Belajar Memotong Dendeng

Selamat Hari Raya Idul Adha 1439 H kepada teman-teman yang merayakan!

Selamat liburan (lumayan) panjang kepada teman-teman yang berkesempatan menikmatinya 😀

.

Tahun ini saya berlebaran haji di perantauan. Bukan pertama kalinya, tapi yang tahun ini cukup berkesan karena saya diajari untuk memotong daging dendeng. Sedap? Iya. Tapi ternyata proses pembuatannya cukup panjang dan melelahkan. Pantas saja harganya di warung padang cukup mahal sodara-sodara!

Awalnya daging dipilah-pilah dulu oleh Tante saya, pisahkan gajihnya, mana yang untuk dendeng, mana yang untuk dendeng lambok (beda lho ternyata), mana yang mau dibuat empal (yang sempat saya salah pahami bahwa empal adalah hati goreng -___-).

Tante saya ini jago sekali untuk urusan masak makanan Padang banget. You mau rendang, gulai, lado ijo, sebut aja endas bambang pokoknya. Ibu saya pernah bilang, “Belajar masak sana sama Makwo-mu (tante– red)”. Ya karena beliau yang paling mendekati rasa masakannya dengan almarhum kakek, paling telaten, dan lumayan sabar mengajari juga menurutk sedangkan ibuku itu tipe yang cekatan sekaligus tak sabaran. Jadi kalo mau membantu beliau ya dulu sering dibilang ngerecokin. Trus anaknya pundung ndak mau masak lagi  #ahlesyan 😆

Ditambah lagi urusan perbumbuan itu entah kenapa memusingkan bagi saya. Dulu ya cabe, bawang, jahe, laos, ketumbar semua digiling pake tangan. Belum lagi kalau memeras santan.. eww lah ya.. pokoknya dulu malaassss betul kalau ada acara di rumah atau di tempat nenek.

Nah, sekarang malah rindu. Apalagi tante saya suka cerita bagaimana sulitnya dulu beliau mempersiapkan makanan. Kelas 6 SD semua urusan dapur sudah beliau yang menangani karena kakek dan nenek sibuk jualan. Belum lagi adik-adiknya yang banyak dan bandel (termasuk ibu saya heheh). Khas cerita keluarga era 60-an dulu lah. Mungkin karena itu beliau jadi lebih telaten dan sabar. Atau karena karakter masing-masing saja, yang jelas saya kok mau saja disuruh ikut membantu memotong daging dendeng ya?

.

Panjang betul mukadimahnya 😆

Gambarannya memang seperti itu, kenapa jomplang sekali kemampuan memasak antara saya dan ibu apalagi kakek-nenek. Sampai sekarang ibu (kelihatannya) masih tidak menuntut, saya juga tidak terlalu peduli.

“Enak lho rasanya bisa masak untuk yang tersayang.”

Sempat ada yang bilang begitu. Saya juga pernah baca entah di mana, mungkin di status medsos teman sekolah dulu. Tapi ya gitu.. saya masih tidak terlalu peduli.

“Masakan adalah bentuk rasa kasih..”

Hayah mbuh! Ya memang belum tertarik saja memasak untuk orang lain. Memang saya masih egois kok makanya hubungan antarmanusia-nya gagal terus hehehe

.

Kembali ke dendeng, kemarin berhubung dikompori kalimat “Ndak berani coba kamu?” ya kok malah mau belajar memotong dendeng.

Bisa? Susah bos! Kalau bentuk potongan dagingnya agak bulat, ya masih bisa dikira-kira mau memotong ke arah mana. Potongan yang memanjang juga masih enak walau saya masih kesulitan memperkirakan tebal-tipisnya. Belum lagi pisau yang mesti tajam. Plus keahlian saya yang masih nol besar.

Sama halnya kalau kamu menyerahkan pekerjaan kepada orang yang hanya punya alat saja (pisau), keahlian saja (pengalaman/teknik memasak) atau keinginan saja; punya ketiganya akan selesai cepat dan memuaskan sedangkan kurang satu saja di antara ketiga elemen tersebut ya pekerjaan akan lebih lambat selesainya. Serahkan pada ahlinya lebih baik kan?

“Tapi kalau tidak dicoba, kapan bisanya? Toh untuk makan sendiri. Yang sabar motongnya, kalau daging terlalu tebal di satu tempat, lihat ke arah mana bisa ditipiskan. Ojo kesusu, coba dulu.” kata Tante.

Iya sih. Mungkin memang sudah saatnya untuk mencoba. Untuk siapa? Ya untuk diri sendiri saja dulu. Daripada fokus ke pikiran “Kok saya ga bisa-bisa juga ya?” lebih baik mencoba saja dulu, saat ketemu rintangan ya diurai satu-satu dan bagaimana cara menyelesainkannya. Ga usah ruwet mikir duluan.

Curhat mbanya?

Iya.

Hehe.

Hore dulu dong cuy! Saya sudah pernah memotong daging untuk dendeng nih! Besok-besok mau mencoba mengurai ruwetya masalah yang dibuat sendiri ah #eh

Advertisements

5 thoughts on “Belajar Memotong Dendeng

  1. Alasan kita samaaa… Aku malas belajar masak karena waktu kecil dulu tiap mau bantu ke dapur pasti adaaaa aja yang bikin Mama marah-marah. Dan Mama kalau udah marah itu nggak asik. Tapi sekarang ya mau gak mau harus belajar. Malu sama umur. 😆

  2. hoo cuma dipotong tipis toh, kirain perlu digetok2 dulu sampai pipih (entah dendeng atau empal yang digebukin dulu, lupa).

    jaman sekarang sudah banyak tool yang tersedia, ga perlu capek ngulek bumbu karena sudah ada food processor, sempat terkesima dulu pas tau ada yang namanya pisau buat menguliti wortel/kentang/dll. pakai cara manual banyak yang kebuang sama kulitnya karena ga bisa motong tipis :p

    • Yang digetok ada juga.
      Kalo yang ini dendeng kering, abis dipotong tipis, dikasih sedikit bumbu dan cuka terus dijemur. Biar awet, masaknya bisa nanti-nanti.

      Nah iya, kemajuan peralatan sungguh memudahkan. Aku denger cerita mau masak gulai aja dari pagi baru siang selesainya.. keburu laper deh itu

      • yang bikin lama bukan prep worknya kan? tapi proses masaknya yang emang direbus berjam2.

        dulu di rumah waktu masak rawon malah baru dimakan besoknya, rasanya lebih enak ketimbang dimakan waktu baru jadi, lebih manis dan beda gitu kuahnya waktu udah dipanasin beberapa kali :p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s