A Quick Post: What That Monster Told Me

Selama tiga minggu di kota dingin ini, kegiatan menonton film dan membaca buku-buku favorit otomatis berkurang. Hanya sempat menonton beberapa episode awal House MD dan 2 Broke Girls. Bacaan pun seputar yang wajib saja (meski itu pun tak cukup). Baru pada minggu lalu saya bisa membaca seperempat buku Hot, Flat, and Crowded dan kemarin menonton A Monster in Paris.

Untuk buku, enak dibaca dan jadi selingan sangat menyegarkan dibanding topik-topik yang harus saya telan beberapa saat belakangan ini. Sedangkan A Monster in Paris menawarkan earworm baru; “La Seine and I” yang versi Inggrisnya dinyanyikan Vanessa Paradis dan Sean Lennon. Versi Prancisnya juga nyaman di telinga.

Selama tiga minggu ini pula saya banyak belajar. Bagaimana menghadapi berbagai macam jenis orang sakit, bagaimana mengatasi efek kejut perbedaan teori dengan aplikasi, bagaimana bekerjasama mengatur strategi kabur dari dokter, dan terutama belajar  menyatu dengan dinding. 😆

Sejauh ini cukup menyenangkan dengan bumbu kebosanan dan panik di sana-sini. Seperti yang digambarkan dalam A Monster in Paris, orang cenderung mencurigai makhluk asing yang tidak familiar di lingkungan mereka. Keasingan sepertinya sudah jadi alasan cukup untuk memperlakukan orang lain seperti pesakitan. Dan ketidaktahuan membuat sesuatu jadi lebih menakutkan. Ketika kita sudah memperbesar rasa takut, maka hal paling mudah pun jadi lebih berat dikerjakan.

Asik mulai cumblang, curhat dengan gamblang.

Advertisements

About Takodok!

sleep tight, play hard, read carefully.
This entry was posted in D Commento, D Private and tagged , , . Bookmark the permalink.

4 Responses to A Quick Post: What That Monster Told Me

  1. warm says:

    hoo bijak skali makcik ini 🙂

  2. Ahmad Alkadri says:

    Sejauh ini cukup menyenangkan dengan bumbu kebosanan dan panik di sana-sini. Seperti yang digambarkan dalam A Monster in Paris, orang cenderung mencurigai makhluk asing yang tidak familiar di lingkungan mereka. Keasingan sepertinya sudah jadi alasan cukup untuk memperlakukan orang lain seperti pesakitan. Dan ketidaktahuan membuat sesuatu jadi lebih menakutkan. Ketika kita sudah memperbesar rasa takut, maka hal paling mudah pun jadi lebih berat dikerjakan.

    *tarik napas* Wow, paragraf yang sangat kuat. Setuju sekali, sangat merefleksikan kondisi sosial masyarakat kebanyakan sekarang ini.

  3. Harry Wahyudhy Utama says:

    !!! hanya ingin memberi tahu, catatan takodok telah mendapatkan award dari klikharry :), cek yaa
    http://klikharry.com/blogger-award/

  4. Goiq says:

    setuju dengan kalimat terakhir… rasa takut itu membuat segalanya menjadi sulit dilakukan..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s