Di Catatan Takodok

Sekerat Cerita Penanda

Sunyi? Sudah Lupa Tuh!

Berapa yang harus saya bayar untuk sebentuk sunyi senyap menenangkan?

Pertanyaan ini terus menggugah kepala selama beberapa hari belakangan. Bangun pagi disambut celotehan pembawa acara gosip, pergi keluar bertemu riuh klakson pengguna jalan yang tidak sabaran, bermacam orang dan obrolan plus teriakan, musik ajeb-ajeb di atas bus kota/angkot dengan volume maksimum. Akhir minggu? Acara pernikahan dan organ tunggal semalam suntuknya merajalela.

Mau bagaimana lagi? Tinggal di kampung orang mesti menerima kebiasaan setempat😐 . Kalau punya uang segudang seperti paman gober tentu saya akan membeli rumah di perbukitan berudara sejuk ala pedesaan dikelilingi kebun teh. Oh, saya kebanyakan nonton ftv sepertinya:mrgreen: Saya juga bukan Tim Robbins di film Noise yang nekat menghancurkan kaca mobil untuk mematikan alarm yang kebablasan berbunyi. Kadang ingin juga punya keberanian seperti itu.

WWH

Kalau saja saya berani meminta (dengan sopan tapi tegas tentu saja) sopir bus/angkot untuk mengecilkan volume musik mereka…

Kalau saja saya berani meminta (dengan sopan, tegas sekaligus memelas supaya diberi penganan pesta) yang punya hajatan agar berhenti karaoke tengah malam…

Kalau saja saya bisa menyabotase bunyi klakson menjadi dentingan serupa suara angin dan hujan (jangan gemericik air, menimbulkan hasrat ingin pipis soalnya)…

Kalau saja rekan serumah tidak terlalu gandrung sinetron (bukan apa-apa,  dialog dan akting yang sepertinya menuntut urat leher aktor/aktrisnya menonjol sungguh mengganggu menurut saya) dan acara infotainment (oh, saya juga suka kok. Tapi jika seharian mengikuti acara sejenis dengan pemberitaan itu-itu juga, apa tidak bosan?).

.

Beragam “kalau saja” akhirnya cuma jadi polusi otak. Saya lebih memilih bungkam daripada mengambil resiko beradu mulut dengan sopir bus/angkot. Tidak semua sopir angkot rela “diatur” penumpang. Bus kota beralih jadi diskotik mini demi menarik penumpang usia sekolah (duh, saya jadi merasa begitu tua😦 ).

Saya tidak bisa bernegoisasi dengan ‘yang punya hajat’ karena oh karena peraturan kos melarang aktivitas keluar masuk gerbang lewat dari jam sembilan malam. Mau tinggal di mana saya nantiiii?

Saya juga tidak punya kemampuan memanipulasi otak manusia agar sadar bahwa bunyi klakson itu GENGGES! mengganggu. Masa’ ada cewek cakep lantas main klakson sih? Dia jalannya di trotoar lho, bukan di tengah jalan, bukan pole dancing juga di marka jalan :twisted:  Mestinya sebelum dibekali SIM mereka diberi kuliah singkat kapan klakson wajar digunakan. Semacam penataran P4 dulu itu lho. Ah, tapi batas wajar kan lentur. Terutama di negara yang serba lentur ini.

Pada akhirnya yang bisa saya lakukan hanya meminta, nyaris memohon, rekan serumah untuk mengecilkan suara televisi kemudian menutup pintu kamar lalu memasang earphone, mendengarkan musik yang saya sukai. Ha! Ujungnya masalah selera, mengatasi kebisingan dengan hentakan suara jenis lain (pembelaan: saya pendengar musik lembut lho ya😛 ). Ternyata saya sama saja dengan manusia-manusia berisik itu.

 

8 comments on “Sunyi? Sudah Lupa Tuh!

  1. Asop
    April 3, 2011

    Wah, turut bersedih dengan keributan di sekitar Mbak Desti….🙂
    *kok smiley-nya senyum??*

    Kalo yang ribut di sekitar saya hanya adik saya, langsung saya tegur.😆

  2. Shinra
    April 3, 2011

    Sunyi? Sudah lupa tuh😆

    Yes, I start to increase my voice volume. I start to yell when someone yells at me. I’m just as noisy as those noisy people. I’m one of them now😦

  3. Takodok!
    April 3, 2011

    @Asop
    jangan sedih sop, sumbang bakwan saja😆
    Itu dia, karena cuma mampu tinggal di area umum (kos hitungan area umum ya) jadi mau tak mau berkompromi dengan kebisingan macam ini. Sebenarnya sudah biasa, tapi sok dicurhatkan gitu:mrgreen:

    @Shinra
    Obrolan kita beberapa minggu lalu turut menginspirasi lho se. pas kamu cerita aku langsung membatin “I feel you” *halaaaaahhhhhh*😆

  4. Akiko
    April 4, 2011

    Ha! Ujungnya masalah selera, mengatasi kebisingan dengan hentakan suara jenis lain

    tapi ini IMO jitu kok Des….
    Saat kita ndak bisa menghentikan kebisingan diluar, kita bisa menutupi kebisingan di luar dengan kebisingan kita sendiri, yang tentu saja jauuuuuuh lebih namplok di hati. ^^

  5. Farijs van Java
    April 4, 2011

    Hoho. Earphone. Saya juga pakai itu. Tentunya earphone yang berbunyi. Prinsipnya, saya tidak ingin mengganggu keasyikan orang yang mendengarkan lagu keras-keras itu. Meskipun sebenarnya jengah juga lama-lama. Yang sabar saja, lah. Toh katanya orang sabar itu cepat menikah. (doh)
    😀

  6. TamaGO
    April 4, 2011

    klo ada yg berisik di kos malem2 tapi lagi males pasang headset sih biasanya saya ngabur baca buku di kamar mandi sambil merendam kaki😐

    cukup kedap suara dan efektif buat relaksasi ternyata😀

  7. Chic
    April 4, 2011

    errrr ditengah “kebisingan” itu kamu merasa “sunyi” ndak?:mrgreen:

  8. jensen99
    April 4, 2011

    Orang yang suka kesunyian biasanya berharap tiap hari hujan deras, agar ada suara indah dari alam yang menutupi segala kebisingan.:mrgreen:

    BTW Headphone seperti yang di gambarmu itu sepertinya lebih sakti tuk meredam bunyi daripada earphone, des..🙄

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on April 3, 2011 by in D Commento and tagged , .
%d bloggers like this: