(Sok) Memahami Nasehat Edda

2010 February 8

Saya baru separuh jalan membaca “Sang Penyihir Dari Portobello” sehingga pemahaman belum sempurna. Ditambah, saya tidak terlalu mengerti dengan banyak detil dalam cerita tsb. Akan tetapi ada satu bagian yang langsung menarik perhatian, yaitu bagian penceritaan Edda;

… kelompok  sangat penting karena mereka memaksa kita untuk berkembang. Jika kau sendirian , yang bisa kau lakukan hanyalah menertawakan dirimu sendiri, tapi jika kau bersama orang lain, kau akan tertawa kemudian segera bertindak. Kelompok menantang kita. Kelompok memungkinkan kita memilih kesamaan dan rasa suka. Kelompok menciptakan energi kolektif, dan kesenangan datang lebih mudah karena orang-orang saling memengaruhi.

Tertohok, atau lebih tepat menohokkan diri? :lol: yah.. saya pikir ada benarnya juga. Terlalu lama sendirian tanpa berkelompok bisa berakibat kikuk pergaulan. Padahal dalam beberapa hal, keluwesan bergaul lah yang bisa menyelamatkan kita dari masalah. Tunggu… kita? Oke, coret, ganti. Padahal dalam beberapa hal, keluwesan bergaul lah yang bisa menyelamatkan saya dari masalah. Selain itu, kelompok kerja bisa membantu saya untuk berdiskusi dan menggali pengetahuan yang belum saya ketahui. Lagipula, terus-terusan ketawa sendiri bisa-bisa disangka gila betulan. Hmmm.. baiklah. Partners, aku dataaaannngggggggg :-* :lol:

Tapi… ada kelanjutannya;

Biasanya…

2010 February 3
by Takodok!

Tadinya saya ingin membuat postingan serius alias sok melankolis seperti biasanya :roll: , apa daya kejadian sore ini mementahkan segalanya.

Ada apa? Dalam perjalanan pulang ke kos saya mampir ke toko langganan untuk membeli minuman ringan. Seperti biasa, matahari bersinar terik, cuaca sangat panas, membuat lelah :| Tidak seperti biasa, saya duduk dulu di bangku yang telah disediakan di toko tsb.

Memang biasanya gimana? Biasanya sih minum sambil jalan :mrgreen: Kali ini capek jeh. Jalan ke kos saya jauuuhhhhh, jadi istirahat sebentar lah. Tak lama kemudian datang seorang cowok. Tuktuk, dia menuju rak Chitato. Diambilnya satu bungkus kecil, dirobek bungkusnya, lalu makanlah ia sembari berjalan mondar-mandir. Habis satu bungkus, tuktuk, diambilnya lagi bungkus kedua, robek, makan, tetap sembari mondar-mandir. Tuktuk, sambil mengunyah ia menuju lemari minuman dingin, eh.. tidak jadi diambil. Tuktuk, dia masih mondar-mandir di depan saya, melihat-lihat deretan makanan kecil di meja depan.

.

Oh, rasanya dia sudah mengambil bungkus ketiga. Hebat juga anak cowok ya kalo makan, pikir saya. Ujug-ujug datang ke warung, makan secepat kilat, selesai, kenyang, cao! Kalau cewek, ummm… saya pribadi sih lebih suka makan di rumah. Kalau pun makan di luar cari tempat yang nyaman, dan proses makannya lamaaaaaa. Kalau bersama teman ya ngobrol, kalau sendiri ya sibuk memperhatikan orang lain :mrgreen:

.

Eh jadi melantur. Melantur sembari memperhatikan polah cowok itu. Hmmm.. ketika minuman saya hampir habis saya baru sadar, kursi yang saya duduki kan panjang dan masih tersisa cukup ruang untuk cowok itu duduk. Minimal makan sambil duduk gitu, nak. Atau memang kebiasaan dia makan sambil berdiri? Atau… dia tidak mau duduk di sebelah saya?

Apaaaa?

Oke. Mari kita tes saja. Kalau saya pergi apakah dia akan duduk di kursi tsb?

Maka saya pun beranjak pergi.

.

.

Ternyata betul. Baru beberapa langkah, ia langsung duduk di kursi tadi :twisted:

Huh.

.

Nah, sekarang pertanyaannya adalah, “kenapa cowok itu tidak mau duduk di sebelah saya?” Apakah;

(a)    karena saya bukan muhrimnya. *beuh! Padahal kursi itu panjaaaaanggggg. Gak bakal batal deh wudhu-nya*
(b)   muka saya begitu lecek. Dia takut kepada saya.
(c)    tampang saya jutek dan seram blas. Dia takut kepada saya.
(d)   dia khawatir kursinya bisa patah. Plus, dia takut kepada saya.
(e)    … silahkan isi sesuka hati [*]

Dan inilah dia si cowok suka mondar-mandir itu. ….

Handy Cat

2010 January 27
tags: ,
by Takodok!

Saya tidak pernah benar-benar suka kucing. Jika secara tak sengaja bertemu kucing yang lucu dan bersih tentu spontan saya akan berseru sok imut, ” Ih lucuuuuuuuuu >o<”. Sebaliknya, jika berjumpa kucing garong dengan mata jelalatan mencari apa yang bisa dicuri otomatis saya akan bilang, “Shuuuuuhhh!”

Saya tidak phobia kucing tapi benci di-lendot-in, padahal mereka termasuk makhluk manja dengan keangkuhan tingkat tinggi. Masalahnya, beberapa kucing yang sering mampir ke kosan akhir-akhir ini centil dan suka gelendotan. Bahkan saya curiga salah satunya punya ketertarikan absurd dengan jempol kaki saya karena setiap keluar kamar tatapannya tertuju pada kaki saya. Mengerikan.

Oh, dan semalam saya dikejutkan oleh garukan di pintu kamar disusul sebuah benda putih menelusup di bawah celah pintu. Tiba-tiba dan bergerak cepat. Coba tebak apa?

Retak

2010 January 20
tags: ,
by Takodok!

Ia pernah retak. Tak bisa diperbaiki lagi. Potongan serpihannya masih sempat tersimpan beberapa lama sebelum akhirnya dibuang karena memang tiada guna lagi.

Ia memang retak tapi terus ku pergunakan karena ia pemberian teman yang baik walau kadang menyebalkan.

Ia retak, cantik, dan bisa mengakibatkan luka. Tapi ia salah satu kesayangan. Ia tak akan ku buang.

Lalu retaknya bertambah. Lagi-lagi karena kecerobohan. Retak di dua sisi. Makin berbahaya. Tetap saja cantik, dan kesayangan.

.

.

Ia retak, cantik dan kesayangan. Tapi berbahaya.

Andai Ia Tahu

2010 January 17
by Takodok!

Sabtu siang di pertengahan Januari yang panas Ia duduk di antara teman-teman yang asyik menonton film perjuangan yang skenarionya ditulis oleh bule-bule tampan. Tangannya menggenggam handphone. Sebuah buku tergeletak di sampingnya. The Alchemist, rekomendasi dari teman jauhnya.

Sebenarnya Ia sudah pernah menonton film tsb. Ia tidak terlalu terkesan sehingga berniat menonton berkali-kali. Ia cuma tidak ingin sendiri di kamarnya, membaca buku bagus, atau tidak bagus bin membosankan, seperti Sabtu yang sudah-sudah.

.

.

read more…