[Film] It

Setelah sibuk galau sendiri karena harus beradaptasi di kota baru, akhirnya saya bisa melakukan aktivitas familiar; nonton di bioskop. Sendiri, dan ditawari popcorn–daripada sendiri katanya. Ya kayak popcorn bisa mengusir sepi aja mbaknya ngece nih!

Tapi saya kalem kok waktu itu. Toh mbaknya hanya menjalankan tugas.

Ga kalem karena ternyata saya salah mengatur waktu. Niatnya mau nonton Kingsman malah ga cocok jadwalnya. Ya sudah daripada balik ke kosan lalu nugas mending saya nonton apa yang ada saja ya kan? :mrgreen:

Pilihan jatuh pada It, yang sebenarnya sudah tayang sejak bulan lalu. Padahal waktu diajak nonton oleh adik dan teman kerja dulu saya tolak mentah-mentah.

“Ogah yaaa nonton horror yaa.. Bayar mahal untuk dikagetin buat apa?”

Ya gitu.. manusia memang gampang terbolak-balik hatinya. Hehehe.

.

Saya tak punya gambaran akan seperti apa filmnya. Murni horror kah atau thriller kah. Iya, saya tau novelnya. Tapi saya ndak mbaca. Tumpukan to be read saja menggunung. Hhhh..

15 menit pertama, saya terkesima. Sungguh menyayat hati. Mana si badutnya mengesankan; seram tapi riang.

Ganteng pula.

Heh?

Aslinya ganteng nan menawan kooook… Skarsgård gitu loh!

mv5bnje5mzaznzuwov5bml5banbnxkftztgwndm0otg0ode-_v1_uy317_cr170214317_al_

.

Para tokohnya pun menyenangkan untuk diliat. Saya suka bagaimana tiap tokoh digambarkan punya kelemahan masing-masing, termasuk si tukang bully. Ada yang hipokondriak, banyak omong, pemalu, penakut, khas remaja. Tokoh utamanya gagap, fisiknya lemah, tapi tetap yaa dia yang dapat ceweknya 😐

Tetap saya tak sanggup melihat adegan-adegan horrornya. Sebenarnya biasa lah, tampilan gory diiringi musik creepy dan/atau berdentam-dentum mengagetkan.

.

Yang paling berkesan adalah perasaan kehilangan tokoh utama, Bill, yang begitu membekas. Mungkin ini karena saya sedang kangen rumah saja ya..

Bill yang begitu terobsesi mencari adiknya, Georgie, dan bagaimana ia menghadapi orangtuanya yang memilih untuk lebih cepat pasrah dan “menerima” kepergian Georgie. Perbedaan anak beranjak dewasa dengan orang dewasa sesungguhnya tergambar cukup nyata sekaligus membuat miris. Seakan sudah jadi kesepakatan bersama, baik antara para pembuat film maupun para penulis (yang saya sukai), bahwa harapan dipegang erat oleh anak-anak. Orang dewasa cenderung lebih cepat meninggalkan harapan.

Mungkin mereka sudah terlalu sering kecewa..

😆

Tapi saya tak kecewa menonton film ini. Ini penting nih!

Hehe.

Advertisements

About Takodok!

sleep tight, play hard, read carefully.
This entry was posted in D Commento, D Reviews and tagged . Bookmark the permalink.

20 Responses to [Film] It

  1. Warm says:

    Sungguh, gaya postinganmu kali ini njogja sekali, nyenengke gimana gitu 😀

  2. TamaGO says:

    remake yang saya sama sekali belum pernah nonton versi orinya, padahal biasanya klo remakenya hype langsung versi jadulnya diputer di tipi

  3. Ranger Kimi says:

    Aku nonton film ini malah kecewa berat… 😦

  4. Rafsablog.id says:

    biasanya kalo nonton film genre ginian sama gebetan biar tambah seru wkwk

  5. evillya says:

    Aku mau nonton masih ga berani :(( Mas badutnya ganteng :3

  6. Rise says:

    Ingin nonton ini karena badutnya ganteng *halah*. Tapi kayaknya ga ada jadwal nonton sampe akhir tahun. Slot nonton mau dipake buat The Last Jedi meskipun minggu lalu hampir khilaf nonton Dunkirk lagi (ga jadi khilaf krn ga cocok jamnya).

  7. kayaknya belum bisa menandingi te ring, atau ju-on ya. menurutku aja lho pakdhe

  8. Jadi pingin liat film nya nih

  9. Pingback: [Film] Pengabdi Setan – Di Catatan Takodok

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s