Di Catatan Takodok

Sekerat Cerita Penanda

Hidup Dalam Kemasan Cepat Saji

This isn’t about good people versus bad people. This is about the machine is taking over this country. Like something on science fiction. The land, the cattles, human beings. This machine don’t give a shit. Price, it’s all they care about. -Rudy-

.

Sinopsis (beserta spoiler) bisa dilihat di sini.

Saya menonton film ini dengan penuh antisipasi. Kesetiaan saya sebagai penggemar makanan cepat saji akan diuji. Akankah saya beralih jadi penyantap makanan oh sehat nan alami dan jijik melihat ayam kapitalis? Jawabannya tidak.ย  Lalu, apa saya terganggu dengan adegan pembantaian para sapi? Ya. Apa sekarang saya takut makan di restoran junk food? Tidak. Apa saya akan mengurangi konsumsi makanan cepat saji? Mungkin.

Kondisi lapangan di Cody, USA tentu berbeda dengan di sini. Pertanyaannya, apakah pengolahan makanan cepat saji di negeri tercinta kita iniย  sama buruk atau malah lebih membahayakan kesehatan?

Pertanyaan bodoh. Semua juga tau tidak baik mengkonsumsi makanan cepat saji (yang diproses secara) instan sering-sering. Cukup sekali-sekali saja. Sekali hari Senin, sekali hari Kamis, sekali di akhir minggu, lanjutkan siklus di minggu berikutnya.

Ah, itu kamu aja kok, Des. Pola hidupku sudah sehat kok. Aku makan makanan organik 100% alami dijamin sehat.

Syukurlah. Tapi saya boleh tanya lebih lanjut ya? Kita main pertanyaan bodoh-bodohan.

Seberapa yakin anda terhadap label alami-sehat makanan yang anda makan?

Boleh bantu jabarkan definisi alami anda?

Seberapa alami anda, dari kepala sampai kaki?

Seberapa instan cara yang anda pakai mengarungi hidup sehari-hari?

And i’ll put a cieh-word here. Sorry, my bad. Ga tahan:mrgreen:

Katanya kita hidup di jaman serba instan. Hampir semua barang diproduksi massal. Bisa saja kita berkeras “hidup tradisional mendekat pada alam” tapi hanya orang-orang berkemauan kuat yang bisa bertahan dengan cara ini. Coba nyalakan televisi anda. Minimal satu stasiun tv lokal akan menyodorkan berbagai cara licik, busuk, egois yang merugikan kehidupan orang lain. Formalin, zat pewarna tekstil, daging busuk di makanan, saos sambal dari pepaya busuk, minyak goreng yang tidak sehat (blah!).ย  Seorang teman saya sampai berujar, ” Mau makan tempe yang katanya makanan orang susah benar-benar bikin susah ya? Udah ga murah, belum tentu sehat pula.”

“Makanya jadi orang berduit. Setidaknya pilihanmu untuk menjalani hidup (sehat/tidak sehat) akan lebih bervariasi.” ujar saya. Betul kan? Tapi jangan terlalu khawatir juga. Manusia beradaptasi dan siapa tau tubuh kita berevolusi jadi manusia kalengan, tahan banting terhadap bahan karsinogenik. Formalin? Keciiiilll!

.

Meat is supposed to be cooked… There’s always been a little shit in your meat. Just cook it. That’s all you need to do. You see, it’s one thing that bugging me about this country. Americans became a big fraidy cat. Afraid of everything. Everything have to be steril, germs free. Everybody needs to grow up! That’s what they need. Wanna be safe, huh? Perfectly safe? Forget about it. That’s not gonna happen! Just cook the meat, and you’ll be fine. -Harry-

11 comments on “Hidup Dalam Kemasan Cepat Saji

  1. lambrtz
    May 10, 2011

    Sejak nonton video di Youtube tentang orang yang jadi kuruuuus banget dan tampak penyakitan gara-gara selalu makan makanan sehat juga gara-gara udara Singapore yang terlalu bersih ini menurunkan daya tahan tubuh saya, saya mulai menghilangkan mindset untuk selalu makan makanan sehat.๐Ÿ˜

    Yang saya amini jelas sih fast food itu mahal, bisa 2 kalinya harga makanan vegetarian dan 1,5 kali harga makanan biasa, makanya jangan sering-sering. Ya diseling-selinglah.:mrgreen:

  2. Billy Koesoemadinata
    May 10, 2011

    eh, ini yang soal burger itu kan? *fastread*

  3. Reinhart
    May 10, 2011

    makanan cepat saji? Ah, cuma seminggu dua kali kok:mrgreen: *lirik kedai makanan ayam cepat saji di blok sebelah rumah*

  4. Arm Kai
    May 10, 2011

    baca komen lambertz jadi inget joke tentang perut orang Indonesia, sakti2 banget, biar makan di pinggir jalan tetep aja jarnag sakit๐Ÿ˜†

    yah, saya sih berusaha seimbang aja. wong ga perlu makanan instan, makanan “normal” macem nasi padang juga kalo keseringan ga bagus buat kolesterol๐Ÿ˜›

  5. Takodok!
    May 10, 2011

    @ lambrtz
    ada link youtube-nya, nicho?
    sampai pada satu titik istilah makanan sehat itu relatif menurut saya. Sayur yg digunakan untuk bikin gado-gado pada proses penanaman sampai panen sealami apa sih? Belum bumbu-bumbu yang dipakai, apa bukan bumbu instan?
    Apalagi soal mahal-murah. Yang penting adaptasi dengan pilihan (makanan) yang ada di sekitar:mrgreen:

    @ Billy Koesoemadinata
    iya, yang ambil latar burger Mickey’s. Filmnya agak “maksa” & padat sih menurut saya

    @ Reinhart
    bagi!๐Ÿ˜†

    @ Arm Kai
    sah memang sudah jadi manusia kaleng๐Ÿ˜€
    Kopi sachet, teh celup juga masuk kategori makanan instan ga sih? Ya, yang penting cocok antara selera dengan pilihan tersedia saja lah๐Ÿ˜‰

  6. Ms. Plaida
    May 10, 2011

    Formalin? Keciiiilll

    ๐Ÿ˜†
    Siapa tau di nanti malah bisa bikin kita awet muda. Tagline: tinggalkan suntik Botox, konsumsilah Formalin.๐Ÿ˜„

    sepertinya memang butuh kemauan kuat pleus disokong dana yang mantep karena kita tahulah berapa harga bahan makanan organik (segar ataupun kering) yang di supermarket itu.

    saya pernah disuruh diet beras merah sama mamah dan nyerah di minggu ke tiga.
    rasanya tawar, ngga semanis beras putih.. padahal konon itu yang bikin sehat.๐Ÿ˜

  7. Farijs van Java
    May 10, 2011

    Hwahaha! Sepertinya penulis postingan ini sudah hampir berevolusi menjadi manusia kalengan, nih.๐Ÿ˜€

  8. rukia
    May 10, 2011

    saya termasuk jarang makan makanan cepat saji, mungkin sebulan cm 2-3 kali kalo itu termasuk mie instan๐Ÿ˜€
    tapi apa makanan sy jg alami? Tidak sepertinya, seperti yg Desti bilang, kita nggak tau seberapa alami makanan yg kita makan, mulai dari proses dia didapat sampai ada di pasar bahkan mungkin sampai tersaji di meja makan. Dan tentu saja, saya bukan penyuka sayuran:mrgreen:
    tapi siapa peduli itu alami atau tidak. Yang penting gizi terpenuhi, saya kenyang, masalah lain bisa diatasi dengan cukup istirahat dan olah raga. Walaupun begitu, ketidak pedulian saya bukan berarti saya mendukung untuk selalu menyantap makanan cepat saji๐Ÿ˜‰

  9. Asop
    May 10, 2011

    Apapun itu, sebisa mungkin kurangi porsi makanan fast/junk food.๐Ÿ˜ฆ

    Mulai dari seminggu sekali, lanjut ke dua minggu sekali, dan sebulan sekali. Seperti kata Mas Lambrtz, harganya mahal!!๐Ÿ˜›

    Dengan harga yang setara fast food, bagi kami anak kuliahan bisa dapat 3-4 kali makan.๐Ÿ˜†

    Dengan jumlah segitu, jika unsur sehatnya dibandingkan, masih lebih baik makanan warung2 di kawasan kampus (memang kebersihan tidak terlalu terjamin).:mrgreen:

    Gak bisa dipungkiri memang, jaman sekarang semua udah instan. Mulai dari kopi, teh instan, saus sambal instan, sambal kecap instan (yang baru), bumbu masak sop, rendang, soto, dan gulai instan (KOKITA, tinggal masukkan ke rebusan daging), bumbu tumis instan (KOKITA juga, bawang putih kepruk)… buaaaaanyaaak!

    Nah, kalo saya sih, tinggal hati2 aja memilih barang2 instan tersebut. Saya akui saya belum bisa lepas dari makanan-minuman-bumbu instan tersebut.:mrgreen: Sebisa mungkin saya mengurangi konsumsinya. Sampe saat ini saya baru bisa lepas penuh dari konsumsi kopi dan teh instan. Nggak enak rasanya, terlalu manis!๐Ÿ˜›

    Juga, saya udah lamaaaa banget gak makan fast food macem KFC, McD, ato Hoka2 Bento. *bangga*๐Ÿ˜€

  10. choirunnangim
    May 11, 2011

    assalamu’alaikum…
    wuh kritis sekali tulisan yang di postingkan.
    wah emang bener tuh TV meracuni anak-anak juga agar terfrofokasi ikut membeli…

  11. dnial
    May 11, 2011

    I live everyday from Indomie.
    Mau bilang bahan kimia kek, nggak alami kek, biarin lah.

    Yang jelas sih, mungkin emang makanan instan itu kudu dikurangi dan diimbangi dengan slow food. Tapi hal itu bisa kalau kita mengurangi kecepatan kita dalam hidup.

    Makanan instan itu jamak di kehidupan yang mudah atau mereka yang living in the fast lane.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on May 10, 2011 by in D Commento and tagged .
%d bloggers like this: