Di Catatan Takodok

Sekerat Cerita Penanda

Dongeng Anak Gembala

Satu masa yang tak terlalu lama tapi tak bisa ku raih lagi, dulu, aku pernah memintamu untuk menghiburku. “Mendongeng ya?” tawarmu. “Dongeng Anak Gembala”. Saat itu ku bilang aku tak suka dongeng mendayu-dayu. Kau bilang dengarkan dulu. Baik. Ku tutup mulutku rapat-rapat. Lalu kau mulai bercerita tentang seorang pangeran miskin dari negri jauh. “Kenapa selalu dari negri jauh?Tak ada kah dongeng tentang orang yang ku kenal?”

” Aku baru mulai, Sayang. Diam lah dulu.” “

“Baik. Lanjutkan.”

Sang pangeran memang miskin, tapi kerajaannya cukup besar untuk seorang pangeran dan istrinya. Ia pun bermaksud menikah. Dengan nekat ia melamar putri kaisar. Padahal putri kaisar dikenal suka bersenang-senang dan tak bisa hidup susah. Meski ratusan putri lain akan bersedia menikah dengan pangeran iskin, belum tentu putri kaisar akan menjawab “Ya”.

Di atas makam ayah pangeran tumbuh pohon mawar indah rupawan dan hanya berbunga sekali dalam lima tahun. Itu pun hanya satu kuntum. Bunga mawar ini sangat harum baunya, membuatmu lupa semua kesulitan dan kekhawatiranmu. Pangeran juga punya burung bulbul yang bisa bernyanyi seolah setiap melodi indah ada dalam kerongkongannya yang mungil.

Pangeran memutuskan akan mempersembahkan bunga mawar dan burung bulbul kepada sang putri. Ia meletakkan keduanya di dalam peti besar dan mengirimkannya kepada sang putri.

Setibanya di istana, Kaisar meyuruh para pelayan membawa peti tsb ke aula besar tempat putri sedang bermain, menyanyi dan berdansa dengan para pelayannya. Ketika melihat peti besar tsb, putri bertepuk tangan penuh kegembiraan.

“Semoga saja isinya anak kucing!” ia berkata. Lalu keluarlah mawar cantik itu.

“Oh, indahnya!” seru semua pelayan.

Kaisar pun sangat terpesona. Tetapi sang putri… ia malah menangis dan merengek karena itu bukan mawar imitasi melainkan mawar sungguhan. “Ia tak akan bertahan lama!” sungut sang putri.

Sambil membujuk putri, Kaisar menyuruh pelayan melihat benda lain yang ada di dalam peti. Keluarlah si burung bulbul yang kemudian bernyanyi dengan merdunya dan membuat semua orang terpana. Para pelayan bertepuk tangan gembira, sebagian berceloteh riuh membandingkan suara si burung bulbul dengan lagu indah yang pernah mereka dengar. Sebagian terus berdecak kagum. Bahkan Kaisar menangis seperti anak kecil. Sedang putri.. ia malah berteriak “Aku tak percaya itu burung sungguhan!” Para pelayan berusaha meyakinkan sang putri kalau itu benar burung sungguhan.

“Kalau begitu lepaskan burung itu!” sahut putri. Pelayan membuka jendela dan membiarkan burung terbang pergi. Dan putri tak bersedia mengizinkan pangeran menemuinya.

Tapi pangeran tidak menyerah begitu saja. Disemirnya wajahnya hitam dan cokelat, ditariknya topinya dalam-dalam, dan diketuknya pintu gerbang istana, meminta pekerjaan apapun yang bisa dikerjakan. Ia pun diterima sebagai Anak Gembala Istana. Ia bekerja dengan rajin dan disela-sela kegiatannya pangeran membuat panci kecil ajaib yang cantik. Di sekeliling panci itu ada lonceng kecil. Ketika panci mulai mendidih, lonceng-loncengnya akan berdenting indah sekali, memainkan nada lagu; Ah, sayangku Augustine, Semuanya hilang, lenyap, pergi!

Namun yang paling aneh adalah jika kau meletakkan jarimu di dalam uap yang keluar dari panci, segera saja kau akan mencium apa yang dimasak di setiap oven di seluruh kota. Jelas ini lebih hebat daripada sekedar mawar!

Suatu pagi putri berjalan bersama para pelayannya melewati pondok sang pangeran. Ia mendengar denting lonceng panci tsb dan terpesona pada lagu yang dikenalnya;ย Ah, sayangku Augustine, Semuanya hilang, lenyap, pergi!

Putri pun menyuruh salah satu pelayan menanyakan berapa harga benda indah tsb. Pelayan masuk ke pondok sang pangeran, eh anak gembala, dan bertanya berapa harga benda indah tsb.

“Sepuluh ciuman dari putri. Dan tak bisa ditawar!” jawabnya lantang agar putri bisa langsung mendengarnya.

Tersipu malu putri menggelengkan kepalanya. Ia pun beranjak pergi. Tapi baru beberapa langkah ia berbalik, mendengar lonceng-lonceng itu berdenting indah. Putri pun menawarkan emas yang banyak dan sepuluh ciuman dari pelayannya yang tercantik. Si anak gembala menolak. “Hanya sepuluh ciuman dari putri,” jawab anak gembala keras kepala.

“Betapa menjengkelkan!” teriak sang putri frustasi. Lalu ia memerintahkan para pelayannya berdiri di sekelilingnya agar tak ada yang melihatnya mencium si anak gembala. Putri pun mendapatkan panci indah nan ajaib tsb. Sepanjang malam ia dan para pelayan bersenang-senang; menari diiringi denting indah dan terkikik-kikik mencium aroma masakan seluruh penghuni kota.

Selanjutnya sang pangeran alias si anak gembala terus membuat benda-benda ajaib dan indah setiap harinya. Ia mendapatkan sepuluh ciuman dari sang putri, suatu harga yang tidak pernah bisa ditawar. Putri hampir tak peduli pada martabatnya, asal ia bisa memiliki benda-benda indah tsb. Memang sih, putri tidak mengijinkan para pelayannya bercerita kepada siapa pun tentang ciuman-ciuman tsb.

Sampai suatu hari sang pangeran membuat kotak musik yang mengeluarkan lagu-lagu paling indah sedunia. Kali ini harganya seratus ciuman dari sang putri. Seperti biasa, putri tak sanggup menolak. Para pelayan pun segera mengelilingi putri dan anak gembala, mengembangkan gaun mereka agar tak ada seorang pun yang menyaksikan ciuman tsb.

Hari itu, Kaisar pulang lebih cepat dari tugas negara. Ia pergi menghirup udara ke balkon dan melihat para pelayan putrinya bergerombol. “Sedang main apa mereka? Tampaknya menyenangkan” pikir kaisar. Ia pun beranjak ke tempat tsb. Karena sibuk menghitung ciuman, tak ada seorang pelayan pun yang menyadari kehadiran kaisar. Wajah kaisar langsung merah padam menyaksikan putri kesayangannya berciuman dengan anak gembala kotor.

“Apa-apaan ini?! Keluar! Keluar! Keluar dari istanaku dan jangan pernah kembali!” teriaknya. Putri, anak gembala dan para pelayan diusir dari istana. Tersedu-sedu putri bingung memikirkan nasibnya. Di luar istana ia tak punya siapa pun. Para pelayan bisa pulang ke kampung halaman masing-masing tapi rasanya tak ada yang mau membawa putri manja tsb.

Tiba-tiba melintas lah sang pangeran yang sudah melepas penyamarannya. Di mata putri, sang pangeran terlihat begitu tampan dan gagah.

“Oh pangeran! Bawalah diriku! Aku bersedia menikah denganmu!” seru sang putri.

Sang pangeran menghentikan kudanya lalu berkata, ” Kau ternyata bukan putri yang baik. Kau menolak pangeran yang tulus hati. Kau tidak menghargai mawar dan burung bulbul yang dihadiahkan dengan penuh cinta dan pengorbanan. Tapi demi sebuah kotak musik dengan kilapan palsu kau bersedia mencium anak gembala. Sekarang kau harus puas dengan hal itu!”

Lalu pangeran meninggalkan putri tanpa pernah menoleh lagi.

.

“Begitu saja?”

“Ya, begitu saja” jawabmu.

“HC Andersen?”

Kau menganggukkan kepala.

“Orang gila.”

“Orang gila.” sahutmu setuju.

Lalu aku tertidur dan kau melanjutkan hidupmu.

 

8 comments on “Dongeng Anak Gembala

  1. Fishbone
    January 21, 2011

    soenggoeh kisah jang adoehai sekali… terenjoeh rasa hatikoe membatjanja…

  2. TamaGO
    January 21, 2011

    pangerannya sakti gitu tapi kerajaannya miskin, rakyatnya nggak diurusin kali ya๐Ÿ˜

  3. farandyryan
    January 21, 2011

    top margotop story nyaaa ….๐Ÿ˜€

  4. Takodok!
    January 21, 2011

    @Fishbone
    ada pengalaman pribadi kah, buya? *cari gara-gara*:mrgreen:

    @TamaGO
    kesaktiannya mungkin tidak berguna dalam kesejahteraan rakyat tam๐Ÿ˜

    @farandyryan
    kudos to HC Andersen!๐Ÿ˜€

  5. giewahyudi
    January 21, 2011

    Andai kisah seperti ini disinetronkan, saya mau deh nungguin di depan tivi..
    *secara anti sinetron*

  6. Kurology
    January 23, 2011

    sebegitu “gampang”-kah mendapatkan berpuluh2 ciuman dari seorang putri? kasih ia barang2 mewah, and then her lips is your?๐Ÿ˜

    but i think that that kinda girl is existed:mrgreen:

  7. ianaholic
    January 26, 2011

    hahay dongeng sebelum tidur?๐Ÿ˜€

  8. evillya
    January 27, 2011

    HC Andersen… pernah nonton film tentangnya dan sepertinya sedih sedih melulu ceritanya #salahfokus

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on January 21, 2011 by in D Plus and tagged , , .
%d bloggers like this: