Gampang Menyerah

I’m definitely a quitter. But life goes on and at certain point i stop being quitter then make another dull-mistakes. Classy, huh?

Itu curcolnya. Yang jadi inspirasi curcol *halah* adalah komik yang baru-baru ini saya baca; The Quitter.

Pada masa kegelapan yang belum lama berselang, saya berkenalan dengan nama Harvey Pekar. Saat itu kebetulan saja membaca tentang American Splendor yang dipuji oleh sebuah majalah sebagai film yang “berbeda”. Dengan semangat yang selayaknya diaplikasikan di bidang akademis, saya mulai mencari informasi yang berkaitan dengan film ini. Ternyata ia adalah adaptasi dari komik yang cukup populer(?) di negara asalnya. Lalu potongan info ini meredup di tengah gempuran berbagai hal yang dipaksa masuk ke kepala. Sampai akhirnya yang teringat secara samar hanyalah nama Pekar (yang bagi saya) cukup unik.

Dua minggu lalu saya menemukan komik bersampul merah ini di tumpukan diskonan (!), 10 ribu saja. Sewaktu membeli, saya masih belum ingat pernah sangat penasaran terhadap America Splendor. Baru di ujung The Quitter saya berujar, “Ooooohh ini kan…”

Nah, ini bukti bahwa apa yang (pernah) membuatmu penasaran akan bertahan lama pesonanya.  Parah. :mrgreen:

Berhubung ini masih autobiografi, ceritanya tidak bombastis dan tokoh utamanya kurang menarik simpati. Boleh dibilang Pekar ini benar-benar menyebalkan, egois, selalu mencari pengakuan dari orang lain. Sungguh mengingatkan akan sebagian dari sifat saya sendiri.

Akhir cerita (lagi-lagi) dijabarkan tidak bombastis, seakan-akan punya sederetan karya berupa komik adalah hal yang biasa saja. Memang  Pekar hanya seorang pensiunan pegawai administrasi pemerintahan, tapi masa sih sebegitubiasanya? Film adaptasi American Splendor sempat dinominasikan sebagai Best Adapted Screenplay di Academy Award tahun 2003 lho. Apa ini termasuk jurus merendah untuk meninggi?

Malah nuduh yang bukan-bukan. *tepok jidat*

Hikmah dari komik ini: Pekar yang gampang menyerah bisa punya karya. Pekar yang tidak menyerah mungkin bisa jadi profesor di universitas kampung halamannya, tidak membuat komik, lalu tidak akan ada postingan ini dan saya pun kehilangan momen “Ih kok mirip eik yaaaaa…”

Permisi, mau merenungkan masa depan dulu.

Advertisements

About Takodok!

sleep tight, play hard, read carefully.
This entry was posted in D Commento, D Private and tagged , , . Bookmark the permalink.

6 Responses to Gampang Menyerah

  1. Asop says:

    Mbak, mbaca komiknya di mana sih? 😦
    Ebook atau punya fisiknya? 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s