Rasisme Rasional

Memasuki pertengahan bulan kedua 2017, saya baru meyelesaikan tiga buku bacaan dan menyisakan sekita 6-7 buku yang masuk status sedang dibaca. Salah satunya adalah Logika Hidup yang ditulis oleh Tim Harford.

Kisah kebersamaan saya dengan buku ini cukup menyedihkan, karena ia termasuk buku terbengkalai dan menguning sebelum selesai terbaca. Sedih ya? :mrgreen:

Berhubung lupa apa topiknya, saya mulai baca ulang pada awal tahun ini. Pergerakan halaman terbacanya lamban sekali, padahal topiknya lumayan menarik. Terutama saat saya sampai pada bab enam yang berjudul “Bahaya Rasisme Rasional”.

.

Wtf! Kok merasionalkan rasisme? Bukannya jahat ya rasisme itu?

.

Yang saya tangkap dari penjabaran penulisnya, rasional diartikan “insentif menguntungkan”. Ia berpendapat bahwa manusia adalah makhluk rasional. Bahwa setiap keputusan atau kejadian gila sekalipun, ada proses pengambilan keputusan yang rasional. Karena manusia akan melakukan tindakan yang menguntungkan dirinya.

Contoh di bukunya spektakuler bahkan untuk ukuran Amerika sana pada tahun 2000-an awal. Meningkatnya kebebasan remaja, penggunaan kontrasepsi, teori permainan (judi), tingkat perceraian, tingkat hunian perkotaan, semua dijabarkan secara masuk akal (jika mengikuti pola pikir penulisnya).

.

Jangan selalu pakai logika, mbak! Hatimu mana?

.

Bahkan para makhluk idealis pun terjebak dalam situasi irasional, yang pada akhirnya ada penjelasan rasionalnya.

Bingung ya? Hehe. Begini kurang lebih ilustrasi singkatya:

Ada penelitian yang melibatkan sekelompok mahasiswa berakal sehat nan idealis. Mereka dibagi dalam kelompok “majikan” dan “pekerja”. Para pekerja secara acak ditentukan untuk masuk ke salah satu warna; hijau atau ungu. Mereka diminta untuk masuk ke sebuah web sederhana dan melewati tiga percobaan sederhana.

  1. Kelompok pekerja diminta memutuskan apakah mereka akan membelanjakan uang untuk pendidikan yang nantinya meningkatkan kesempatan pada saat tes.
  2. Tes, yang sebenarnya mirip lemparan dadu acak tapi dengan probabilitas lebih tinggi bagi mereka yang membayar untuk pendidikan.
  3. Keputusan kelompok majikan untuk memperkerjakan pekerja yang mana dengan berbekal data: siapa yang membayar untuk pendidikan dan apa warna pekerja tsb; hijau atau ungu.

Variabel lain yang cukup berpengaruh: reward dan penalty bagi majikan. Majikan akan mendapat dolar tambahan bila mempekerjakan pekerja yang membayar untuk pendidikan dan didenda bila mendapat pekerja yang tidak terdidik.

Ketiga langkah tsb diulang berpuluh kali dan hasilnya? Mahasiswa berakal sehat dan idealis juga adalah makhluk rasis yang rasional.

.

Pada percobaan pertama tentu saja kelompok majikan mengambil strategi mengambil untung dengan hanya mengandalkan hasil tes yang menyatakan pekerja mana yang terdidik mana yang tidak. Apa warna mereka tidak dipedulikan. Tapi pada pengulangan selanjutnya, dengan mengandalkan sejarah lalu/percobaan sebelumnya, kelompok majikan mulai mempertimbangkan warna pekerja.

Kebetulan pada saat itu lebih banyak pekerja hijau daripada ungu yang membayar untuk pendidikan, sehingga hasil tes skor hijau tentu lebih baik. Di titik inilah generalisai mulai terjadi. Kelompok majikan lebih mengutamakan pekerja hijau. Menghadapi ini, pekerja ungu menampilkan reaksi menurunkan tingkat keterdidikan mereka. Untuk apa membayar pendidikan bila tak ada yang mau mempekerjakan mereka karena mereka berwarna ungu?

Lingkaran setan pun terjadi; the world works as it is. Fin.

.

Seperti penulisnya, saya juga tidak membenarkan rasisme. Tapi harus diakui rasisme ada dan akan terus ada karena rasisme itu menguntungkan, rasional.

.

Istilah lain yang digunakan penulis buku ini adalah diskriminasi statistik. Boleh juga kita sebut generalisasi. Harus diakui, generalilasi-rasisme rasional-diskriminasi statistik ini bermanfaat. Penulisnya mencontohkan sales asuransi mobil yang memberikan biaya lebih besar kepada laki-laki ketimbang wanita. Katanya di Amerika sana para agen asuransi kurang menyukai kebiasaan mengemudi sembrono pria ketimbang wanita. Benarkah? Entahlah. Saya aminkan saja.

Tapi kalo perusahaan XX yang lebih banyak mengambil fresh graduate pria ketimbang wanita saat tes di kampus saya dulu, itu sudah rahasia umum. Berkaitan dengan masa kontrak kerja dan kesediaan ditempatkan di mana saja katanya. Katanya ya..

.

tl;dr Ga usah jumawa bilang kalo kita bukan orang yang rasis. Akui saja rasisme, streotype, itu ada dan sering kita lakukan karena menguntungkan, mempermudah hidup kita, terutama dalam hal mengambil keputusan. Tapi apakah kita akan serta merta memuntahkan pendapat dan prasangka kita tentang seseorang yang belum kita kenal hanya karena dia berwarna ungu? Bodoh rasanya.

Pada akhirnya, sampai sejauh mana sih apa yang kita tau itu benar? Karena kebenaran mutlak milik Allah semata.

 

Advertisements

4 thoughts on “Rasisme Rasional

  1. kalo soal kerja sih biasanya prioritas ke daerah asal karena biasanya lebih awet (nggak homesick atau butuh mudik, jadi menghemat pengeluaran annual home leave ticket juga hehe)

    jenis kelamin mungkin hanya untuk beberapa area saja (yang sering lembur, dinas keluar, dan banyak aktivitas fisik). untuk warna….. sejauh ini belum pernah liat pekerja dengan warna kulit ungu ataupun hijau, harus waspada juga sama yang kulit hijau kalo ngamuk trus ngancurin mesin2 pabrik, bisa jadi bencana nasional ntar 😐

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s