Membaca Pram..

“..ternyata tidak sesulit yang saya bayangkan”

Berawal dari gonjang-ganjing Iqbaal akan memerankan Raden Mas Minke di film Bumi Manusia, rasa penasaran memantik saya untuk mulai membaca Tetralogi Buru. Minimal Bumi Manusia dulu lah, sebagai bekal memahami perdebatan netizen di linimasa saat filmnya diputar nanti. Sebagai anak #mainstreamgariskeras tentu saya berusaha mengikuti trend. Kudu wajib harus!

Hehehe.

Dulu saya pernah mencoba membaca Panggil Aku Kartini Saja tetapi mandeg di tengah jalan lalu tertinggalkan begitu saja. Mungkin bukunya sudah menguning. Sejak itu saya beranggapan karya-karya Pram akan sulit saya cerna. Ternyata rasa penasaran dan tidak mau ketinggalan mampu mengalahkan rasa “antipati” terhadap sastra Indonesia. Mohon maaf sebelumnya kalau saya salah menempatkan istilah “sastra Indonesia” yang penuh perdebatan itu. Referensi saya pun masih sangat sedikit; sebatas tugas resume masa SMP dulu. Selanjutnya saya cuma mampu membaca yang nge-pop.

Hehe.

Kurang lebih tiga bulan waktu yang saya perlukan untuk menamatkan Tetralogi Buru. Terhitung sangat cepat bagi saya karena diselingi bacaan dan kesibukan lain. Ahelaaahhh (((kesibukaaann))) 😆

Prasangka awal terhadap karya Pram ini terbantahkan. Tidak sulit dicerna, mengalir mulus, cukup membuat penasaran. Saya paham kenapa buku ini sempat dilarang sekaligus bertanya-tanya apakah buku ini bisa mempengaruhi pola pikir saya bila dibaca belasan tahun lalu saat masih haus-hausnya akan beragam bacaan.

Gimana ya… meski muatan politisnya kental sekali, terutama Jejak Langkah dan Rumah Kaca, tidak lantas membuat saya “tercerahkan”, tidak gundah, tidak pula menggebu-gebu. Biasa saja. Cenderung tidak paham kenapa tokoh-tokohnya terkadang berbuat (atau berpikir) absurd. Mungkin perbedaan zaman ya? Berkali-kali saya harus mengingatkan diri “Ini setting-nya seabad lalu lho.. masih terjajah kita..”

He…

Selain Tetralogi Buru, dalam rentang tiga bulan itu juga saya sempat membaca tulisan adiknya Pram, Koesalah. Satu buku berkisah tentang pengalaman Koesalah bersekolah di Rusia. Buku lainnya ya tentang Pram. Kesan saya masih mirip;  cukup menyenangkan untuk dibaca. Selanjutnya mungkin saya akan membaca karya Pram yang lain. Setidaknya menyelesaikan Panggil Aku Kartini Saja.

Advertisements

2 thoughts on “Membaca Pram..

  1. tiga bulan di tengah kesibukan untuk 4 buku setebal itu sih termasuk cepat kok, ceritanya juga cukup menarik terutama rumah kaca yang
    tak disangka beda POV tapi masih menjelaskan post-event dari trilogi sebelumnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s