupun jatuh, semoga bisa cepat bangun lagi🙂

  7. Takodok!
    January 17, 2011

    Lain kali akan saya coba happy ending dan cerah ceria😀

  8. sez
    January 17, 2011

    ah….
    kangen ayah…

  9. rukia
    January 17, 2011

    saya jg tdk suka ending-nya jadi inget ayah yg ga akan kembali lagi😦

  10. farandyryan
    January 17, 2011

    jangan2 ini true story nya penulis ….
    cuma umur di cerita sedikit di “manipulasi” oleh kak desti,,,,
    *lari *kabuuurrr …..

  11. Takodok!
    January 17, 2011

    @sezs & rukia
    Hugs >:D<

    @farandyryan
    haih. Dibilang fiksi. Ayah saya masih sehat, amin.😀

  12. Farijs van Java
    January 18, 2011

    mantap!

    draft [2] mana?

  13. Amd
    January 18, 2011

    Otidak!! Kenapa saya harus baca cerita tentang ayah dan anak perempuan ini????😥

  14. awym
    January 19, 2011

    anu, endingnya😦

  15. Chic
    January 21, 2011

    aaaaah aku benci Desti!
    kenapa air mata malah mengalir baca ini…
    huh!😈

  16. evillya
    January 26, 2011

    cih sad ending…

    *ngeloyor pergi, usap air mata diam-diam*😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on January 17, 2011 by in D Plus and tagged .
%d bloggers like this: