Di Catatan Takodok

Sekerat Cerita Penanda

Tentang Pindah [2]: Decluttering

Saya terperangah saat menonton episode HIMYM minggu ini yang berjudul Something Old. Detil dari episode dua minggu lalu yang menyebutkan bahwa dua karakter utama, Marshall dan Lily, akan pindah ke Italy. Pasti ada hubungannya dengan pindah.

Benar saja.

“Look at it as a reason to simplify our lives. You know, we can’t bring everything to Italy so we gotta throw out some junk.”

Adegan perdebatan Marshall dan Lily tentang barang-barang apa saja yang akan mereka bawa baru saja saya alami. Saat menyentuh lembar demi lembar kertas binder berisi oret-oret sewaktu bimbel yang tersimpan di lemari, membuka kotak pernak-pernik rusak yang  jarang dijamah tapi tetap disimpan karena alasan sentimentil (hadiah ulangtahun ke-17!), atau tumpukan buku yang masih berbungkus plastik, mau tak mau membuat saya terseret kenangan; bertahun-tahun tinggal di satu kota dengan berbagai peristiwa menyenangkan maupun menakutkan, kamar yang jadi saksi keputusasaan, surat dari ibu yang saya terima saat masih belum punya handphone, tulisan tangan Ayah yang mendoakan saya lulus SPMB. Ohya, saya memboyong semua remeh-temeh jaman SMA melintasi selat Sunda, kembali lagi menuju kota yang berbeda, kota ini, dan menyimpannya di satu kotak. Dulu, saya rajin membukanya sebagai penyemangat. Sampai entah kapan, saya lupa bahwa mereka ada.

“The rule of de-clattering is very simple. Have you used it in the last year?”

*sigh*

Dengan berat hati, saya membuang beberapa barang yang sudah tidak relevan lagi dengan langkah berikutnya. Dan sebisa mungkin saya tidak mau berpikir terlalu panjang, karena saya tau apapun keputusan yang saya buat tetap saja di masa depan saya akan tergoda untuk menyesal. Surat-surat dan kartu ucapan saya simpan. Pernak-pernik rusak yang tak tertolong lagi, saya buang. Catatan bimbel-kuliah-turorial saya bundel lalu dikirim pulang beserta buku-buku teks. Beberapa komik dan novel saya hibahkan kepada teman yang bersedia. Sebagian besar buku kesayangan saya kirim pulang. Untuk urusan baju dan sepatu jauh lebih mudah; buang yang rusak tak terpakai.

Saya sering menjuluki diri sendiri sebagai hoarder. Kadang terselip keuntungan karena saya tau di mana saya menyimpan suatu benda, dan ada perasaan aman karena tau mereka ada di mana kalau-kalau suatu saat dibutuhkan. Kalau-kalau suatu saat. Kadang ya, seringnya mereka berujung jadi tumpukan sampah.

Dulu saya berpikir (atau bercita-cita) akan tinggal di berbagai kota. Makin ke sini, sepertinya saya berubah pikiran. Saya tidak suka keribetan mengepak barang. Ya, saya suka saat di perjalanan tapi saya benci perasaan asing saat terlalu lama jauh dari kota asal/kota yang saya kenal. Saat  seperti itu, Home-nya Buble bisa membuat mata ini berkaca-kaca. Sembilan jam terlunta-lunta di bandara bisa saya nikmati tanpa banyak mengeluh, tapi sesampainya di rumah saya langsung bersujud syukur karena eh karena penantian perjalanan itu melelahkan. Dan senyum ibu yang menanti di pintu rumah menghapus semua kelelahan itu.

So, yeah, i guess i’m going home. Membawa beban dari kota ini ke rumah. Setahun lagi entah saya akan berada di mana. Yang pasti, kegiatan “de-cluttering” nampaknya menarik untuk dilakukan secara rutin. Karena membuang beban yang tak perlu akan memudahkan kaki untuk melangkah. Definisi perlu-tak perlu masih mengawang, maka akan saya gunakan saja peraturan Mr. Mosby;

Have you used it in the last year?

15 comments on “Tentang Pindah [2]: Decluttering

  1. christin
    May 8, 2013

    I have a special feeling for whatever it is I own, used or unused If anybody asked “have you used it in the last year?” I’ll answer instantly: “no I don’t, but it doesn’t mean I just want to throw them away. maybe I’ll used it some day, or maybe not, but I like to keep them close to me.”

    *sulit muvon*
    *sekalian curcol*

    • Takodok!
      May 8, 2013

      Oh i feel you. Unfortunately i can’t carry all of those stuff. And i applied some further rule(s);
      (2)What’s its story? Quick! Tell me in 5 seconds! Can’t? Throw it away.
      (3)Is it worth saving? Won’t cost you too much, eh?

      I’m a bit heartless and tired now. *tepok-tepok punggung kriyis*

      • christin
        May 16, 2013

        damn I feel like I want to slap myself in the face just to see your questions…

  2. Abhilasha
    May 9, 2013

    Mbak Des, selamat pindahan!🙂

    Kalau kata temanku, packing itu perkara memilih dan mengikhlaskan. Semakin sering packing semakin paham mana yang penting buat dia dan hidupnya, juga sekalian mengikhlaskan barang-barang yang harus ditinggalkan atau bahkan dibuang.

    Anyway, de-cluttering itu asyik. I used to be a hoarder, tapi sekarang lagi coba de-cluttering secara rutin supaya nggak pusing kekurangan ruang atau waktu packing :))

  3. evillya
    May 9, 2013

    de-cluttering itu menyenangkan, tapi prosesnya menyita banyak perhatian juga kalau soal barang-barang yang punya kenangan khusus… *menimbang-nimbang buat beli shredder*

  4. TamaGO
    May 10, 2013

    wah sama, waktu pindahan kuliah ngebuang beberapa kardus buku catatan tapi kayanya masih belum tobat dari kebiasaan ‘koleksi’ barang2 ga penting. Pindahan kemarin ngebuang 1 kardus potokopian dan beberapa binder :p

  5. awin
    May 10, 2013

    Selamat pindahan kak Desti😀
    Awin menerima dengan ikhlas kalau kak Desti bersedia menghibahkan beberapa buku bacaan kepadaku😀 *digetok*

  6. Ferfau
    May 11, 2013

    Kakak, trus kalo aku ke Padang, kita ga ketemu lagi dong?😦

  7. Fhia
    May 19, 2013

    Karena membuang beban yang tak perlu akan memudahkan kaki untuk melangkah.
    ouch..
    *peluk jauh kak desti*

  8. opathebat
    May 22, 2013

    Aku biasanya rutin de cluttering. yah rutinnya gak pasti sih. Bisa setaun sekali. ato setaun dua kali. Atau bertaun-taun sekali. Yah tergantung mood aja.
    Waktu pindahan dari kos aku loakin kertas-kertas, sialan ternyata harga kertas murah banget, mau beli es krim aja nggak bisa😐

  9. oelpha
    May 23, 2013

    pengen de cluttering juga tapi susah rasanya melepas. di rumah sampai ada kotak khusus yang berisi kado-kado ulangtahun dari jaman SMP! sayang aja mau buang. kok seperti tidak menghargai yang pernah ngasih. jadinya kalo orang jawa bilang “nyusoh”.

  10. lindaleenk
    May 24, 2013

    Aku merasakan banget rempongnya pindahan dengan pritilan bawaan.
    Asa barang yg mgkn ga kupakai, tp takut suatu saatu bakal butuh.
    Tp makin kesini, jd semakin menyingkirkan yg ga dibutuhkan. Daripada pindahannya repot😐

  11. morishige
    June 12, 2013

    aaah… saya juga susah membuang barang-barang yang saya simpan, sebab saya menganggap semua sebagai memorabilia. mungkin benar juga, bahwa jangan berpikir terlalu panjang atau dalam. kalau sudah begitu ya…. susah move on.🙂

  12. Anton
    July 18, 2013

    mungkin harus dibuang ketika sudah tak terpakai😀

  13. Pingback: Masa Lalu Memalukan (?) | Di Catatan Takodok

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on May 8, 2013 by in Uncategorized.
%d bloggers like this: