Di Catatan Takodok

Sekerat Cerita Penanda

Things You Already Know #4: Filosofi Celup

Saya punya seorang paman yang punya kebiasaan aneh dan sering jadi bahan candaan sekeluarga bila sedang berkumpul. Si Paman suka mencelupkan apapun penganan kecil yang akan disantap ke dalam minuman apapun yang ada di hadapannya. Sebutlah kopi. Roti kukus teman ngopi pasti terjun secara paksa ke dalam kopi. Masih wajar. Roti gabin dan teh pun okelah. Biskuit coklat dengan air putih? Errrr… yah masih bisa lah. Kalau kerupuk dengan teh susu?

“Hah?! Bisa ya?” Bisa-bisa saja dong.

Saya sendiri bukannya tidak punya kebiasaan semacam itu. Celup-mencelup penganan kecil ke dalam minuman rasanya jamak dilakukan siapa saja, meski saya tidak tau apa orang Inggris suka mencelupkan biskuit ke dalam teh Earl Grey mereka. Atau apakah ada yang pernah mencelupkan kacang ke dalam bir? Entahlah.

.

Saat ini saya sedang menikmati Monde Butter Cookies (bukan iklan, tapi memang enak) dengan segelas kopi. Bukan kopi instan seperti biasa tapi kopi merek lokal yang wanginya harum membangkitkan semangat. 1 sendok teh gula, 1 sendok teh kopi, dan 2 sendok makan krimmer jadilah kopi (abal-abal). Iseng, saya celupkan Monde ke dalam kopi sebelum dimakan. Enak juga. Tatapan beralih pada kerupuk kemplang. Coba celupkan, sedikit saja. Ternyata… aneh. Rasa ikannya hilang, rasa kopi pun hambar. Ada kue bawang di toples. Coba celupkan, satu saja. Dan… huwaaaaaaa! Rasanya jadi kaya. Aneh, bukan tak enak, tapi tetap saja bukan paduan yang pas. Kue bawangnya jadi kurang renyah, rasa kopi menambah kaya rasa si kue bawang. Lalu kenapa tidak pas? Peran si kopi hilang. Lebih baik tambahkan saja bubuk kopi ke dalam proses pembuatan kue bawang (hey itu ide bagus! Bisa dicoba nanti).

 

Sekarang pertanyaannya, apa kabar minuman kopi saya sekarang? Bagaimana rasanya? Berubahkah? Pastinya. Tapi lidah saya yang bebal ini tidak terlalu merasakan bedanya. Tetap rasa kopi (kebanyakan krimer). Setiap penganan yang saya celupkan tadi pun rasanya sama saja ketika ia tidak saya celupkan. Masih rasa biskuit, rasa ikan, rasa kue bawang. Berubah, tapi tidak kentara. Berarti masing-masing mereka punya rasa yang dominan sehingga cirinya tidak terbuang. Itu, atau indera pengecap saya yang tidak beres.

 

Lain halnya dengan teh dan roti gabin, atau penganan apapun yang punya rasa manis. Tehnya tentu saja teh manis hangat, bukan es teh, ice lemon tea atau variannya. Teh manis hangat titik. Siapa yang belum pernah mencelupkan roti gabin ke dalam the manis hangat? Rugi deh kamu. Hehe. Lalu coba minum teh manis hangat tadi setelah makanan manis yang kamu celupkan ke dalamnya habis. Bagaimana rasanya? Hambar. Teh manis hangat bermetamorfosis jadi teh dingin yang tidak manis.

.

Begitulah, ada jenis-jenis minuman dan makanan yang bila disatukan akan meniadakan rasa salah satunya. Seperti dua anak manusia yang bergaul akrab di suatu kesempatan libur panjang kemudian berpisah, pulang ke kampung halaman masing-masing dan salah satunya dicap rentan terhadap perubahan bin terlalu mengagungkan budaya luar. Ironis, karena manusia memang wajib beradaptasi agar tidak punah dan proses tersebut pasti berujung pada perubahan. Orang pasti berubah, hanya waktunya saja yang berbeda. Not now but soon kata Imogen Heap *halaaahhh*:mrgreen:

.

Interaksi antarmanusia mirip proses celup-mencelup ini. Ada yang dominan, ada yang akan meniadakan rasa salah satunya atau malah saling meniadakan. Beruntunglah manusia yang masih mempunyai indera pengecap yang berfungsi normal. Ia bisa mendeteksi perubahan tsb. Dalam hal interaksi tadi apa indera pengecapnya? Ya hati dan otak, muara sinyal-sinyal perubahan diterjemahkan untuk kemudian direspon.

Tapi, ada kalanya indera pengecap berikut hati dan otak tidak bekerja secara sempurna. Bisa jadi karena ia mencapai batas cicip-mencicip rasa. Ia lupa bagaimana rasa awal, rasa murni. Semua bercampur aduk. Chaos.

Kalau sudah begini, bagaimana? Apa yang mesti dilakukan?

Telan saja kopinya. Tak usah permasalahkan rasa. Tanpa rasa mungkin hidup kurang berwarna, tapi setidaknya kau masih hidup. Bosan hidup? Mati saja. Beres.

.

.

Ah, ternyata sok berfilosofi susah juga ya?😉

 

9 comments on “Things You Already Know #4: Filosofi Celup

  1. christin
    October 18, 2010

    berfilsafat emang susah… ngopi ajalah yuk :))

  2. Mizzy
    October 18, 2010

    Well jadi inget, dulu pernah bereksperimen dengan mencampurkan berbagai jenis minuman. Susu campur sprite.. enak. Kopi campur jeruk peras.. wedeh, ancur!!😆. Tapi kemudian saya berhenti bereksperimen sejak diberitahu kalau-kalau zat yang diampur itu malah bisa bersifat toksik bagi tubuh😛 .

    Yup, itulah resikonya berekperimen, termasuk urusan celup-mencelup. Enak, sukur… ga enak, jangan dicoba lagi:mrgreen: .

  3. TamaGO
    October 18, 2010

    eh saya juga hobi nyelup2in makanan gitu, terutama makanan yg kandungan airnya dikit seperti roti tawar, cracker, kue marie, gabin, dan sejenisnya

    saya juga hobi ngemix minuman. Teh pagi hari yg sisa 1/2 gelas dipake buat bikin milo tanpa membuang sisa teh, sorenya sisa campuran teh milo itu dipake buat bikin kopi.

    rasanya? entahlah sepertinya saya tidak terlalu peduli :p

  4. Takodok!
    October 18, 2010

    @christin
    yuuuuukkkkk! *nenteng-nenteng mug ke jogja*😆

    @Mizzy
    nah, tadinya saya mau bahas interaksi antarzat juga, tapi ribet, kepanjangan dan saya lagi malas riset bahan *alaaahhh alesan*😆
    Lagipula, siapa yang terlalu perduli pada akibat jelek percampuran nyeleneh? Tubuh manusia ini hebat kok. Kalaupun akhirnya tumbang gegara satu materi, ya nasib lah itu *dikeplak*😆

    @TamaGO
    tama memang petualang sejati! Saluuuttttt:mrgreen:
    berikutnya saya mau nyoba ayam goreng dicelup ke pepsi, toh akhirnya nyampur juga di perut ya? Ah, lupa nambahin poin ini nih:mrgreen:

  5. Chic
    October 19, 2010

    aduh pilosopi mu kali ini ga masuk ke otak ku Des, maklum otak teflon:mrgreen:
    *kabur ke starbak*

  6. devieriana
    October 19, 2010

    saya suka juga nyelup-nyelupin makanan ke minuman, atau kerupuk ke sayur. Rasanya, ya lumayan enak-enak aja.. Tapi kalau ayam dicelupin ke kopi, waw, jadi ayam negro:mrgreen:

    Semunya ada “padanannya”, belum tentu segala sesuatu yang “dicampur” itu akan menghasilkan rasa yang enak, atau sesuai dengan kita. Boro-boro, kalau dipaksakan dan kitanya nggak kuat bisa masuk RS kan ya? eh ini ngomong apa sih?😆

  7. rukia
    October 19, 2010

    … ayam goreng dicelupin ke pepsi…

    ini enak loo~~ *menurut indra pengecap saya*
    cm ayamx ditusuk-tusuk dulu biar msk pepsinya, kl langsung celup ga rasa
    *sering ngelakuin*
    :mrgreen:

  8. pradannayanti
    October 25, 2010

    sarapan saya: piebis Monde dicelup air putih.😀

    salam kenal…🙂

  9. warm
    October 26, 2010

    filosofinya keren,
    tapi kerupuk dicelupin ke minuman,
    udah kebayang ajaib rasanya😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on October 18, 2010 by in D Commento and tagged .
%d bloggers like this: