Feeds:
Posts
Comments

Ruang Kosong

Pernah tidak kamu berusaha mengisi ruang kosong yang tercipta akibat suatu kehilangan? Pasti pernah. Lantas.. apa yang kamu lakukan? Bercerita pada sahabat? Sudah saya lakukan. Bersenang-senang dengan teman? Sudah. Memanjakan diri sendiri? Me time? Sering. Pergi ke tempat baru? Oh, sudah juga.

Kesemuanya memang menyenangkan untuk dilakukan, tapi tak bisa juga dilakukan terus-menerus. Boros. Ya uang,  ya energi, ya waktu.

Lha, memang butuh waktu kan?

Kalau waktu sendiri sih tak masalah, tapi bagaimana dengan waktu orang lain? Merepotkan orang walau teman sendiri juga tak enak.

Lalu, bagaimana?

Entahlah. Mungkin saya tetap akan mengambil jalan standar ; Get busy living or get busy dying. Kalau perlu setiap menit pikiran saya harus sibuk bekerja, fisik letih tak jadi masalah, melakukan kesenangan yang cuma mengalihkan pikiran sementara juga tak apa. Dan bila tetap saja ada satu menit menjelang tidur tercuri sehingga yang terpikir adalah ruang kosong tadi, saya cuma bisa berdoa semoga pertahanan yang sudah rapuh tidak kembali jebol.

Terkesan terlalu tidak puas dan terlalu banyak menuntut dan mengeluh ya? Biar saja. Memang begitulah adanya :|

Nah, kalo kamu, apa yang kamu lakukan untuk mengisi ruang kosong tsb? Atau.. tidak perlu diisi dan dibiarkan begitu saja sebagai monumen peringatan? :P

Gambar diambil dari sini.

Welcome July!

Sudah 6 bulan lho tahun 2009 ini berjalan. Apa yang sudah Anda jalani pasti berharga, bahkan kegagalan yang bertubi-tubi. Saya? Oh, I got nothing but everything. Di satu sisi saya masih jalan di tempat, di sisi lain saya sudah berkali-kali jatuh lalu berusaha bangkit lagi. Pengalaman yang cukup berharga :)

Jujur saja,  saya sudah lelah dengan masalah yang itu-itu saja, tapi saya yakin bahwa tidak ada yang bisa menghentikan keruwetan ini kecuali diri saya dan pikiran saya sendiri. 6 bulan ke depan adalah waktu yang lumayan untuk melakukan apapun yang saya mau, baik atau buruk. Hanya saya sendiri yang mampu menjadikan masa depan saya patut dibanggakan atau hanya ketololan yang berulang. Mudah-mudahan bukan yang kedua ya? ;)

I’ll try my best. Thanks to om Galeshka yang sudah mengingatkan saya pagi ini :)

Well, welcome July!

Gambar diambil semena-mena dari sini.

Sometimes in life, there really are bonds form that can never be broken. Sometimes you really can find one person who will stand by you no matter what. May be you’ll find it in the spouse and celebrate it with your dream wedding. But there’s also a chance that one person you can count on for a lifetime. A one person who knows you, sometimes better than you know yourself, is the same person who has been standing beside you all along.

-Marion : Bride Wars-

Oh, tidak perlu lebih diperjelas kan? :P

Pria Hujan itu datang “tiba-tiba”, menghibur, kata-katanya manis, apalagi untuk seorang gadis kikuk. Walau hujan selalu menyertai kehadirannya, wajahnya selalu cerah layaknya mentari. Ketika ia bertanya tentang kematian nadanya menyenangkan sehingga gadis  makin rindu akan maut. Kepolosan dan tingkah lucu sok imutnya kadang tak masuk akal tapi masih dapat diterima. Pria Hujan itu tampan, benar… :mrgreen:

Yang terpenting, kedatangannya memberi warna baru. Bukan hanya abu-abu yang identik dengan mendung dan hujan itu sendiri, melainkan warna-warni segar benderang; biru, hijau, coklat tanah, pelangi. Warna-warni setelah hujan. Juga warna harapan dan kesempatan baru. Pria hujan pembawa keberuntungan. Pria hujan dengan kata-kata manis, berkata bahwa eksistensi si gadis berarti. Pria Hujan yang memuji senyuman si gadis kikuk.

Tak sulit untuk melihatmu. Mudah untuk melihatmu saat kau tersenyum (Chiba kepada Kazue Fujiki)

Pria hujanyang tampan itu Shinigami.

Pernahkah teman merasa bahwa bahagia dan kesenangan itu menguras energi? Letih yang terasa setelah tawa riang, apakah pertanda lelah semata atau kah.. sesuatu yang lain? Sesuatu seperti.. sebuah kepura-puraan, sebuah usaha untuk terlihat bahagia sehingga membutuhkan energi ekstra untuk menghasilkan tawa. Pantas saja merasa lelah hati kalau begitu…

Dan di sana lah saya berdiri. Di stasiun yang mulai sepi setelah keriuhan para penumpang yang turun dari kereta. Di depan teman-teman yang masih tersisa, saya tetap tertawa dan bercanda sembari mulai merasa aneh. Euforia wisata bagai mimpi yang baru saja berlalu masih pekat tetapi saya merasa keragu-raguan mulai merasuk seperti serbuan Dementor, perlahan tapi pasti menyerap kebahagiaan yang hanya segelintir.

Sepanjang perjalanan pulang, mulai dari dalam angkot, berputar-putar di Pasar Raya demi titipan teman, kembali ke kos, bahkan sampai hari ini saya berusaha menelaah apa yang sebenarnya saya rasakan. Senangkah saya? Apa saya sudah mulai jadi orang yang suka berpura-pura? Munafik kah saya? Maka ada baiknya saya telusuri kembali jejak kenangan hari itu, setidaknya berusaha memahami apa yang terjadi. Mari… tapi panjang lhoooo ;)

Postingan sebelumnya memang terlalu pendek dan terbukti menghasilkan multiinterpretasi. Bukan berarti tulisan yang panjang tidak berpotensi banyak penafsiran sih ya… :mrgreen:

Kutipan kemarin saya ambil dari komik Sunset On Third Street 3 chapter “Giliran Ayah”. Ada baiknya saya tuliskan garis besar ceritanya karena saya masih belum menemukan scanlation-nya :)

Seperti chapter-chapter lain dalam ketiga seri ini, setting cerita “Giliran Ayah” terjadi pada jaman Showa, ketika nilai-nilai tradisional masyarakat Jepang masih sangat kental. Posisi Ayah sebagai kepala keluarga sangat dihormati, dan ibu berperan sebagai motor ketertiban dan kedamaian rumah tangga :mrgreen: Well, sekarang mungkin masih ada keluarga dengan fungsi seperti ini, tapi boleh dibilang jarang. Tapi itu masalah lain, nanti saja kita bahas *siapa juga suruh bahas sekarang* :roll:

Cerita dibuka dengan adegan sebuah keluarga, yang terdiri atas Ayah, Ibu, Hiroko (kakak), dan Hiroshi (adik), sedang makan malam bersama. Tiba-tiba lampu rumah mereka mati akibat sekring putus. Didaulat lah sang Ayah untuk mengganti sekring. Ayah pun mengganti sekring, walau sembari gerundel-gerundel senang akibat pujian Ibu. Lampu menyala kembali. Anak-anak kagum pada ayah.

[Ah, biasa saja itu. Toh cuma mengganti sekring. Jangan protes dulu. Mari lanjutkan ceritanya ;) ] Yuk! Tapi panjang lhoooo..

Bujuk dan Puji

Hiroko, sebagai perempuan kau juga mesti tahu teknik memanfaatkan pria, membujuk sambil memuji.

-Sunset On Third Street 3-

DSC00726

Benarkah? Rasanya sih iya :P

Entah yaaa, menurutmu bagaimana ;)

Older Posts »