Di Catatan Takodok

Sekerat Cerita Penanda

Masa Kadaluarsa

Before Sunrise atau Before Sunset?

Before Sunset. Karena percakapan yang disajikan lebih quotable, lebih dewasa, lebih mengena pada pengalaman pribadi, dan.. I fancy the idea of people (finally) getting together after years (trying to find each other).

Dulu sekali, saya pernah menonton film tentang seorang lelaki yang mencari wanitanya selama berpuluh tahun. Saya tak ingat judul filmnya apa, pemerannya siapa, keseluruhan cerita bagaimana, bahkan saya tak ingat usia saya saat itu. Yang jelas film tsb meninggalkan kesan mendalam pada beberapa adegan.

Yang paling saya ingat yaitu saat tokoh lelaki diberi pilihan oleh seseorang (saya curiga ia adalah “Ketua Malaikat” atau sejenisnya) untuk “tetap sebagai malaikat dan hidup abadi atau dikirim ke dunia, menjadi manusia dan bebas mencari belahan jiwanya. Hanya saja, ia punya batas waktu. Bila dalam waktu 10 tahun bisa bertemu, mereka akan hidup bahagia selamanya. 20 tahun, sang belahan jiwa akan semakin menjauh. 30 tahun, potensi bahagia semakin menipis. Tentu saja si lelaki memilih untuk mencari wanitanya.

Lalu adegan perjalanan hidup sang belahan jiwa bergulir; mulai dari masa kanak-kanak, remaja, umur 20-an, bertemu lelaki lain, 30-an, menikah, dan seterusnya. Ya, mereka tak segera bertemu. Ironisnya, tidak cuma sekali mereka hampir berpapasan. Tentu saja tokoh wanita tidak mengingat si lelaki sebelum bertemu dengannya. Maka kesempatan untuk bahagia itu pun semakin samar.

Toh akhirnya mereka bertemu di usia 40 atau 50-an, saat sang wanita sudah ditinggal mati suaminya. Adegan pertemuan itu cukup sederhana; tatapan mata bertaut lalu diiringi senyum yang menggambarkan “There you are..” dan.. CUT! Film berakhir.

Entahlah, mungkin sebagian besar adegan hanya bayangan saya semata yang sudah bercampur film-film romantis lainnya. Sepertinya inilah landasan yang membentuk pendapat saya tentang belahan jiwa-pernikahan-dan expiration date. Damn you Hollywood!

Bahwa setiap hubungan punya masa kadaluarsa. Perpisahan akan tetap terjadi, entah karena kematian atau perceraian. Tetap saja, saya tak akan mentoleransi perselingkuhan.

.

*Tiba-tiba saya ingin mengeluarkan topik ini dari kepala karena sesi obrolan sore dengan seorang teman kemarin.

4 comments on “Masa Kadaluarsa

  1. TamaGO
    December 24, 2012

    Nah itu kalo ketemu belahan jiwanya umur 30-an, pas ketika suaminya pergi dinas ke luar negeri sebulan setelah pernikahan mereka, kira2 jadi sinetron nggak ya ceritanya :p *ngerusak pilem*

    • Takodok!
      December 24, 2012

      kalo begitu ya ga akan meninggalkan kesan mendalam pada saya. Umur saat menonton film tsb belum sesinis sekarang lah. Hahahaha

  2. ellya
    December 25, 2012

    ah masa kadaluarsa suatu hubungan ya. seperti siklus hidup bakteri?😉

    tapi memang hidup suka berputar2 dulu ya sebelum nemu the half one. atau jangan2 the half one-nya ga pernah sadar kalo dicariin? ah jadi sinetron itu nanti.

    • Takodok!
      December 27, 2012

      muter-muter pusing lho nanti el:mrgreen:
      Kamu ngomongin siklus hidup bakteri aku ya keinget kurva baku. Lurus lempeng aja garisnya hahahaha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on December 23, 2012 by in D Commento, D Private and tagged .
%d bloggers like this: