Tahun Kesebelas

Menurut WordPress, hari ini sudah 11 tahun saya menumpang di sini. Yaaayyy tahun depan lulus SD! :mrgreen:

11 tahun lalu saya mungkin akan melompat kegirangan bila diberi tau cuma butuh waktu satu dekade lebih sedikit untuk bisa menulis blog di kamar kos yang nyaman di kota yang dulu hampir menjadi tempat saya menimba ilmu. Ternyata begini aja loohh mbak sis! Berarti impian keinginan saya untuk.. yah saya bahkan tidak tau maunya apa sekarang :mrgreen:

.

11 tahun lalu saat masih remaja belasan tahun (yeah i’m that young when i start this humbo humbo) saya menganggap menulis blog itu keren. Sekarang saya kira masih keren, karena saya masih konsisten di sini. Biasanya kata konsisten dan saya tidaklah linier 😆

.

11 tahun. Doh! Kalau ngomongin Jikustik atau 1 Litre of Tears, separuh teman sekelas saya niscaya akan merespon dengan “Huh?”

huh

some of them even call me “Bu”–not that i mind

11 tahun berlalu dan saya masih melabeli diri sebagai student. Berani-beraninya! Well, I did a lot of things I said I wouldn’t do. So please, do roll your eyes people!

rolling-my-eyes-so-hard
Continue reading

Advertisements
Posted in D Private | Tagged , | 21 Comments

[Film] Pengabdi Setan

Seakan belum kapok sok berani nonton film horror, beberapa hari lalu saya kembali terjerumus pada genre ini. Yah.. dijerumuskan tepatnya. Adalah Opat yang bertanggungjawab. Awalnya sederhana, Opat bilang tanya, “Mbak nonton Pengabdi Setan yuk! ngabdi setan mau ga?”

Setengah terkejut atas ajakan ga sopan pertanyaan ini saya pun menjawab, “Astaghfirullah ukhti.. musyrik kamu!”

Ya tapi akhirnya luluh juga saya. Sudah jauh-jauh disamperin ke sini kok ga ditemenin kan ya. Ga memuliakan tamu, ga diakui cucu oleh almarhum kakek saya nanti. Hehe. Continue reading

Posted in D Reviews | Tagged , , | 6 Comments

[Film] It

Setelah sibuk galau sendiri karena harus beradaptasi di kota baru, akhirnya saya bisa melakukan aktivitas familiar; nonton di bioskop. Sendiri, dan ditawari popcorn–daripada sendiri katanya. Ya kayak popcorn bisa mengusir sepi aja mbaknya ngece nih!

Tapi saya kalem kok waktu itu. Toh mbaknya hanya menjalankan tugas.

Ga kalem karena ternyata saya salah mengatur waktu. Niatnya mau nonton Kingsman malah ga cocok jadwalnya. Ya sudah daripada balik ke kosan lalu nugas mending saya nonton apa yang ada saja ya kan? :mrgreen:

Pilihan jatuh pada It, yang sebenarnya sudah tayang sejak bulan lalu. Padahal waktu diajak nonton oleh adik dan teman kerja dulu saya tolak mentah-mentah.

“Ogah yaaa nonton horror yaa.. Bayar mahal untuk dikagetin buat apa?”

Ya gitu.. manusia memang gampang terbolak-balik hatinya. Continue reading

Posted in D Commento, D Reviews | Tagged | 20 Comments

Tentang Pindah [4] : Gamang Beradaptasi, Lagi

Terhitung 4 tahun 24 hari sejak tulisan penuh nostalgia diterbitkan di blog ini, saya kembali pindah ke kota lain. Bisa dibilang proses kali ini lebih lancar. Saya banyak ditolong oleh keluarga dan teman-teman bahkan orang yang tidak pernah saya temui sebelumnya. Bersyukur dong. Kudu. Wajib. Selayaknya.

Urusan perasaan mellow yang menghinggap, sebagaimana yang terjadi dulu, ya… datang lagi. Walau tidak sama dengan sebelumnya.

Belum seminggu, saya sudah rindu rumah. Sudah hampir beli tiket pulang. Tapi kenyataan hidup keburu menampar keras. Tiketnya mahal cuy! 😐 Aku kan ndak punya gaji lagi… *sigh*

.

Lalu urusan barang-barang yang harus saya bawa melintasi Selat Sunda (lagi!), kali ini juga lebih mudah. Total saya hanya membawa 3 tas seberat 15 kg. Baju, termos, berkas-berkas, hampir membawa coffee press, dan tentu saja buku.

Kali ini saya hanya membawa dua buah buku yang belum selesai dibaca. Sementara buku yang berkaitan dengan studi malah (sengaja) tidak dibawa. Saya sebenarnya resah memikirkan buku-buku yang sebagian besar belum terbaca. Rasanya mubazir. Tapi kalau berlarut memikirkan kenapa sampai tidak terbaca, ya kapan membaca(buku)nya? Hehe.

Yang tidak dibawa tak usah berlarut dikenang. Toh masih banyak yang harus ditata di fase peralihan ini. Kalo berjodoh pasti bersua lagi. Asal jangan kembali menumpuk kenangan barang sih :mrgreen:

.

Jujur saya tidak mau menancapkan akar terlalu dalam di kota ini. Toh nantinya saya tidak menetap lama di sini. Kemungkinan besar. Entahlah. Never say never kata dek Bieber. Kita lihat saja nanti. 

Kalau mau dirasa-rasa, gamang hati ini memikirkan masa depan. Ketidakpastiannya kental betul. Yah.. meski takut ya tetap harus berjalan. Jadi anak rantau tidak mudah. Gamang memang masa adaptasi ini. Bila sepi dan bosan melanda ada baiknya bila kali ini saya lebih jujur dan pandai menilai kemampuan diri. Belajar untuk tau waktunya meminta pertolongan, karena ada orang-orang baik yang mau membantu jika saya meminta.

Semoga kali ini lebih baik.

Posted in D Private | Tagged , | 17 Comments

Lingkaran

Saya suka membaca. Buku apa saja boleh. Komik, genre fiksi fantasi, biografi. itu awalnya. Lalu ketika tumpukan buku yang menanti untuk dibaca meninggi, saya mulai mencari alasan untuk menunda.
Sibuk kerja.
Pulang kerja sudah terlalu letih dan hanya ingin tidur-tiduran.
Sambil menonton drama atau reality show Korea masih sanggup.

Belakangan saya suka menonton drama dan reality show Korea. Kalau sudah ketagihan, bisa berhari-hari saya terpaku menonton satu judul saja.
Lalu saya mulai mengikuti beberapa judul drama dan reality show. Saya unduh beberapa episode, lalu terlupakan. Akhirnya dihapus karena membuat penuh kartu memori saja.
Lagipula saya bosan.

Saya memang sering bosan. Bahkan untuk kategori hobi saja bisa bosan. Kalau bosan pada pekerjaan, ya dapat uang dari mana?
Hehe.

Lama-lama saya bosan merasa bosan.
Cari kegiatan baru; mewarnai, bikin kue instan, nulis blog.
Tapi nanti bosan juga.

Ya sudah. Kan masih nanti bosannya. Hehe.

Posted in D Private | Tagged | 19 Comments

Makan Sendiri

Saya selalu berpikir bahwa saya ini introvert. Tapi saya tak punya masalah bergaul dengan rekan kerja. Sangat bawel malah. Tapi introvert pun bisa berlaku demikian. Lalu saya malas menggali lebih jauh definisi introvert-ekstrovert. Yang jelas saya masih suka melakukan apa-apa sendiri.

Nonton ke bioskop sendiri. Jalan pagi sendiri. Makan sendiri, sambil baca komik/buku atau sekedar main hp.

Lalu saya lihat deretan kursi di ruangan tempat saya duduk. Kosong. Hanya ada mbak dan mas kasir. Pikiran saya hinggap ke berbagai topik. Continue reading

Posted in D Private, Uncategorized | Tagged , | 14 Comments

Rasisme Rasional

Memasuki pertengahan bulan kedua 2017, saya baru meyelesaikan tiga buku bacaan dan menyisakan sekita 6-7 buku yang masuk status sedang dibaca. Salah satunya adalah Logika Hidup yang ditulis oleh Tim Harford.

Kisah kebersamaan saya dengan buku ini cukup menyedihkan, karena ia termasuk buku terbengkalai dan menguning sebelum selesai terbaca. Sedih ya? :mrgreen:

Berhubung lupa apa topiknya, saya mulai baca ulang pada awal tahun ini. Pergerakan halaman terbacanya lamban sekali, padahal topiknya lumayan menarik. Terutama saat saya sampai pada bab enam yang berjudul “Bahaya Rasisme Rasional”.

.

Wtf! Kok merasionalkan rasisme? Bukannya jahat ya rasisme itu?

.

Yang saya tangkap dari penjabaran penulisnya, rasional diartikan “insentif menguntungkan”. Ia berpendapat bahwa manusia adalah makhluk rasional. Bahwa setiap keputusan atau kejadian gila sekalipun, ada proses pengambilan keputusan yang rasional. Karena manusia akan melakukan tindakan yang menguntungkan dirinya.

Contoh di bukunya spektakuler bahkan untuk ukuran Amerika sana pada tahun 2000-an awal. Meningkatnya kebebasan remaja, penggunaan kontrasepsi, teori permainan (judi), tingkat perceraian, tingkat hunian perkotaan, semua dijabarkan secara masuk akal (jika mengikuti pola pikir penulisnya).

.

Jangan selalu pakai logika, mbak! Hatimu mana?

.

Bahkan para makhluk idealis pun terjebak dalam situasi irasional, yang pada akhirnya ada penjelasan rasionalnya.

Bingung ya? Hehe. Begini kurang lebih ilustrasi singkatya: Continue reading

Posted in D Fauna, D Plus, D Reviews, Uncategorized | Tagged | 4 Comments